Di Antara “Ketubruk Beruk” dan Nama Lengkap Bergelar: Sebuah Etnografi Kecil tentang Nama Samaran
Awalnya saya menganggap semua itu naluri. Refleks bertahan hidup versi digital. Di live commerce, manusia tidak datang sebagai manusia utuh, melainkan sebagai nama. Dan nama, seperti kita tahu sejak kecil, tidak pernah netral. Ia bisa jadi doa, bisa jadi samaran, bisa jadi tameng, bisa juga jadi pameran kecil yang tidak sadar diri.
Maka ketika akun bernama lele terbang, drakula sariawan, atau pocong go padel masuk ke live sambil ngebadut, saya tidak kaget. Saya hanya mengangguk dalam hati: oh, ini alter ego sedang keluar cari udara. Aman. Tidak berhadap-hadapan. Tidak perlu menjaga wajah. Tidak ada tetangga RT. Tidak ada dosen. Tidak ada mantan.
Erving Goffman (1959) menyebut kehidupan sosial sebagai panggung. Media sosial hanyalah versi panggung tanpa pintu belakang. Di sini, topeng justru lebih jujur daripada wajah asli. Karena ketika seseorang memilih nama lele terbang, ia sedang berkata pelan-pelan: “Saya tidak ingin diadili sebagai siapa-siapa.” Ia datang sebagai lelucon, dan lelucon adalah bentuk perlindungan yang paling murah.
Yang justru membuat saya sering terdiam adalah kebalikannya. Akun dengan nama lengkap, gelar berderet, foto formal, masuk ke live dengan sikap seperti rapat senat. Tidak bercanda. Tidak menyamarkan apa pun. Seolah berkata: “Ini saya apa adanya.” Padahal, bisa jadi itu juga alter ego—alter ego pamer, alter ego aman, alter ego yang ingin dilihat serius di ruang yang sebetulnya cair.
Psikologi sosial sudah lama mencatat ini. Sherry Turkle (1995) menulis bahwa identitas digital bukan pelarian dari diri, tapi perluasan diri. Maka nama lengkap pun bisa menjadi topeng, sama seperti nama nyeleneh. Bedanya hanya estetika. Yang satu berisik, yang satu rapi. Yang satu joget di kolom chat, yang satu berdiri tegak sambil menilai.
Saya pernah berpikir: mungkin ada orang yang ingin mengganti nickname tapi tidak tahu caranya. Mungkin ia ingin jadi ketubruk beruk, tapi terlanjur hidup sebagai Dr. Ir. So-and-so, M.Sc. Maka ia bertahan dengan identitas resmi, bukan karena berani, tapi karena bingung harus bercanda dari mana.
Di titik ini, saya berhenti menghakimi. Karena baik yang nyeleneh maupun yang terlalu “apa adanya”, sama-sama sedang mencari posisi aman. Media sosial hanyalah ruang negosiasi batin: sejauh mana saya bisa jadi diri sendiri tanpa terluka.
Antropolog menyebut ini context collapse (boyd, 2010): semua audiens bercampur di satu ruang. Teman, orang asing, atasan, bawahan, semua menyaksikan. Maka nama samaran menjadi pagar darurat. Atau sebaliknya, nama asli menjadi baju zirah.
Dan saya? Saya berdiri di tengah-tengah, menjajakan daster sambil mengamati manusia. Saya tahu, akun itu bukan orangnya. Ia hanya pintu kecil tempat emosi keluar masuk. Hari ini bercanda, besok defensif, lusa mungkin jadi pelanggan setia.
Selama tidak melukai, saya biarkan saja. Karena pada akhirnya, yang saya hadapi bukan lele terbang atau nama lengkap bergelar. Yang saya hadapi adalah manusia yang sedang memilih cara paling mungkin untuk hadir.
Dan di dunia yang terlalu serius, kadang memilih nama absurd adalah bentuk kejujuran paling waras.
0 komentar