Bunda yang Salah Alamat: Ketika Panggilan Orang Tua Lebih Jujur dari Slip Gaji
Saya baru sadar, manusia itu bisa ribut tanpa sadar hanya dari cara memanggil orang tuanya sendiri. Bukan karena cintanya kurang, tapi karena kata yang keluar dari mulut ternyata membawa beban sosial yang tidak kecil.
Di telinga saya, panggilan seperti ayah–bunda sering terdengar rapi, bersih, dan terkurasi. Seakan rumahnya punya rak buku, walau bukunya belum tentu dibaca. Lalu ada mommy–daddy, versi keminggris yang biasanya lahir bukan dari kolonialisme, tapi dari YouTube Kids dan sekolah nasional plus. Ada juga umi–abi, yang aromanya bukan sekadar agama, tapi juga imajinasi Timur Tengah yang disterilkan.
Sementara itu, di lapisan yang lebih dekat dengan realitas keras, kita kenal emak–bapak, bokap–nyokap, ma’e–pa’e. Kata-kata yang bunyinya tidak halus, tapi fungsional. Seperti sendal jepit: tidak estetis, tapi tahu persis kapan harus dipakai.
Lucunya, mamah–papah berdiri di tengah. Ia netral. Bisa dipakai siapa saja, dari rumah ber-AC sampai rumah yang kipas anginnya bunyi sendiri. Seperti bahasa Indonesia baku: semua mengklaim punya, tapi tidak ada yang benar-benar memilikinya.
Saya pernah iseng—eksperimen sosial receh. Tetangga saya, hidupnya penuh ketegangan ekonomi, kesehariannya dipanggil emak. Lalu suatu hari saya panggil, “Bunda Sumi.” Ia tertawa. Bukan tersinggung, bukan marah. Tertawa seperti orang yang sedang dipakaikan baju yang ukurannya salah. Terlalu rapi untuk tubuh yang sedang capek.
Di situ saya paham: panggilan itu bukan soal sopan atau tidak, tapi soal cocok atau tidak.
Antropologi punya istilah yang ribet untuk hal sederhana ini: symbolic boundary. Kata bukan cuma bunyi, tapi penanda. Ia memberi tahu kita sedang berdiri di mana, termasuk kelas sosial mana yang (secara sadar atau tidak) kita klaim. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai habitus—selera, bahasa, dan gestur yang kita warisi, bukan pilih. Jadi ketika seorang emak ditarik paksa menjadi bunda, tubuhnya menolak sebelum pikirannya sempat menyusun alasan.
Makanya membayangkan anak memanggil emaknya “Aurel” terasa seperti penghinaan, bukan karena nama itu jelek, tapi karena ia memutus relasi simbolik. Relasi orang tua–anak diturunkan jadi relasi fans–seleb. Itu bukan sekadar salah panggil, tapi salah dunia.
Psikologi sosial melihatnya lebih ke urusan identitas. Kata yang kita pakai untuk menyebut orang terdekat adalah cermin dari sense of belonging. Ketika kata itu terasa “bukan gue”, muncul tawa, marah, atau mendelik refleks. Bukan drama—itu mekanisme pertahanan diri. Otak kita tidak suka dipaksa masuk ke narasi yang tidak ia kenal.
Yang menarik, hierarki ini jarang diakui, tapi sering dipraktikkan. Seolah ada tangga imajiner: dari emak ke bunda, dari bapak ke daddy. Padahal dalam praktik hidup, tidak ada korelasi lurus antara panggilan dan kualitas pengasuhan. Banyak emak yang jauh lebih hadir daripada mommy yang sibuk self-care. Tapi bahasa punya sifat licik: ia membuat kesan lebih dulu, isi belakangan.
Mungkin karena itu, ketika seseorang tertawa dipanggil “bunda” atau tersinggung dipanggil “emak”, yang bereaksi bukan rasionalitas, tapi rasa tempat. Seperti kursi yang tidak sesuai tinggi meja—bukan salah kursinya, bukan salah mejanya, tapi salah penempatan.
Saya jadi curiga: ini bukan soal kelas, tapi soal kejujuran simbolik. Bahasa yang jujur adalah bahasa yang tidak memaksa diri terlihat seperti bukan dirinya. Dan dalam relasi keluarga, kepalsuan sekecil apa pun cepat tercium. Anak mungkin bisa diajari bilang “ayah–bunda”, tapi tubuh rumah akan tahu apakah kata itu tumbuh atau dipaksakan.
Jadi ya, kronologi absurd ini bukan sekadar lelucon linguistik. Ia adalah antropologi mini yang hidup di teras rumah, di gang sempit, di ruang tamu ber-AC. Dan seperti kebanyakan hal tentang manusia, yang kelihatannya remeh justru sering paling jujur.
Kalau kata sudah terasa pas, hidup biasanya ikut tenang.
Kalau kata terasa salah alamat, ya wajar kalau yang dipanggil malah ketawa. 😅
0 komentar