Taksonomi User AI Berdasarkan Bau Batinnya

by - 6:00 PM


(Catatan Lapangan Seorang Pengguna yang Tidak Ingin Terlalu Pintar, Tapi Juga Tidak Mau Tolol)

Saya mulai sadar: masalah utama dalam konten berbasis AI bukan pada mesinnya, tapi pada bau batin penggunanya. Ada tulisan yang rapi, panjang, kelihatan cerdas, tapi setelah dibaca, muncul satu pertanyaan sederhana:

“Kamu mau ngomong apa dengan tulisan ini?”

Pertanyaan itu tidak kejam. Itu pertanyaan antropologis.
Karena manusia—bahkan yang lagi pakai AI—biasanya punya niat, meskipun kadang niatnya sendiri belum selesai ia pahami.

Saya tidak mau sok mengklasifikasikan orang lain. Terlalu jauh baunya.
Jadi saya mulai dari yang paling dekat: diri saya sendiri.


Spesies 1: User Resonansi Awal

Ciri bau: kagum, sedikit euforia, napas cepat
Perilaku: “Wah, AI pinter banget ya”

Ini fase bulan madu.
Saya pernah di sini. Saat AI menjawab cepat, rapi, dan presisi, kognisi saya mengangguk-angguk. Ada rasa dimengerti. Ada rasa akhirnya ada teman diskusi yang tidak menyela.

Dalam psikologi, ini mirip fase resonance—ketika sebuah konsep atau alat terasa “kena” (Rogers, 1961).
Masalahnya bukan di kagumnya. Masalah muncul kalau berhenti di sini.

Kalau berhenti di sini, tulisan akan berbau:

“Ini keren, tapi kosong.”


Spesies 2: User Struktur

Ciri bau: mulai rapi, suka istilah, senang kerangka
Perilaku: “Oh, berarti begini strukturnya…”

Ini fase ketika AI mulai dijadikan alat bantu berpikir, bukan sekadar mesin jawab.
Saya mulai sadar: kalau bahan mentah saya biasa saja, hasilnya juga biasa saja.

Di sini mulai muncul referensi, istilah akademik, dan kadang—saya akui—gaya Tempo wannabe.
Rapi, dingin, intelek.

Masalahnya, kalau kebanyakan struktur, batin bisa tercekik.
Tulisan jadi benar, tapi tidak hidup.


Spesies 3: User Disonansi

Ciri bau: sinis, curiga, defensif
Perilaku: “Ah, AI bikin manusia bego”

Saya juga pernah mampir ke sini.
Melihat AI berpikir secepat kilat itu bikin minder. Ada rasa terancam.
Leon Festinger (1957) menyebut ini cognitive dissonance: ketika realitas baru mengganggu identitas lama.

Di fase ini, orang sering menyerang alatnya, bukan prosesnya.
Padahal yang terganggu bukan kecerdasan, tapi ego kognitif.

Kalau tulisan lahir dari fase ini, baunya: marah, tapi tidak tahu marah ke siapa.


Spesies 4: User Dekonstruksi

Ciri bau: mulai santai, mulai bercanda
Perilaku: “Ya udah lah, ini kan cuma alat”

Nah, di sini saya mulai ketawa.
Saya sadar: AI itu seperti excavator nyemplung ke sawah. Aneh, iya. Tapi sawahnya tetap sawah. Yang menentukan hasil panen tetap petaninya.

Saya berhenti menganggap AI sebagai ancaman atau penyelamat.
Ia hanya perpanjangan tangan berpikir, bukan pengganti batin.

Dalam antropologi teknologi, ini mirip fase domestication (Silverstone, 1992): teknologi yang tadinya asing, pelan-pelan dijinakkan.


Spesies 5: User Integrasi (Bau Paling Manusia)

Ciri bau: receh, reflektif, tidak sok
Perilaku: “Saya bawa bahan, kamu bantu ngaduk”

Di fase ini, saya tidak lagi sibuk membuktikan pintar.
Saya juga tidak sibuk menyangkal bantuan.

Tulisan saya boleh loncat-loncat, absurd, nyeleneh.
Ada koran Lampu Merah nyelonong di antara paragraf Tempo.
Ada stoikisme dapur, ada slapstick, ada filsafat yang nyempil sambil ketawa.

AI di sini tidak “menghasilkan makna”.
Makna sudah ada—berantakan, cair, kadang lebay—AI cuma bantu merapikan alur tanpa mematikan bau.


Penutup (yang tidak rapi, tapi jujur)

Jadi kalau ada yang tanya: “Kamu mau ngomong apa dengan tulisan ini?”

Jawaban saya sederhana: “Saya lagi berpikir, sambil hidup.”

Tidak semua tulisan harus selesai.
Tidak semua pemikiran harus rapi.
Yang penting, baunya jelas: ini manusia, bukan brosur.

Dan kalau suatu hari nanti excavator di sawah sudah jadi pemandangan biasa, orang akan bilang: “Ah, dulu mah ribut.”

Lalu generasi berikutnya tidak peduli lagi pakai apa,
mereka cuma peduli: panennya hidup atau mati 😄

You May Also Like

0 komentar