Manekin Dilarang, Kiai Dadakan Diperbolehkan: Catatan Antropologis tentang Ekspektasi Berlebih dan Manusia yang Kebetulan Hadir

by - 6:00 PM

Saya menyuruh karyawan gudang duduk di depan kamera itu bukan karena ambisi antropologis tingkat dewa. Alasannya banal: kebijakan platform.

Live tidak boleh kosong dari manusia.
Manekin tidak boleh.
Kursi kosong tidak boleh.

Manusia harus ada.
Walaupun bingung.
Walaupun diam.
Walaupun cuma duduk seperti patung bernapas.

Jadi saya pipis tidak sampai dua menit, meninggalkan satu manusia sah secara algoritmik di depan kamera. Secara platform: aman. Secara sosial: bencana kecil.

Dan di situlah saya sadar, ini bukan cuma soal live commerce. Ini soal bagaimana masyarakat memperlakukan “kehadiran” sebagai “kompetensi.”

Persis seperti ketika saya pulang dari asrama.

Di kampung, status saya otomatis naik.
Bukan naik iman, tapi naik ekspektasi.

Lulusan asrama =
✔️ Syech kecil
✔️ Mufti dadakan
✔️ Paham waris
✔️ Bisa thaharah tingkat lanjut
✔️ Siap pimpin tahlil
✔️ Kalau ada kematian, siap talqin mayit

Padahal ya…
saya cuma lulus sekolah.
Sama seperti lulusan SMAIT.
Bedanya cuma satu: label sosial.

Anak SMAIT kalau tidak bisa pimpin tahlil: wajar.
Anak pesantren kalau salah baca doa: “loh kok gitu?”

Antropologi menyebut ini role over-attribution—ketika satu identitas dilekati terlalu banyak fungsi sosial (Bourdieu, 1986).
Bukan karena orang itu hebat, tapi karena masyarakat butuh figur yang bisa diandalkan, lalu memadatkan harapan ke satu kepala.

Saya beruntung.
Saya belajar cukup banyak, jadi tidak terlalu memalukan.
Walau jujur saja, banyak juga teman pesantren yang ngajiannya masih kacau—dan itu normal. Mereka manusia, bukan ensiklopedia berjalan.

Sama seperti karyawan gudang saya.

Ia sah duduk di depan kamera.
Tapi tidak sah dituntut spill.

Sama seperti saya sah disebut “anak pesantren,”
tapi tidak otomatis sah jadi rujukan semua masalah hidup, mati, dan harta warisan.

Psikologi sosial menyebut ini expectancy effect (Rosenthal, 1968):
ketika ekspektasi terlalu tinggi, kegagalan kecil terasa seperti dosa besar.

Padahal masalahnya bukan pada orangnya.
Masalahnya ada di kepala kolektif yang kebablasan berharap.

Saya jadi sadar, manusia sering tidak kelelahan karena tugas,
tapi karena peran yang dipaksakan tanpa negosiasi.

Host live harus ngomong.
Santri harus pinter agama.
Anak pintar harus selalu benar.

Padahal manusia itu modular.
Ia jago di satu ruang, kikuk di ruang lain.

Karyawan gudang saya jago logistik.
Saya jago ngoceh.
Dan kalau kami ditukar tempatnya tanpa persiapan,
yang terjadi bukan kolaborasi—tapi kekacauan.

Sejak itu, saya lebih hati-hati memberi peran.
Dan lebih pemaaf pada diri sendiri.

Kalau sekarang ada yang nanya hukum waris dan saya ragu,
saya jawab jujur: “Saya cek dulu.”

Karena saya belajar satu hal penting dari live, pesantren, dan toilet dua menit itu:

Hadir tidak sama dengan ahli.
Duduk di depan kamera tidak sama dengan siap bicara.
Dan lulusan asrama tidak otomatis jadi kiai.

Ekspektasi yang terlalu tinggi itu bukan tanda hormat.
Sering kali, itu cuma malas memahami manusia apa adanya.

Dan manusia—seperti live commerce—
butuh konteks,
butuh peran yang pas,
dan kadang…
butuh izin pipis tanpa harus jadi ahli apa pun. 😄

You May Also Like

0 komentar