Dari Aci di Colok ke Rice with Fried Onion: Catatan Lapangan tentang Nama, Rasa, dan Harga yang Mendadak Naik Kasta

by - 6:00 PM

Saya selalu curiga pada makanan yang namanya kebanyakan mikir.

Di kampung, makanan tidak sok puitis. Ia jujur, fungsional, dan apa adanya. Cilok ya cilok: aci di colok. Cireng: aci di goreng. Cilung: aci di gulung. Tidak ada metafora. Tidak ada storytelling. Tidak ada “experience”. Yang ada: ini aci, ini prosesnya, silakan kunyah.

Orang Sunda tampaknya penganut mazhab semiotika praktis. Nama makanan bukan branding, tapi petunjuk teknis. Seperti manual alat: ringkas, informatif, tidak menjanjikan surga. Claude Lévi-Strauss (1966) dalam The Culinary Triangle menjelaskan bahwa makanan adalah bahasa kebudayaan. Nah, bahasa kampung itu fungsional. Tidak pakai metafora berlebihan karena yang penting kenyang, bukan terkesan.

Tapi ada juga yang eksistensial. Seblak, misalnya. Itu bukan nama makanan, itu kondisi batin. Tiseblak hate—hati yang kaget. Dan benar saja, seblak datang membawa pengalaman sensorik yang mirip serangan mendadak: pedas, panas, tekstur campur aduk, visualnya seperti bahan sisa dapur yang tidak sengaja bertemu jodoh. Kerupuk direbus, bakso digoreng. Ini bukan chaos, ini filsafat.

Bakwan disebut bala-bala karena tampilannya seperti kerusuhan sayur. Tidak rapi, tidak estetik, tapi jujur. Kalau orang Sunda terlalu aware estetika, mungkin cilok sudah ganti nama jadi Chill-OK. Untung belum.

Lalu saya duduk di restoran, dan di situlah terjadi anjir moment antropologis. Saya membaca menu. Ada “Ice Tea”. Saya mikir keras: ini teh bentuk es atau es rasa teh? Tapi harga menjawab segalanya. Lima ribu. Murah. Aman. Saya pesan.

Datanglah segelas es teh tawar. Rasanya… ya es teh. Tapi secara psikologis berbeda. Begitu namanya naik kelas jadi Ice Tea, ia bukan lagi minuman pelepas dahaga, tapi simbol status minimalis. Pierre Bourdieu (1984) dalam Distinction bilang, selera bukan soal lidah, tapi soal kelas. Teh yang sama, air yang sama, gula yang sama (atau malah tidak ada), tapi bahasa menggeser makna dan harga.

Di Sunda, nasi itu kejo atau sangu. Kadang gratis, kadang numpang. Di warteg namanya nasi, lima ribu. Di restoran namanya rice, sepuluh ribu. Kalau naik level lagi jadi rice with fried onion, lima belas ribu. Yang datang? Nasi putih ditaburi bawang goreng. Plis. Ini bukan inflasi, ini linguistic markup.

Bahasa asing bekerja seperti filter Instagram: tidak mengubah substansi, tapi menaikkan persepsi. Sapir dan Whorf (1956) lewat hipotesis relativitas linguistik mengingatkan bahwa bahasa membentuk cara kita memaknai realitas. Dalam konteks ini, bahasa juga membentuk kesediaan membayar.

Restoran China lebih ekstrem. Xiao long bao. Kedengarannya seperti makhluk mitologi. Padahal itu bakpau isi daging dan kuah. Di Sunda juga ada: comrooncom di jero. Sama-sama kantong berisi kejutan. Bedanya, yang satu terasa seperti camilan sore, yang satu terasa seperti ritual.

Maka antropologi recehnya sederhana:
makanan yang namanya asing, naik kasta.
makanan yang namanya lokal, tetap merakyat.

Bukan karena rasanya beda, tapi karena narasinya beda. Roland Barthes (1957) dalam Mythologies menjelaskan bahwa budaya modern gemar membungkus hal biasa dengan mitos agar tampak istimewa. Ice tea bukan lagi es teh. Ia mitos kecil tentang gaya hidup.

Kalau suatu hari saya jadi pengusaha kuliner, mungkin saya akan jual cilok. Tapi namanya bukan cilok.
Namanya: Steamed Tapioca Sphere with Heritage Skewer.
Harga? Ya naik dikit lah 😅

Karena di dunia modern, yang kita makan bukan cuma makanan.
Kita makan nama, bahasa, dan ilusi kelas.

You May Also Like

0 komentar