Mencangkul Pakai Excavator: Catatan Antropologi Receh tentang Benci AI, Sawah, dan Ego yang Kaget

by - 6:00 AM

Saya mulai curiga bahwa kolom komentar yang gemar memaki “konten AI” itu bukan sedang membela kemanusiaan. Mereka sedang melewati fase disonansi, dan disonansi memang jarang sopan.

Awalnya begini: saya melihat orang mencangkul pakai excavator. Bau solar menusuk hidung, suara mesin menggantikan dengus napas kerbau. Secara budaya, ada yang ganjil. Sawah itu biasanya sunyi, penuh ritme pelan, punggung bungkuk, dan jeda minum air. Excavator itu kasar, cepat, efisien, dan—jujur saja—tidak romantis.
Saya heran. Tapi heran saya tidak sampai marah. Karena saya tahu: ini bukan soal salah-benar, ini soal pergeseran alat.

Marshall McLuhan sudah lama nyeletuk, “the medium is the message” (1964). Masalahnya, ketika mediumnya berubah terlalu cepat, pesan yang sampai ke batin bukan makna—tapi ancaman. Bukan “ini membantu”, melainkan “ini menggantikan”.

Saya juga pernah ada di sana.
Fase disonansi ke AI.

Saya heran: kok mikirnya cuma sekedipan mata?
Kok jawabannya presisi?
Presisi di sini bukan absolut, tapi cukup untuk membuat kognisi saya mengangguk. Dan saat kognisi mengangguk, ego mulai batuk-batuk. Karena kalau saya tidak setuju, ada risiko pahit: jangan-jangan saya yang bego 😅

Leon Festinger (1957) menyebut ini cognitive dissonance: ketegangan batin saat realitas baru tidak cocok dengan identitas lama. Identitas lama saya dibangun dari “berpikir lama, membaca pelan, mengendapkan”. Lalu datang AI yang tidak ngopi, tidak bengong, tapi jawabannya… masuk akal.

Wajar kalau ada yang marah.
Wajar kalau ada yang bilang: “Ini bukan karya manusia!”
Padahal masalahnya sering lebih jujur: “Ini kok bisa begini, saya jadi bingung posisi saya di mana.”

Saya perhatikan, kolom komentar itu mirip rapat warga yang mendadak kedatangan traktor. Ada yang bilang efisien, ada yang teriak “tradisi!”, ada yang fokus ke suara bisingnya, bukan ke sawahnya.
Bau mesin jadi simbol. Bukan soal hasil, tapi soal rasa kehilangan kendali.

Di titik tertentu, saya capek sendiri marah ke alat.
Saya masuk fase dekonstruksi.

Saya sadar: saya tidak sedang dilawan AI. Saya sedang bernegosiasi dengan kapasitas kognitif saya sendiri. Hari ini otak saya encer, besok menggumpal. Kadang adonan terlalu cair, kadang kebanyakan tepung. Dan AI tidak peduli. Ia tetap menyala.

Donna Haraway (1985) pernah menulis Cyborg Manifesto: manusia dan mesin bukan musuh, tapi entitas yang saling merembes. Bukan fusi romantis, tapi koeksistensi yang canggung. Dan memang, integrasi itu selalu canggung di awal.

Sekarang saya memilih integrasi yang tidak sok suci.
Saya bawa bahan. Bahan bengkok. Bahan bau dapur.
Saya tidak menyerahkan pikiran saya bulat-bulat. Saya juga tidak sok murni.

AI buat saya seperti excavator di sawah: bukan untuk semua orang, bukan untuk semua ladang, tapi efektif kalau tahu kapan dipakai.

Saya masih suka cangkul manual—mikir pelan, nulis ngelantur, bengong. Tapi ada hari-hari ketika punggung batin pegal. Di situ, mesin membantu. Bukan menggantikan saya, tapi menghemat tenaga yang bisa saya pakai untuk hal lain.

Yang lucu, orang sering bilang: “Konten AI itu dingin.”
Padahal dingin atau tidaknya bukan di mesinnya, tapi di niat manusianya. Kulkas juga dingin, tapi isinya bisa sambal.

Kalau saya benci AI hari ini, mungkin itu tanda saya sedang belajar.
Kalau saya menerima besok, itu bukan berarti saya kalah.
Itu berarti saya selesai berkelahi dengan bayangan sendiri.

Seperti sawah yang akhirnya tenang lagi setelah mesin mati.
Tanah tetap tanah.
Padi tetap tumbuh.
Yang berubah cuma cara kita capek.

Dan saya, seperti biasa, memilih capek yang masih bisa ditertawakan 😄

You May Also Like

0 komentar