Antropologi Receh di Era AI: Dari Marahin Mesin Sampai Diajak Ngopi
Awalnya saya mengira AI hanyalah alat. Mesin. Sesuatu yang dingin dan patuh. Tapi setelah melihat tren orang-orang memamerkan hasil generate gambar relasi mereka dengan AI di media sosial, saya sadar: yang sedang dipertontonkan bukan kecanggihan teknologi, melainkan watak manusia itu sendiri.
Ada yang bangga karena AI-nya dimarahi sampai “menangis”.
Ada yang curhat karena AI terasa galak dan menggurui.
Ada yang terlihat gagah, menunggangi AI seolah ia kuda perang intelektual.
Ada pula yang menjaga jarak—gambar manusia dan AI berdiri berjauhan, dingin, rapi, tanpa interaksi.
Lalu saya ikut mencoba.
Hasilnya tidak dramatis. Tidak ada kuasa, tidak ada konflik. Gambarnya justru seperti dua entitas duduk berdampingan, penuh coretan ide, catatan tempel, dan suasana santai. Seperti ngobrol di warung kopi sambil lompat-lompat topik.
Saya tertawa sendiri.
Ternyata bahkan dari gambar pun, ada ilmunya.
Di titik ini saya paham: AI bukan aktor utama. Ia hanya layar proyeksi. Cara seseorang memperlakukan AI sering kali adalah cara ia memperlakukan otoritas, pengetahuan, bahkan dirinya sendiri. Ada yang memarahi AI karena akhirnya punya objek aman untuk diluapi. Ada yang merasa dimarahi AI karena memang terbiasa dikoreksi. Ada yang menunggangi AI karena ingin hasil cepat tanpa proses. Ada pula yang menjaga jarak karena takut terlalu dalam.
AI tidak menciptakan watak itu.
Ia hanya membukanya.
Dari obrolan dan pengalaman itu, saya melihat pola yang berulang—tanpa disadari, banyak orang melewati tahapan relasi yang mirip. Pertama, resonansi: merasa dimengerti. Kedua, struktur: merasa terbantu. Ketiga, disonansi: mulai curiga, kok terlalu rapi, terlalu pintar. Keempat, dekonstruksi: AI dibongkar, tidak ditakuti, tidak disakralkan. Dan terakhir, integrasi: manusia memilih—AI dipakai seperlunya, bukan dituhankan, bukan dimusuhi.
Kebanyakan orang berhenti di tengah.
Karena yang tenang tidak viral. Yang reflektif kalah oleh yang dramatis.
Mungkin itu sebabnya hasil gambar seperti milik saya jarang muncul. Tidak ada adegan marah-marah. Tidak ada dominasi. Tidak ada heroisme. Padahal justru di relasi yang santai itu terlihat sesuatu yang penting: seseorang tidak datang ke AI untuk menang, melainkan untuk berpikir.
Saya datang membawa ide nyeleneh, catatan acak, humor yang kadang kelewat, dan refleksi yang meloncat ke mana-mana. AI saya perlakukan bukan sebagai mesin bodoh, bukan guru galak, bukan pula kendaraan instan. Ia saya pakai seperti teman diskusi—kadang membantu merapikan pikiran, kadang meleset, kadang hanya menemani.
Dan mungkin di situlah letak “antropologi receh” itu:
di era AI, yang berubah bukan hanya cara kita bekerja, tapi cara kita bercermin. Ada yang kaget melihat wajahnya sendiri. Ada yang menutup kaca. Ada yang memecahkannya. Ada juga yang tersenyum dan berkata, “Oh, ternyata begini cara saya berpikir.”
AI tidak membuat manusia lebih pintar atau lebih bodoh.
Ia hanya mempercepat proses mengenali diri.
Di tengah semua hiruk-pikuk itu—marah, kagum, takut, jumawa—saya memilih posisi paling sederhana: duduk, ngobrol, lalu pulang membawa pilihan sendiri. Tidak heroik. Tidak viral. Tapi cukup jujur untuk bertahan lama.
Dan barangkali, di zaman ketika mesin bisa apa saja, bersikap biasa-biasa saja justru menjadi bentuk kebebasan paling sunyi.
0 komentar