Mengapa Tidak Ada Rumah Sakit Ayah?

by - 12:00 PM

(Catatan Antropologi Sinis tentang Maskulinitas, Ketahanan Palsu, dan Obat Warung)

Saya pernah sampai pada satu pertanyaan sinis, yang muncul entah dari mana—mungkin dari kelelahan, mungkin dari terlalu banyak berpikir receh:

Mengapa hanya ada Rumah Sakit Ibu dan Anak?Kenapa tidak pernah ada Rumah Sakit Ayah?

Pertanyaan ini tentu tidak ilmiah.
Tidak berdasar data.
Tidak lewat FGD.
Murni satire.

Tapi seperti semua satire yang baik, ia mengandung rasa gatal kecil.

Ayah Tidak Boleh Sakit

Dalam narasi kultural yang saya kenal, ayah adalah penopang hidup.
Dan penopang hidup tidak punya hak untuk tumbang.

Kalau ayah sakit fisik?
Solusinya jelas dan singkat: minum obat warung, istirahat sebentar, lalu wajib sembuh.

Tidak ada ruang drama.
Tidak ada cuti eksistensial.
Karena kalau ayah lama sakit, narasi keluarga ikut goyah.

Dalam antropologi gender, ini bukan hal baru. Raewyn Connell (1995) menyebutnya hegemonic masculinity: konstruksi maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk kuat, tahan banting, dan tidak merepotkan. Tubuh ayah bukan milik ayah sepenuhnya—ia milik sistem.

Tapi Kalau Mentalnya yang Kena…

Di sinilah satire saya bekerja.

Kalau ayah sakit mental—bukan sedih biasa, tapi benar-benar runtuh—barulah sistem berkata: “Oh. Ini harus ditangani.”

Dan lucunya, penanganannya sering kali terpisah.
Bukan rumah sakit umum.
Bukan ruang empati keluarga.

Ada Rumah Sakit Jiwa.

Saya tidak sedang mengecilkan fungsi RSJ—justru sebaliknya. RSJ adalah institusi penting. Tapi secara simbolik, ini menarik: ayah boleh sakit, asal jangan setengah-setengah.

Kalau cuma capek, stres, kosong, atau merasa gagal—itu belum cukup valid.
Harus rusak sekalian supaya pantas ditangani.

Ini tentu hiperbolik. Tapi dalam psikologi maskulinitas, Michael Kimmel (2006) mencatat bahwa banyak laki-laki menunda mencari bantuan karena budaya menormalisasi penderitaan diam-diam. Emosi dipendam, bukan dikelola.

Ibu, Anak, dan Ruang Legitimasi

Mengapa ada Rumah Sakit Ibu dan Anak?

Karena secara budaya: ibu boleh lemah, anak boleh rapuh, dan keduanya layak dirawat secara sistemik.

Ayah?
Ayah diharapkan kuat sebagai default.

Dalam bahasa antropologi: tubuh ayah adalah invisible infrastructure. Ia baru terlihat saat runtuh. Dan saat runtuh, sering kali sudah terlambat.

Tentu Ini Bercanda… Tapi Tidak Sepenuhnya Kosong

Saya ulangi:
ini bukan teori.
bukan kritik kebijakan kesehatan.
ini satire receh.

Tapi satire selalu bekerja dengan cara yang sama:
membesar-besarkan pola supaya kita sadar bahwa pola itu ada.

Mungkin kita tidak butuh Rumah Sakit Ayah secara literal.
Tapi mungkin kita butuh ruang yang mengizinkan ayah mengaku capek sebelum hancur.

Ruang di mana ayah boleh berkata: 

“Saya tidak apa-apa… tapi saya juga tidak kuat.”

Tanpa harus minum obat warung dulu.
Tanpa harus menunggu jadi krisis.

Penutup Sinis yang Lembut

Jadi kalau suatu hari ada spanduk bertuliskan: “RS Ayah: Silakan Masuk Sebelum Sok Kuat”

Saya mungkin akan tertawa.
Lalu diam sebentar.
Lalu berpikir: oh… ini kok masuk akal ya.

Satire memang begitu.
Ia bercanda sambil menunjuk.
Dan berharap, setidaknya, kita mau melihat 😄

You May Also Like

0 komentar