Plester di Kulit yang Tidak Luka: Katup Emosi, Konten Healing, dan Sindiran Pasif di Timeline

by - 6:00 AM

Entah sejak kapan, timeline media sosial saya berubah jadi ruang ratapan kolektif. Isinya mirip-mirip: potongan video tentang psikologi, filsafat hidup hari ini, self healing, inner child, dan kalimat-kalimat yang nadanya lirih tapi yakin. Sangat yakin. Terlalu yakin, malah.

Awalnya saya kira ini tren intelektual. Lama-lama saya sadar, ini bukan tren berpikir, ini katup ventilasi emosi. Orang sedang capek, lalu bicara. Bedanya, sekarang bicara lewat konten.

Saya tidak menyalahkan. Serius.
Dalam psikologi, ini masuk akal. James Pennebaker (1997) menjelaskan bahwa expressive writing—mengekspresikan emosi lewat tulisan—memang bisa jadi mekanisme regulasi emosi. Orang bicara bukan karena ia paham, tapi karena ia perlu bernapas.

Makanya saya sampai pada kesimpulan receh tapi jujur:
orang tidak akan memasang plester di kulit yang sembuh 🤣

Kalau seseorang rajin membagikan konten “cara menyembuhkan luka batin”, besar kemungkinan ia sedang menunjuk lukanya sendiri. Bukan sedang mengajar, tapi sedang mengobati. Sayangnya, narasi itu sering dibungkus seolah-olah pengetahuan objektif. Padahal, lebih dekat ke validasi emosi sesaat daripada kajian ilmiah.

Dalam antropologi simbolik (Geertz, 1973), tindakan simbolik—termasuk membagikan konten—bukan sekadar komunikasi ke orang lain, tapi juga dialog dengan diri sendiri. Timeline itu cermin. Kadang retak, kadang buram.

Saya sering tertawa kecil saat melihat istri membagikan konten “suami ideal”. Bukan karena kontennya salah, tapi karena polanya jelas. Dalam psikologi relasi (Gottman, 1999), sindiran pasif adalah tanda ekspektasi yang tidak terucap. Kalau terlalu sering, biasanya bukan tentang pasangan, tapi tentang kebutuhan yang belum dibicarakan.

Dan ini berlaku dua arah.
Suami yang rajin membagikan konten “istri pengertian” juga sedang bicara tentang dirinya sendiri.

Makanya saya sering ingin nyeletuk, setengah bercanda: “Omongin aja, mbak. Omongin aja, mas. Jangan gengsi pakai sindir-sindiran algoritmik.” 😅

Yang lucu, istri saya tidak pernah membagikan konten “suami ideal”. Saya simpulkan sederhana saja: mungkin ekspektasinya terhadap saya cukup. Atau mungkin dia sudah capek berharap 🤣

Yang sering ia bagikan justru resep diet.
Padahal, sampai hari ini belum mulai juga.

Dan itu justru jujur.
Ia tidak sedang menggurui dunia tentang hidup sehat.
Ia sedang berkata pelan: “saya butuh.”

Dalam psikologi motivasi, ini dikenal sebagai self-signaling (Bem, 1972): kita memberi sinyal ke diri sendiri sebelum benar-benar berubah. Tidak elegan, tapi manusiawi.

Akhirnya saya berdamai dengan timeline.
Bukan sebagai ruang kebenaran, tapi sebagai ruang ventilasi.
Isinya bukan “siapa paling paham hidup”, tapi “siapa yang sedang sesak napas”.

Kalau narasinya kadang asal, ya wajar.
Orang yang sedang luka jarang sempat membuka jurnal ilmiah.

Tugas kita mungkin sederhana:
tidak ikut tersinggung,
tidak ikut menggurui,
dan tidak mengira plester itu untuk kita.

Karena sering kali, itu hanya orang lain yang sedang berusaha tetap utuh—
dengan cara paling tersedia di genggaman tangannya.

Timeline ribut?
Bisa jadi bukan karena dunia kacau.
Tapi karena manusia sedang ramai-ramai berusaha bertahan 😅

You May Also Like

0 komentar