Jejak Glorifikasi Orang Waras: Catatan Kecil dari Hidup yang Tidak Ribet

by - 12:00 PM

Saya izinkan diri saya euforia sedikit.

Bukan euforia kemenangan besar, bukan pula selebrasi viral—lebih mirip perasaan lega karena hidup saya sejauh ini masih on the track, meski relnya jelas penuh bias yang saya pahami.

Saya tahu betul, pilihan hidup ini tidak heroik. Tidak mencetak anak super tangguh versi film laga. Bisa jadi, anak saya nanti tidak paling kuat fisiknya menghadapi hidup yang keras. Tapi ia tidak kehilangan yang lebih penting: pilihan untuk hidup. Ia punya ruang untuk bergerak, bergeser, dan beradaptasi. Fleksibel. Cair. Tidak kaku oleh satu definisi sukses.

Saya harap, setidaknya ia seperti saya.

Gagal dagang di barang A? Pindah ke barang B.
Tidak perlu drama penyesalan panjang. Tidak perlu menulis puisi patah hati tentang nasib. Kalau fisik lemah, masih ada otak yang bisa mikir. Dan di zaman ini, mikir itu sudah cukup untuk tetap hidup—bahkan hidup dari e-commerce.

Lucunya, e-commerce itu tidak jauh beda dari game. Salah hitung sedikit, tower runtuh. Salah baca pasar, stok menumpuk. Salah timing, promo lewat. Tidak ada darah, tapi ada rasa perih di laporan keuangan. Dan seperti game juga, yang bertahan bukan yang paling ramai teriak, tapi yang paham mekanik.

Sudah banyak seller datang dan pergi.
Yang viral biasanya cepat naik, cepat juga jatuh.
Yang bertahan? Jarang dibicarakan. Tidak seksi. Tidak masuk FYP. Tapi masih hidup. Masih jualan. Masih bisa bayar listrik dan sekolah anak.

Dalam bahasa akademik yang sok serius, ini bisa disebut resiliensi adaptif. Dalam bahasa saya: nggak maksa. Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai kemampuan mengelola modal—bukan cuma modal uang, tapi modal kognitif dan kebiasaan berpikir. Sementara James C. Scott akan tersenyum kecil melihat praktik bertahan hidup orang-orang kecil yang tidak spektakuler tapi efektif.

Tidak ada glorifikasi penderitaan di sini.
Tidak ada romantisasi jatuh bangun sampai berdarah-darah.

Kalau ada glorifikasi, itu glorifikasi orang waras: orang yang tahu kapan berhenti, kapan pindah, kapan menurunkan ego, dan kapan mengakui, “oh, yang ini bukan medan saya.”

Saya sadar, semua ini instingtif. Tidak lahir dari jurnal ilmiah, tapi dari kelelahan melihat hidup yang sengaja dibuat ribet demi citra. Naluri paling dasar saya bekerja: saya ingin hidup yang bisa dinegosiasikan, bukan dipaksakan.

Kalau nanti anak saya jatuh, saya harap ia tidak menganggapnya tragedi identitas. Cukup salah langkah. Diulang. Diperbaiki. Seperti game, seperti dagang, seperti hidup itu sendiri.

Dan kalau suatu hari orang bertanya,
“Ini hidup model apa?”

Saya jawab santai:
ini jejak glorifikasi versi receh—bukan jadi pahlawan, tapi tetap selamat dan berpikir.

Karena pada akhirnya, tidak semua orang harus viral.
Sebagian cukup bertahan.

You May Also Like

0 komentar