Ketika Hantu Kehilangan Habitatnya: Dari Suzanna ke Annabelle yang Error Dapur

by - 12:00 AM


Ada satu fase dalam hidup saya ketika saya berhenti menonton film horor. Bukan karena saya makin religius, bukan pula karena iman makin tebal. Alasannya lebih sederhana dan mungkin lebih menyedihkan: saya bosan. Bukan bosan pada hantu, tapi bosan pada cara manusia memperlakukan hantu.

Waktu kecil, horor itu bernama Suzanna. Ia tidak sekadar muncul, ia hadir. Hantunya tidak banyak dialog, tidak butuh efek ledakan suara, tidak sibuk menjatuhkan panci atau menyalakan kompor sendiri. Ia berdiri saja sudah cukup. Rambut panjang, wajah pucat, tawa yang tidak minta izin pada gendang telinga. Ia adalah jurig yang saya kenal—bukan karena saya sering bertemu, tapi karena lanskapnya akrab: kebun, kuburan, rumah sunyi, jalan setapak yang kalau malam jadi terlalu panjang untuk sekadar dilalui.

Suzanna menakutkan bukan karena ia menyerang, tapi karena ia tidak perlu menyerang. Antropolog Clifford Geertz (1973) menyebut ini sebagai thick description: makna lahir dari konteks budaya. Hantu Suzanna bekerja karena ia lahir dari ekologi ketakutan lokal. Ia tidak asing. Ia tetangga yang wafatnya tidak beres.

Lalu saya tumbuh. Dunia horor ikut global. Datanglah film-film luar negeri dengan teknologi tinggi dan suara yang seperti mau memarahi penonton. Dari semua itu, hanya The Conjuring (2013) yang membuat saya duduk lebih rapat ke kursi. Bukan karena hantunya hebat—jujur saja, Bathsheba itu kalah ketika diteriaki pendeta—tapi karena suasananya. Temaram. Sunyi. Bunyi kecil yang datang dari ruang kosong. Psikolog Daniel Kahneman (2011) menyebut ketakutan seperti ini bekerja di System 1: reaksi otomatis, bukan hasil berpikir rasional. Saya tidak takut karena saya paham ceritanya, saya takut karena tubuh saya diajak curiga.

Setelah itu? Horor berubah jadi festival efek. Datang Annabelle, boneka yang seharusnya diam tapi malah sibuk menghidupkan peralatan dapur. Ini bukan cerita hantu, ini cerita rumah tangga dengan instalasi listrik bermasalah. Kompor nyala sendiri, pintu kebuka sendiri, lemari jatuh sendiri. Kalau dipikir-pikir, yang harus dipanggil bukan dukun, tapi tukang listrik.

Horor Indonesia lebih absurd lagi. Ada satu film yang membuat saya menyesal sudah menyisihkan dua jam hidup: hantunya tidak sadar dia hantu. Ia baru tahu setelah membaca koran yang memberitakan dirinya sendiri meninggal akibat kecelakaan. Saya tertawa bukan karena lucu, tapi karena bingung. Sejak kapan jurig butuh klarifikasi media?

Di titik itu saya sadar: horor modern kehilangan habitatnya. Antropolog Mary Douglas (1966) menjelaskan bahwa sesuatu menjadi mengganggu ketika ia “tidak pada tempatnya”. Hantu menakutkan ketika ia hadir di ruang yang seharusnya tidak ia isi. Masalahnya, film horor modern justru menempatkan hantu di mana-mana, sampai ia tidak lagi istimewa. Ketika semuanya bisa jadi horor, tidak ada lagi yang benar-benar horor.

Film horor sekarang terlalu sadar ingin menakut-nakuti. Ia seperti orang yang memaksa lucu. Efeknya kebalik. Freud (1919) dalam esainya tentang The Uncanny menyebut ketakutan muncul ketika sesuatu yang familiar menjadi asing secara halus, bukan ketika yang asing dipamerkan berlebihan. Suzanna bekerja karena ia mengganggu keseharian. Annabelle gagal karena ia sibuk pamer kemampuan teknis.

Mungkin itu sebabnya saya berhenti. Bukan karena saya tidak percaya hantu, tapi karena saya tidak lagi percaya cara manusia menceritakan hantu. Horor berubah menjadi slapstick tanpa refleksi, sensual tanpa konteks, teriakan tanpa keheningan. Padahal ketakutan sejati justru lahir dari ruang kosong, dari jeda, dari hal-hal yang tidak dijelaskan.

Hari ini, horor justru lebih sering saya temukan di tempat lain: notifikasi WhatsApp tengah malam, tagihan yang lupa dibayar, atau kenangan masa kecil yang tiba-tiba muncul tanpa efek suara. Tidak ada jumpscare, tapi lama mengendap.

Mungkin horor bukan soal hantu. Mungkin horor adalah ketika makna hilang, tapi efek tetap dipaksakan. Dan di situ, saya memilih berhenti menonton. Karena ketakutan yang paling mengganggu bukan yang berisik, tapi yang pelan, akrab, dan tidak bisa di-skip.


You May Also Like

0 komentar