Anak Rapuh, Orang Tua Parno: Catatan Lapangan Mantan Bocah yang Pernah Dikejar Anjing

by - 6:00 PM

Saya menulis ini sambil menatap anak saya bermain di halaman. Jaraknya tidak jauh—bahkan belum keluar gang—tapi batin saya sudah lari lebih dulu: nanti kalau jatuh, nanti kalau diculik, nanti kalau kenapa-kenapa. Padahal, di usia yang sama, saya dulu sudah lintas desa. Jalan kaki. Sendiri. Tanpa GPS, tanpa share location, tanpa grup WhatsApp orang tua RT.

Aneh memang. Saya selamat. Bahkan cukup utuh untuk sekarang malah jadi orang tua yang terlalu waspada.

Di generasi 90-an, masa kecil itu semacam program survival training versi murah. Ke hutan tanpa helm. Mandi di sungai tanpa pelampung. Maling jambu tanpa izin. Dikejar anjing tanpa trauma healing. Kalau jatuh, luka dibersihkan pakai ludah. Kalau hilang, dicari sore hari. Kalau tidak ketemu, ya mungkin masih main. Orang tua kami santai—atau mungkin tidak punya energi untuk khawatir.

Sekarang? Anak beda gang lima menit, grup keluarga sudah aktif.
“Anaknya di mana?”
“Sudah magrib.”
“Jangan jauh-jauh.”

Kami hadir penuh: fisik ada, psikis standby, emosi siaga satu. Kami takut anak kami fatherless, motherless, atau parentless secara emosional. Maka kami jaga, kami lindungi, kami lapisi dengan pengawasan berlapis-lapis. Seperti bubble wrap manusia.

Ironisnya, di waktu yang sama, kami mengeluh:
“Anak sekarang kok dikit-dikit nangis?”
“Kok mentalnya lemah?”
“Kok nggak tahan banting?”

Di sinilah saya merasa sedang menertawakan diri sendiri.

Antropolog David Lancy (2008) pernah menulis bahwa dalam banyak masyarakat tradisional, anak justru dibesarkan lewat benign neglect—bukan diabaikan, tapi tidak terus-menerus diawasi. Anak belajar risiko dengan tubuhnya sendiri. Luka kecil adalah kurikulum. Tersesat sebentar adalah silabus. Kami dulu lulus tanpa sadar bahwa itu sistem pendidikan.

Psikologi perkembangan juga sudah lama membocorkan rahasia ini. Jean Piaget (1952) menyebut anak membangun kognisi lewat eksplorasi aktif, bukan lewat larangan pasif. Erik Erikson (1963) bahkan lebih kejam: fase awal kehidupan itu soal autonomy vs shame. Terlalu dilindungi, anak belajar satu hal—dunia berbahaya dan saya tidak mampu.

Dan kami, dengan cinta yang tulus, tanpa sadar sedang mengajarkan itu.

Kami ingin anak cendekiawan, beretika, tahu batas. Tapi diam-diam berharap mereka tangguh, berani, dan tahan hidup. Seperti ingin membentuk profesor, tapi kecewa kenapa dia tidak jago berantem di terminal. Logika kami bocor di tengah.

Ulrich Beck (1992) menyebut masyarakat modern sebagai risk society—masyarakat yang obsesif pada risiko. Bukan karena risikonya lebih banyak, tapi karena kesadaran dan ketakutannya lebih terorganisir. Dulu, anak jatuh dari pohon adalah kabar sore. Sekarang, anak jatuh dari sepeda bisa jadi trauma kolektif.

Maka jangan heran kalau generasi sekarang tampak rapuh. Mereka tidak kurang potensi, mereka hanya kurang ruang. Ruang untuk nyasar. Ruang untuk salah. Ruang untuk dikejar anjing dan belajar lari zig-zag.

Lucunya, kami mantan bocah petualang itu sekarang berdiri di pagar rumah, jadi satpam emosional bagi anak kami sendiri. Mengeluh sambil memegang peluit.

Ini bukan ajakan untuk melepas anak ke hutan tanpa bekal. Ini hanya catatan receh dari lapangan batin: mungkin anak-anak itu tidak selemah yang kita kira. Mungkin yang terlalu lemah justru kecemasan kita.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak kami akan menulis hal yang sama:
“Orang tua saya dulu lebay. Tapi ya… saya selamat juga.” 😄

You May Also Like

0 komentar