Logaritma di Trotoar dan Tasrif di Lampu Merah: Ketika Pintar Kehilangan Etika
Saya tertawa melihatnya, tapi tawa yang nyangkut di tenggorokan. Seorang konten kreator—katakan saja matematikawan lapangan—menodong remaja acak di jalan umum dengan pertanyaan yang bunyinya seperti sandi nuklir: berapa 9 log 135 dikurangi 9 log 5? Kamera menyala, algoritma menguap, dan kebingungan menjadi konten. Yang ditanya bengong, yang menonton ikut mengernyit, dan kolom komentar ramai oleh satu kata yang entah kenapa selalu laku: goblok.
Saya paham logika pertunjukannya. Ini bukan tentang matematika, ini tentang tontonan. Kebingungan adalah komoditas. Sejak era televisi slapstick sampai media sosial, manusia selalu tertawa melihat orang lain terpeleset—baik secara fisik maupun kognitif. Henri Bergson, jauh di 1900, pernah bilang tawa lahir dari kekakuan yang tak pada tempatnya. Dalam kasus ini, kekakuannya adalah algoritma matematika yang dilempar ke trotoar, tempat orang biasa sedang memikirkan ongkos pulang, bukan logaritma basis sembilan.
Masalahnya bukan remaja itu tak bisa menjawab. Masalahnya adalah relevansi dan relasi kuasa. Matematika jenis itu tidak hidup di jalan. Ia hidup di kelas, di papan tulis, di kepala mereka yang sehari-hari memang berkutat dengan simbol. Pierre Bourdieu (1986) menyebut ini sebagai modal kultural: kemampuan tertentu hanya bernilai di medan tertentu. Membawa soal logaritma ke jalan sama absurdnya dengan saya menodong matematikawan itu dan bertanya, dengan wajah serius, apa tasrif khumasi mujarod dari نصر؟ Kalau ia bengong, apakah sah saya bilang, “Tuh kan, matematikawan goblok”?
Tentu tidak. Karena kita paham, kepintaran itu kontekstual. Howard Gardner (1983) sudah lama membanting meja teori kecerdasan tunggal dengan gagasan multiple intelligences. Ada yang cerdas angka, ada yang cerdas bahasa, ada yang tangannya hidup—menjahit, memasak, membangun. Tapi algoritma media sosial tidak sabar dengan keragaman. Ia butuh dikotomi cepat: pintar–bodoh, bisa–tidak bisa, viral–tenggelam.
Yang bikin saya geli sekaligus getir adalah aura moral superiority-nya. Seakan-akan dengan memamerkan kebingungan orang lain, sang kreator naik satu level di tangga kemanusiaan. Padahal yang naik itu engagement, bukan empati. Dalam psikologi sosial, ini dekat dengan apa yang disebut downward comparison—kita merasa lebih baik dengan membandingkan diri dengan orang yang tampak lebih buruk (Wills, 1981). Murah, instan, dan laris.
Belum lagi soal persetujuan. Kamera menyala dulu, etika belakangan. Video tayang, wajah bingung jadi abadi, dan komentar mengalir tanpa sensor. Erving Goffman (1959) pernah mengingatkan bahwa hidup adalah panggung, tapi tidak semua orang setuju untuk dijadikan aktor. Ada perbedaan antara tertawa bersama dan ditertawakan. Yang pertama menyembuhkan, yang kedua melukai—pelan, tapi pasti.
Ironisnya, matematika sendiri adalah disiplin yang elegan, sabar, dan tidak suka pamer. Ia tidak butuh korban kebingungan untuk membuktikan keindahannya. Yang dibutuhkan justru konteks, pengajaran, dan kerendahan hati bahwa kecerdasan tidak pernah tunggal. Ketika kepintaran dilepaskan dari empati, ia berubah menjadi alat dominasi, bukan pencerahan. Paulo Freire (1970) menyebut pendidikan semacam ini sebagai banking education: pengetahuan jadi alat menekan, bukan membebaskan.
Saya tidak anti matematika. Saya juga tidak anti tertawa. Saya besar dengan slapstick, koran lampu merah, dan tawa sebagai katup emosi. Tapi ada batas yang—anehnya—mudah dikenali oleh batin sehat: jangan menjadikan kebingungan orang lain sebagai bukti kehebatan diri. Itu bukan cerdas, itu cuma lihai.
Kalau mau pamer pintar, ajak orang naik, bukan dorong orang jatuh. Atau, kalau mau slapstick, pastikan kita semua tertawa di posisi yang setara. Selebihnya, biarkan logaritma tetap di kelas, tasrif tetap di kitab, dan empati tetap di dada. Karena di jalan umum, yang paling penting bukan jawaban yang benar, tapi cara kita bertanya sebagai manusia.
0 komentar