Ruang Netral dan Kegaduhan Simbol: Catatan Seorang Warga yang Ingin Bernapas
Ada satu kegelisahan yang akhir-akhir ini sering mampir, bukan sebagai amarah, tapi sebagai rasa tidak enak yang sulit dijelaskan. Ia tidak datang dengan poster, tidak dengan teriakan, tapi dengan pertanyaan sederhana yang terus berulang: kenapa ruang bersama terasa makin penuh oleh simbol?
Saya hidup di masyarakat yang beragam. Itu fakta. Sejak kecil saya sudah akrab dengan perbedaan—agama, budaya, cara berpikir. Jadi ketika ada yang langsung menyimpulkan kegelisahan ini sebagai anti-kemanusiaan, saya justru bingung. Yang saya rasakan bukan kebencian, melainkan kelelahan.
Belakangan, isu LGBTQ sering muncul dalam bentuk yang oleh banyak orang—termasuk saya—terasa bukan lagi sebagai cerita personal, tapi sebagai narasi kolektif. Bukan sekadar “ada”, melainkan ditampilkan. Masuk ke olahraga, pendidikan, tontonan, bahkan ruang publik yang seharusnya netral. Di titik itu, kepala saya mulai bertanya: ini pengakuan keberadaan, atau sudah menjadi propaganda?
Saya tidak menolak manusia. Saya gelisah pada simbol.
Kegelisahan ini sebenarnya sederhana: kami ingin ruang netral tetap netral. Kalau bisa, bukan hanya simbol LGBTQ, tapi semua simbol identitas—agama, ideologi, orientasi—tidak mendominasi ruang bersama seperti mal, hiburan umum, atau fasilitas publik. Karena setiap simbol yang tampil, membawa ego kolektif di belakangnya. Dan ketika ego berdiri, konflik biasanya menyusul.
Ironisnya, di negeri ini simbol agama sudah lama masuk ruang publik dan diterima sebagai hal wajar. Spanduk hari besar agama, dekorasi institusi, ucapan selamat dari lembaga negara—semua dianggap normal. Bahkan sering dibungkus dengan kata “toleransi”. Tapi di sisi lain, saya melihat paradoks yang membuat saya tersenyum pahit: toleransi dibicarakan, sementara korupsi pengadaan ucapan hari besar agama berjalan rapi dan senyap.
Di situ saya sadar: masalahnya bukan hanya soal LGBTQ. Masalahnya adalah bagaimana simbol dipakai sebagai alat legitimasi moral, bukan sebagai ekspresi personal.
Sebagai orang “straight”, saya akui ada kebingungan yang jujur. Soal identitas, soal kesehatan, soal dampak sosial jangka panjang. Kebingungan itu sering diperas menjadi kata-kata kasar di ruang publik—“sakit”, “menyimpang”—padahal di dasarnya itu hanyalah ekspresi panik kolektif: kami tidak tahu harus menaruh ini di mana. Dan manusia, ketika bingung, cenderung mereduksi.
Saya sendiri berdiri di dua posisi sekaligus:
sebagai titik berangkat—warga yang hidup dalam nilai yang ia pahami,
dan sebagai pusat pengamatan—yang mencoba tidak tenggelam dalam ego kelompok.
Di posisi itu, saya tidak merasa anti kemanusiaan. Saya hanya anti ketika satu identitas merasa perlu tampil dominan di ruang yang seharusnya tidak berpihak. Karena netralitas, bagi saya, bukan penyangkalan eksistensi, melainkan cara paling sunyi untuk hidup berdampingan tanpa saling memaksa untuk mengerti lebih jauh dari yang kita mampu.
Mungkin istilah yang saya pakai belum sempurna. Mungkin cara saya bernapas masih terdengar defensif. Tapi setidaknya, dengan menyebut “ruang netral”, tensi di kepala saya turun. Saya tidak perlu memusuhi siapa pun. Saya hanya sedang menjaga jarak agar tidak larut dalam kegaduhan simbol.
Dan mungkin, di tengah semua ini, yang paling jujur untuk saya akui adalah:
saya tidak sedang mencari siapa yang benar,
saya hanya sedang mencari ruang untuk bernapas.
0 komentar