Mengapa Kayu Bakar Harus Sama Panjang, Kartu Harus Rapi, dan Mobil Harus Maroon?

by - 12:00 AM

 (Atau: Apa yang Sebenarnya Salah dengan Dunia?)

Saya sering bertanya-tanya, sejak kapan hidup harus begitu presisi.

Waktu kecil, di lingkungan yang miskin secara struktural, dunia terasa jauh lebih sederhana. Kami mencari kayu bakar bersama. Ada teman saya yang memotong kayu dengan kesungguhan luar biasa, sampai benar-benar presisi. Kalau panjangnya kurang dua sentimeter saja, kayu itu tidak layak menurut standarnya. Ia menyerahkannya kepada saya. Saya menerimanya dengan senang hati. Dalam kepala saya waktu itu sederhana saja: toh saat dibakar, kayu akan jadi abu juga. Tidak ada abu yang lebih mulia karena dulu kayunya presisi.

Hal serupa terjadi saat bermain kartu. Ada kartu yang potongannya sedikit melenceng. Bagi sebagian anak, itu cacat. Bagi saya, itu masih kartu. Masih bisa dimainkan. Kelereng dengan pola warna yang dianggap jelek dibuang begitu saja. Saya pungut. Kelereng itu tetap bulat, tetap bisa digelindingkan, tetap bisa dimenangkan atau dikalahkan. Dunia tidak runtuh hanya karena garisnya tidak simetris.

Saya baru menyadari belakangan bahwa yang saya saksikan waktu kecil bukan sekadar perbedaan selera, melainkan perbedaan cara manusia berhubungan dengan realitas. Ada orang yang bisa menerima dunia apa adanya, dan ada orang yang harus membuat dunia tunduk pada ukuran batinnya sendiri.

Ketika saya tumbuh dan masuk ke lingkungan yang lebih besar, polanya berulang dalam bentuk yang lebih mahal. Kali ini bukan kayu bakar atau kartu, tapi mobil. Mobil harus warna maroon. Bukan merah lain, bukan hitam, bukan abu-abu. Maroon. Saya mencoba memahami alasannya, tapi yang saya lihat tetap sama: saat diduduki, tidak ada perbedaan eksistensial antara maroon dan warna lain. Joknya sama. Mesinnya sama. Macetnya juga sama.

Di titik ini saya mulai memahami sesuatu yang dulu tidak punya nama. Orang menyebutnya OCD. Bukan karena orang-orang ini suka rapi. Saya juga suka rapi. Tapi kalau tidak rapi, ya sudah. Perbedaannya ada di keterikatan. Pada rasa tidak nyaman yang memaksa. Pada kecemasan yang hanya reda jika dunia patuh.

Yang menarik, orang sering berkata bahwa OCD adalah milik orang berpendidikan tinggi. Tapi pengalaman saya mengatakan lain. Benihnya ada di mana-mana. Di kampung miskin, di permainan anak-anak, di kayu bakar yang dipotong terlalu sungguh-sungguh. Bedanya hanya satu: di lingkungan miskin, dunia tidak memberi cukup ruang untuk ilusi kontrol. Hidup terlalu keras untuk mempersoalkan dua sentimeter.

Semakin banyak pilihan yang dimiliki seseorang, semakin besar godaan untuk percaya bahwa segalanya harus sesuai. Bahwa warna, bentuk, urutan, dan simetri bisa memberi rasa aman. Padahal yang sering terjadi, justru sebaliknya. Semakin sempit toleransi terhadap ketidaksempurnaan, semakin luas wilayah penderitaan.

Saya tidak sedang mengejek siapa pun. Saya hanya berdiri di titik berangkat saya sendiri, sambil tersenyum mengenang betapa seringnya saya diuntungkan oleh ketidakpresisian orang lain. Saya hidup dari kartu cacat, kelereng jelek, dan kayu bakar sisa. Dan anehnya, hidup saya baik-baik saja.

Mungkin karena sejak kecil saya belajar satu hal sederhana yang sulit diajarkan di bangku sekolah: bahwa dunia tidak berutang kerapihan pada kita. Dan bahwa pada akhirnya, entah kayu itu lurus atau bengkok, semuanya tetap akan menjadi abu.

Pengalaman serupa kembali terjadi ketika saya membeli rumah. Dari sepuluh calon pembeli sebelumnya, semuanya mundur. Alasannya bukan bocor, bukan sengketa, bukan lokasi. Rumah ini seharusnya bernomor empat, tapi oleh pengembang diberi nomor lima. Bagi sebagian orang, ini bukan angka netral. Ada feng shui yang terganggu, ada hitungan weton yang tidak cocok, ada firasat yang terasa kurang pas. Saya mendengarkan semua itu sambil berpikir sederhana: ini rumah, kan?

Saya menempatinya sudah lima tahun. Lima tahun bangun pagi, pulang sore, tidur, bangun lagi, dan hidup berjalan sebagaimana mestinya. Menariknya, saya melihat sendiri rumah-rumah dengan nomor cantik, angka yang dianggap membawa hoki, justru tidak lama kemudian disita bank. Hidup rupanya tidak membaca nomor rumah sebelum mengambil keputusan.

Lucunya, saya justru merasa beruntung. Rumah ini berada di hook. Ada sisa tanah pengembang yang boleh saya pakai untuk parkir mobil. Semua itu datang bukan karena hitungan angka, melainkan karena orang-orang lain memilih mundur.

Di titik ini saya semakin yakin: angka hanyalah simbol. Kita yang memberinya beban. Rumah tetaplah rumah. Ia melindungi dari hujan dan panas tanpa peduli disebut empat, lima, atau tiga belas. Dan mungkin, ketenangan hidup tidak datang dari menghindari angka yang dianggap horor, melainkan dari keberanian berkata, “ya sudah”, lalu tinggal dan hidup di dalamnya.

You May Also Like

0 komentar