Epifani di Lapak Daster: Budaya, Eufimisme, dan Kapitalisme Dapur
Sebagai pedagang daster—barang komoditas receh, barang harian, barang yang jarang difoto estetik—saya tidak pernah membayangkan diri saya berurusan dengan wacana budaya. Awalnya sederhana: jualan baju rumahan yang adem, longgar, dan masuk akal harganya. Dipakai untuk aktivitas yang juga sederhana: dapur, sumur, kasur. Hidup apa adanya.
Sampai suatu hari, epifani kecil itu datang.
Bukan di perpustakaan.
Bukan di seminar.
Tapi di lapak.
Saya sadar: saya bisa menjual narasi sebagai jembatan kapital.
Sejak saat itu, saya mulai belajar satu ilmu penting dalam berdagang: eufimisme. Cara menyebut sesuatu agar terdengar lebih bernilai, tanpa benar-benar berbohong. Misalnya:
“Kak, motif batik ini dulunya eksklusif kalangan bangsawan. Sekarang jadi motif daster. Dipakai di rumah. Masak, nyuci, rebahan. Kakak tidak kehilangan budaya Nusantara—hanya memindahkannya ke nuansa santai.”
Lucu, ya.
Budaya yang dulu berdiri tegak di upacara adat, kini duduk manis di dapur.
Tapi justru di situlah saya mulai berpikir: apakah ini sekadar komodifikasi budaya? Atau justru bentuk keberlanjutan yang paling jujur?
Dalam diskursus akademik, komodifikasi budaya sering dipandang sebagai dosa modern. Budaya direduksi menjadi motif, dijual, dipakai tanpa pemahaman mendalam. Ada kekhawatiran: makna hilang, sakralitas luntur, adat jadi dekorasi.
Semua itu benar.
Tapi tidak sepenuhnya.
Karena di lapangan—di pasar, di rumah-rumah, di lemari pakaian—budaya tidak hidup sebagai konsep besar. Ia hidup sebagai pola visual yang akrab, sebagai rasa “ini kita”, meski tanpa pidato panjang.
Ketika motif batik, songket, atau ragam etnik lain hadir di daster, budaya memang kehilangan sebagian formalitasnya. Tapi ia mendapatkan sesuatu yang lain: frekuensi. Ia dipakai setiap hari. Dicuci berkali-kali. Dikenakan oleh tubuh yang bekerja, bukan hanya tubuh yang dirayakan.
Budaya tidak lagi berdiri di panggung. Ia turun ke lantai keramik.
Di titik ini, daster menjadi medium antropologis yang tidak pernah direncanakan. Ia membumikan adat ke urusan domestik receh. Ia membawa simbol-simbol besar ke ruang kecil: dapur, sumur, kasur. Ruang yang selama ini jarang dianggap penting dalam narasi budaya nasional.
Dan justru di ruang itulah kehidupan paling nyata berlangsung.
Sebagai pedagang, tentu saya tidak sedang melakukan pelestarian budaya versi romantis. Saya tetap berdagang. Tetap hitung margin. Tetap berharap barang laku. Tapi saya mulai sadar: keberlanjutan budaya tidak selalu harus mulia dan khusyuk. Kadang ia bertahan karena praktis dan relevan.
Motif etnik pada daster bukan lagi klaim identitas yang berat. Ia menjadi latar hidup. Tidak menuntut perhatian, tapi terus hadir. Tidak memaksa orang memahami filosofi, tapi tetap mengingatkan asal-usul.
Dan mungkin itu bentuk keberlanjutan paling jujur di era kapital:
budaya yang tidak menolak dijual,
tapi juga tidak sepenuhnya kehilangan wajah.
Saya, pedagang daster receh, berdiri di tengah paradoks itu. Menjual kain, menjual kenyamanan, sekaligus menjual cerita kecil agar barang terasa “lebih”. Bukan untuk memuliakan budaya secara berlebihan, tapi agar ia tetap ikut hidup—meski sambil masak sayur.
Pada akhirnya, saya percaya: budaya yang hanya disimpan akan mengeras. Budaya yang dipakai akan berubah. Dan budaya yang berubah—selama masih dikenali—masih punya napas.
Meski napas itu kini beraroma sabun cuci dan bawang goreng.
0 komentar