Ayah Tidak Boleh Capek: Katup Emosi, Bunga Kematian, dan Stoikisme Setengah Paham
Saya pernah punya pemahaman yang sempit tentang ayah. Bukan sempit karena bodoh, tapi karena saya masih anak-anak, dan anak-anak memang hidup dalam pusat semesta bernama diri sendiri. Ayah, dalam bayangan saya waktu itu, adalah makhluk yang harus kuat, harus sabar, dan—yang paling penting—tidak boleh capek.
Ayah saya petani. Bangun pagi, pulang sore. Sawah harus terairi, padi harus hidup. Kalau gagal, tidak ada istilah “burnout”, yang ada beras tidak jadi nasi. Ia jarang bercerita. Tidak ada sesi sharing circle atau healing conversation. Yang keluar kadang hanya suara meninggi saat menegur kami. Waktu kecil, saya kira itu marah. Sekarang saya curiga, itu lelah yang tidak punya tempat parkir.
Dalam psikologi emosi, ini disebut emotion suppression—menahan emosi karena norma sosial (Gross, 1998). Pada laki-laki, apalagi ayah, norma itu berlapis-lapis: harus kuat, tidak boleh cengeng, tidak pantas mengeluh. Maka emosi mencari jalan lain. Salah satunya: intonasi naik.
Tidak pernah ada yang bertanya:
“Pak, capek ya?”
“Pak, rasanya gimana jadi penopang hidup?”
Pertanyaan-pertanyaan itu, secara budaya, terasa tidak maskulin. Dalam antropologi maskulinitas (Connell, 1995), ini dikenal sebagai hegemonic masculinity: versi ideal laki-laki yang harus tahan banting, rasional, dan sunyi. Rapuh boleh, tapi diam-diam.
Epifani ini datang terlambat. Tapi tetap patut disyukuri. Karena sekarang, sebagai orang dewasa, sebagai ayah, saya merasakan sendiri bagaimana lelah itu bekerja. Lelah yang tidak dramatis. Lelah yang tidak minta ditolong. Lelah yang kalau diucapkan malah terasa cengeng.
Dunia boleh menyebut laki-laki rapuh. Tidak masalah. Laki-laki ini manusia. Dan manusia, mau jenis kelaminnya apa, punya batas daya tahan batin. Hanya saja, budaya kita mengizinkan perempuan terlihat rapuh, tapi sering memaksa laki-laki menyembunyikannya.
Ironisnya, empati sering datang terlambat.
Saat ayah saya meninggal, bunga berdatangan. Karangan bunga, simbol cinta, simbol kehilangan. Saya tertawa sedikit getir. Seumur hidupnya, mungkin ayah saya tidak tahu bahwa bunga adalah bahasa romantis. Ia baru mendapatkannya saat sudah tidak bisa melihat.
Ini mirip budaya menjenguk orang sakit. Orang sakit dibawakan makanan enak, bergizi, mahal. Pertanyaannya sederhana tapi sinis: kenapa saat sehat, ia jarang mendapatkannya?
Namun di titik ini saya berhenti sedikit. Jangan-jangan, ini juga ekspektasi saya. Ekspektasi bahwa empati harus selalu verbal. Padahal bisa jadi, bagi ayah, cinta tidak perlu diucapkan. Cukup dibiarkan sendiri. Cukup diberi ruang sunyi. Dalam psikologi, tidak semua orang mengekspresikan stres dengan cara yang sama (coping styles, Lazarus & Folkman, 1984).
Mungkin tidak semua luka ingin dipeluk. Ada yang ingin dibiarkan mengering sendiri.
Hari ini, dunia ramai dengan kelas healing. Stres, healing. Kerja lagi, stres lagi, healing lagi. Siklus yang sah secara ekonomi dan masuk akal secara industri. Tapi di sela itu, saya jadi ingat Stoikisme—filsafat kuno yang sekarang naik kelas jadi konten Instagram. Epictetus (sekitar abad 1 M) bilang sederhana saja: bedakan mana yang bisa dikontrol dan mana yang tidak. Sisanya, lepaskan.
Stoikisme bukan anti-emosi. Ia cuma tidak cerewet.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan receh:
hidup ini sering ribut karena ekspektasi.
Ekspektasi pada ayah.
Ekspektasi pada diri sendiri.
Ekspektasi pada dunia agar lebih empatik dari kemampuannya.
Orang dewasa ingin kembali ke masa kecil.
Anak kecil ingin cepat dewasa.
Ironi yang konsisten dari generasi ke generasi.
Mungkin solusinya sederhana: turunkan ekspektasi.
Bukan agar hidup jadi dingin,
tapi supaya kita tidak terus-terusan cerewet pada kenyataan 🤣
0 komentar