Surga yang Terlalu Sempit untuk Tuhan: Catatan Lapangan dari Antropologi Receh

by - 6:00 AM

Saya tumbuh dengan cerita-cerita tentang surga yang sangat visual. Ada sungai susu, buah-buahan yang tinggal petik, dan—ini yang paling sering bikin gaduh—72 bidadari. Cerita itu beredar dari mimbar ke mimbar, dari pengajian ke obrolan warung kopi, sering kali tanpa jeda untuk bertanya: ini bahasa siapa, untuk siapa, dan pada zaman apa?

Belakangan, saya merasa bukan surga yang salah, tapi cara kita mereduksinya.

Kalau kita tarik sedikit ke belakang, ke konteks awal Islam, masyarakat Arab hidup dalam budaya patriarkal yang keras. Perang antar kabilah, janda dan anak yatim berlimpah, struktur sosial timpang. Di situ, Nabi Muhammad tidak datang membawa palu untuk menghancurkan semua kebiasaan, tapi membawa strategi kultural: menggeser, bukan memutus. Termasuk soal poligami. Yang sering dilupakan, poligami Nabi justru banyak terjadi dengan janda, perempuan korban perang, dan relasi sosial-politik yang bertujuan melindungi, bukan memuaskan hasrat.

Namun, seperti banyak hal lain, pesan itu mengalami reduksi saat berpindah ruang dan waktu.

Di Indonesia, poligami sering kehilangan konteks sosialnya. Ia mengecil menjadi urusan selera pribadi. Dari perlindungan sosial menjadi upgrade pasangan. Dari tanggung jawab menjadi prestise. Dari empati menjadi libido. Sama seperti surga yang tadinya metafora keadilan dan pemulihan, menyempit menjadi katalog kenikmatan seksual.

Saya menyebut ini antropologi receh karena saya tidak membaca manuskrip kuno. Saya cuma mengamati sekitar. Ketika surga direduksi jadi hadiah biologis, ia menjadi alat yang sangat berbahaya. Ia bisa dijual. Ia bisa diperdagangkan. Ia bisa dijadikan bahan bakar.

Di titik paling gelapnya, kita melihat ekstremisme: manusia yang meledakkan dirinya sendiri, disebut “pengantin”, dijanjikan surga dan 72 bidadari. Di sini, tragedi kemanusiaan terjadi dua kali. Pertama, nyawa manusia direnggut. Kedua, agama dipersempit sampai kehilangan wajah welas asihnya.

Saya sering bertanya dalam hati: jika kebaikan harus digerakkan dengan iming-iming seks, lalu di mana posisi akal, empati, dan tanggung jawab moral? Apakah berbuat baik tidak cukup karena sadar bahwa itu baik, tanpa harus dibayar tubuh surgawi?

Di kampung saya, orang berbuat baik karena sungkan, karena silih asih, karena besok masih harus saling menatap. Tidak ada yang perlu dijanjikan bidadari. Cukup jaga selokan, jaga sawah, jaga tetangga. Mungkin itu sebabnya saya selalu merasa janggal ketika surga digambarkan terlalu jauh, padahal etika hidupnya bisa sangat dekat.

Saya tidak sedang menertawakan iman. Saya justru sedih melihat iman direduksi menjadi brosur hadiah. Surga, dalam pengertian yang lebih manusiawi, seharusnya memperluas empati, bukan menyempitkan logika. Ia seharusnya menumbuhkan tanggung jawab, bukan mematikan nalar.

Mungkin masalah kita bukan kurang iman, tapi terlalu cepat menganggap metafora sebagai laporan teknis. Terlalu tergesa menjadikan simbol sebagai tujuan akhir. Dan terlalu malas bertanya: apa maksudnya, untuk siapa, dan dalam kondisi apa pesan itu pertama kali diucapkan?

Kalau surga hanya berisi imbalan biologis, ia terlalu kecil untuk Tuhan.
Dan kalau agama dipakai untuk menghapus kemanusiaan, barangkali yang perlu diselamatkan bukan surga—tapi cara kita memahaminya.

Itu saja antropologi receh saya.
Tidak rapi, tidak final.
Tapi setidaknya masih menolak membunuh manusia demi metafora.

You May Also Like

0 komentar