Etnografi Seekor Monyet Jujur: Catatan Lapisan Bawah tentang Korupsi, Jambu, dan Tidur Nyenyak

by - 12:00 PM

Saya belajar soal korupsi bukan dari buku tebal, bukan dari seminar antikorupsi ber-AC dingin, tapi dari pengalaman yang lebih rendah martabatnya: jadi staf, jadi penonton, dan sesekali jadi monyet. Ya, monyet jambu. Karena di hidup ini, pelajaran paling jujur sering datang dari peristiwa receh yang tidak pernah masuk laporan pertanggungjawaban.

Tiga tahun saya bekerja di pemerintahan provinsi. Uang di sana tidak jatuh dari langit, tapi mengalir seperti air bocor dari pipa tua. Tanda tangan palsu, laporan yang tidak pernah dibaca, foto kopi yang tiba-tiba nilainya naik kelas sosial. Tidak ada polisi moral. Tidak ada alarm. Yang ada hanya kalimat penghibur: “Tenang aja, semua juga begitu.” Normalisasi adalah ibu kandung dari segala kebobrokan, kata Hannah Arendt sejak 1963 ketika membedah banalitas kejahatan—bahwa kejahatan besar jarang lahir dari niat jahat, tapi dari kepatuhan kecil yang diulang-ulang.

Saya tidak pernah merasa sebagai koruptor. Tapi saya tahu betul rasanya diajak korupsi berjamaah. Uang tutup mulut. Jangan sampai yang di atas korupsi sendirian. Gotong royong versi APBD. Saya bekerja sepenuh hati, mengerjakan laporan bapak-bapak PNS yang lebih rajin menonton Netflix daripada membuka Excel. Saya mengisi tubuh laporan, mereka mengisi nama di sampul. Mark up anggaran menjadi semacam olahraga ringan: tidak melelahkan, tapi bikin ketagihan.

Di batin saya ada jangkar sederhana, warisan ibu: kerja apa saja, asal tidak melanggar hukum agama dan negara. Ketika jangkar itu mulai terangkat pelan-pelan, saya sadar kapal ini sedang hanyut. Maka saya pamit. Tidak heroik. Tidak masuk berita. Saya keluar dan mulai dagang. Profesi yang prestisenya rendah, tapi jaraknya dekat dengan tidur nyenyak.

Tidur nyenyak itu nikmat. Ini bukan kalimat motivator LinkedIn, tapi laporan lapangan. Orang dengan uang korupsi mungkin bisa beli kasur mahal, tapi tidak bisa beli jeda di kepalanya. Bukan karena merasa berdosa—itu terlalu romantis—melainkan karena batin tidak bisa bohong. Otak manusia, kata Daniel Kahneman (2011), punya kapasitas terbatas. Ketika sebagian besar energinya dipakai untuk menyusun alibi, mengingat kebohongan, dan memikirkan skenario jika ketahuan, sisanya tinggal ampas. Amat cukup untuk bikin mobil nabrak pohon.

Saya melihat sendiri polanya. Uang hasil korupsi jarang mau diam. Ia selalu mencari pintu keluar. Ada atasan yang mulai rajin mark up, lalu istrinya keguguran, uangnya habis di rumah sakit, psikologinya terganggu. Bukan karena Tuhan sedang marah, tapi karena rumah tangga yang dibangun di atas kecemasan kronis. Ada yang mobilnya ringsek karena kurang fokus. Uangnya aman—aman pindah ke bengkel. Ada yang menafkahi keluarga dari uang kotor, anaknya jadi nakal, uangnya habis di rehabilitasi. Sosiolog Émile Durkheim menyebut kondisi ini anomie sejak 1897: ketika norma kabur, gejalanya muncul bukan di pidato, tapi di tubuh dan keluarga.

Bahkan di level receh pun mekanismenya bekerja. Saya staf, saweran korupsi saya cuma ratusan ribu. Tidak cukup untuk vila, tapi cukup untuk service motor yang tiba-tiba bermasalah. Teman lain invest uang saweran ke peternakan. Mati semua. Seolah uang itu punya naluri migrasi sendiri. Antropolog David Graeber (2011) menulis bahwa uang bukan sekadar alat tukar, tapi relasi sosial yang membawa beban moral. Uang dari relasi yang timpang jarang tenang; ia menuntut kompensasi, entah lewat stres, konflik, atau biaya tak terduga.

Lalu ada momen pencerahan paling akademik sekaligus paling kampung: maling jambu. Dulu saya pernah di fase itu. Maling jambu tetangga. Pas makan, mata selalu awas. Setiap gesekan daun terdengar seperti sirene. Tubuh di dahan, tapi jiwa di pos ronda. Suatu hari saya ubah strategi: permisi baik-baik. Tetangga tertawa, “Naik aja, makan sesukamu.” Di situ saya benar-benar jadi monyet. Bertengger, memamah biak jambu, tanpa waswas. Tidak ada kamera, tidak ada paranoia. Bourdieu mungkin akan menyebutnya habitus (1977): ketika praktik selaras dengan struktur moral, tubuh menjadi tenang.

Dari situlah saya paham: pola ini universal. Dari maling jambu sampai korupsi birokrat, skalanya berbeda, mekanismenya sama. Kesalahan kecil yang dinormalisasi akan naik kelas tanpa rasa bersalah. Ketika ketahuan, pelaku berteriak dizalimi. “Yang lain juga.” Dan sering kali, pahlawan antikorupsi bukanlah yang paling suci, tapi yang tidak kebagian jatah. Ia ngember ke wartawan. Kalau wartawan disogok, berita mati. Kalau tidak, lahirlah skandal nasional. Michel Foucault (1975) sudah lama mengingatkan bahwa kebenaran sering lahir bukan dari moralitas, tapi dari relasi kuasa yang retak.

Sekarang saya dagang. Saya belajar eufemisme, menghindari disfemisme, belajar psikologi perempuan, memahami antropologi lintas pulau. Saya belajar bahwa nama berakhiran Sitompul bukan “teteh”, dan I Gede bukan “Uni”. Dagang mengajari saya satu hal penting: uang halal memang tidak sakti, tapi efek sampingnya ringan. Sakit ya sakit, minum parasetamol. Anak demam ya demam biasa. Penyakitnya tidak perlu Wikipedia.

Maka kesimpulan saya sederhana, nyaris memalukan untuk disebut teori: saya lebih memilih uang ratusan juta hasil dagang daripada jutaan hasil korupsi. Bukan karena saya suci, tapi karena saya suka tidur nyenyak. Dan mungkin, dalam skala antropologis, itulah kemewahan paling langka di republik ini. 😅

You May Also Like

0 komentar