Monas Jam Dua Pagi dan Rujak yang Batal Dimakan
(Catatan Lapangan Antropologi Receh tentang Manusia, Hormon, dan Kesabaran yang Tidak Heroik)
Manusia sering salah paham soal perubahan perilaku. Kita terbiasa memberi label: drama, lebay, manja, ribet. Padahal dalam banyak kasus, yang berubah bukan watak—melainkan hormonnya. Ini saya pelajari bukan dari jurnal dulu, tapi dari pengalaman jam dua pagi: seorang bumil membangunkan saya dengan permintaan yang tak bisa diperdebatkan secara logika.
“Aku pengen lihat Monas.”
Bukan foto. Bukan berita. Bukan besok.
Sekarang. Dari luar.
Sebagai manusia normal dengan stok ngantuk terbatas, saya kesel. Tapi bukan marah ideologis, hanya marah fisiologis. Dan karena kerja fleksibel, saya memilih jalan paling sunyi konflik: berangkat. Satu jam perjalanan. Sampai. Lihat Monas. Keliling satu putaran. Pulang. Bumil tidur seperti agar-agar yang tidak pernah punya dosa.
Tidak ada euforia. Tidak ada makna simbolik. Tidak ada ucapan terima kasih dramatis.
Dan justru di situ saya belajar sesuatu yang penting: perilaku manusia seringkali adalah respons tubuh, bukan niat batin.
Fase ngidam adalah contoh antropologi domestik yang sering diremehkan. Rujak tengah malam. Lihat Monas subuh. Mendadak ingin sesuatu, lalu lima belas menit kemudian tidak mau lagi. Kita sering menertawakannya—dan boleh—tapi sering lupa memahami struktur biologisnya.
Secara psikologis dan biologis, kehamilan adalah fase perubahan hormonal besar-besaran. Estrogen dan progesteron naik tajam, memengaruhi sistem limbik—bagian otak yang mengatur emosi, dorongan, dan urgensi (O’Hara & Wisner, 2014). Artinya, rasa “harus sekarang” itu nyata bagi si bumil, meski tidak masuk akal bagi pengamat luar.
Antropolog menyebut ini sebagai embodied experience—pengalaman yang lahir dari tubuh, bukan dari pikiran rasional (Csordas, 1990). Jadi ketika bumil ingin rujak jam dua pagi, itu bukan drama, bukan ujian kesabaran kosmik, dan bukan prank. Itu tubuh yang sedang berbicara dengan bahasanya sendiri.
Lucunya, manusia sering menuntut konsistensi emosional pada fase yang secara biologis memang tidak stabil. Kita bilang, “ya maklum bumil,” lalu berhenti berpikir. Padahal memahami bukan berarti membenarkan semua perilaku, tapi membedakan mana fase dan mana karakter.
Saya pernah mencari rujak malam-malam. Pas pulang, rujaknya tak dimakan. Katanya, “udah nggak pengen.” Dulu mungkin saya akan kesal: capek, buang waktu, nggak dihargai. Tapi sekarang saya melihatnya sebagai catatan lapangan: desire is temporary, fatigue is real, phase will pass.
Psikologi perkembangan menyebut kemampuan ini sebagai emotional differentiation—mampu memisahkan perasaan sesaat dari penilaian jangka panjang (Bowen, 1978). Tanpa kemampuan ini, rumah tangga penuh arsip dendam kecil: “ingat nggak dulu kamu nyuruh aku ke Monas jam dua pagi?”
Padahal yang lebih sehat adalah mengarsipkannya sebagai cerita lucu, bukan bukti kezaliman.
Menariknya, banyak konflik rumah tangga lahir bukan dari peristiwa besar, tapi dari kesalahpahaman terhadap kondisi fisiologis: lapar, capek, kurang tidur, hormon naik turun. Studi tentang affective neuroscience menunjukkan bahwa keputusan emosional meningkat drastis saat tubuh lelah atau hormonal tidak stabil (Damasio, 1994). Jadi ketika kita berdebat dengan manusia yang sedang berada di fase itu, sering kali kita sedang beradu logika dengan biologi—dan logika hampir selalu kalah.
Pelajaran terbesarnya bukan soal menjadi suami sabar ala poster motivasi. Justru kebalikannya: tidak merasa heroik. Tidak menganggap diri korban. Tidak merasa “berkorban demi anak.” Saya cuma menemani fase, sambil sadar: ini tidak permanen.
Antropologi receh mengajarkan satu hal sederhana:
manusia berubah-ubah, tapi fase tidak boleh dijadikan vonis karakter.
Dan kelak, ketika Monas masih berdiri dan rujak masih ada di pasar malam, saya tahu—yang saya hadapi waktu itu bukan orang yang menyusahkan hidup saya, tapi manusia yang tubuhnya sedang bekerja keras menciptakan manusia lain.
Jam dua pagi.
Tanpa makna besar.
Tapi penuh pemahaman kecil yang menyelamatkan relasi.
Dan itu, menurut saya, sudah cukup ilmiah—dan cukup manusia. 😄
0 komentar