Epilog: Manusia yang Dibentuk oleh Lampu Merah dan Media yang Terlalu Lurus
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan yang tidak heroik, tidak inspiratif, dan tidak cocok jadi kutipan motivasi Instagram: saya begini adanya. Manusia yang dibentuk oleh dua kutub yang tampak saling menghina satu sama lain—slapstick koran Lampu Merah dan narasi media lurus yang dingin seperti laporan cuaca. Yang satu mengajarkan saya cara menertawakan kekacauan, yang lain mengajarkan saya cara tidak tenggelam di dalamnya.
Lampu Merah mengajari saya satu hal yang tidak pernah diajarkan sekolah atau khutbah: marah itu boleh, asal tidak sok suci. Marah bisa dikeluarkan dengan cara goblok, absurd, tidak elegan, asal tidak menyakiti siapa pun. Dari sana lahir umpatan seperti “astagfirullah, ketek ular”—umpatan yang tidak melukai etnis, hewan, agama, atau silsilah keluarga siapa pun. Umpatan yang fungsinya bukan menyerang, tapi membuka katup. Setelah itu, selesai. Menguap. Hidup lanjut. Anak tertawa. Istri menggelengkan kepala. Dunia tidak runtuh.
Sementara media lurus—Tempo, Kompas, dan kawan-kawan—memberi saya rem. Mereka mengajarkan bahwa tidak semua hal pantas ditertawakan. Ada tragedi yang harus dibaca dengan jarak, dengan kalimat panjang, dengan nada dingin agar tidak berubah jadi tontonan. Dari sana saya belajar batas. Bahwa slapstick bukan untuk genosida, bukan untuk kematian massal, bukan untuk luka yang belum kering. Lampu Merah sendiri tahu batas itu. Mereka tidak bercanda soal perang dunia. Mereka bercanda soal manusia yang gagal mengelola syahwat, uang, dan akal sehat.
Dua kutub ini akhirnya bertemu di ruang keluarga saya, tepatnya di cara saya menjadi orang tua. Saya tidak ingin anak saya tumbuh sebagai manusia beku yang rapi di luar tapi berisik di dalam. Saya juga tidak ingin ia tumbuh sebagai granat emosi tanpa pin. Maka saya memilih kalimat pendek yang terasa dewasa justru karena kesederhanaannya: marah boleh, seperlunya. Sedih boleh. Senang silakan. Benci juga manusiawi. Tapi semua emosi itu bukan untuk dipelihara seperti hewan ternak. Mereka datang, dipahami, lalu dilepas.
Saya sadar betul, generasi kami dulu dibesarkan dengan depresan instan bernama “jangan marah”. Hasilnya bukan kedewasaan, tapi ketumpulan. Banyak dari kami tumbuh jadi manusia yang tidak tahu sedang apa di dalam dirinya sendiri. Maka saya memilih jalur yang mungkin terlihat aneh: mengizinkan anak melihat ayahnya marah, tapi juga melihat ayahnya selesai dengan marah itu. Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada drama. Tidak ada moral tinggi. Hanya contoh hidup yang apa adanya.
Dalam hal parenting, saya mungkin bukan role model. Tapi saya tahu satu hal: anak tidak butuh orang tua sempurna. Anak butuh orang tua yang jujur secara emosional dan punya batas. Orang tua yang tidak mengubah rumah jadi arena UFC hanya karena anak dicakar temannya. Orang tua yang tidak ikut turun ke gelanggang sambil teriak seperti suporter fanatik. Cukup awasi dari jauh. Pastikan tidak brutal. Suruh baikan. Selesai.
Jika ada yang bertanya saya ini tipe orang tua apa, mungkin jawabannya tidak ada di buku mana pun. Saya bukan parent yang sepenuhnya tsundere, bukan juga honne atau tatemae versi kamus antropologi. Saya hanya manusia yang pernah hidup terlalu absurd untuk berpura-pura rapi, dan pernah hidup terlalu rapi untuk menertawakan semua hal tanpa batas.
Lampu Merah memberi saya tawa sebagai mekanisme bertahan. Media lurus memberi saya konteks agar tawa itu tidak jadi racun. Dari keduanya, saya belajar satu hal yang kini saya wariskan ke anak saya: emosi bukan musuh. Yang berbahaya itu emosi yang tidak diberi jalan keluar.
Dan jika suatu hari anak saya marah lalu mengumpat dengan kata-kata aneh yang tidak menyakiti siapa pun, mungkin saya hanya akan tersenyum kecil. Karena saya tahu persis dari mana itu datang. Dari rumah. Dari contoh. Dari seorang ayah yang belajar memahami dirinya sendiri dengan cara yang sedikit goblok, tapi jujur.
0 komentar