Live Monolog: Bahlul al-Majnun, Daster, dan Seni Menyembunyikan Kebijaksanaan
“Assalamualaikum, kakak-kakak semua! 😄
Hari ini kita bahas daster, tapi bukan cuma soal kain ya… ini soal sejarah, budaya, dan sedikit filosofi hidup.
Jadi, motif daster yang saya bawakan ini, batik parang. Bukan sembarangan batik lho, ini legendaris, sudah ada sejak abad ke-17, zaman Kerajaan Mataram. Dahulu dipakai hanya oleh bangsawan, untuk menunjukkan status, keteguhan, dan kesinambungan. Sekarang? Hadir di daster, di tangan kakak, tetap pantas dan selaras.
Nah, saya suka banget nih kalau mengaitkan ini dengan tokoh Bahlul al-Majnun—Wahab bin Amr, orang Baghdad abad ke-8. Dulu cendekiawan, ahli hukum, tapi berpura-pura gila. Kenapa? Supaya bisa kritis ke khalifah tanpa dihukum, supaya kebijaksanaannya tetap aman.
Lucunya, kata ‘Bahlul’ di Indonesia sekarang berarti ‘bodoh’. Padahal, gila yang dimaksud Bahlul itu adalah strategi kebijaksanaan. Mirip saya nih, ketika live, bercanda, lompat-lompat dari sejarah batik, ke kenyamanan kain, ke etika rumah tangga, ke embedded value daster… semua sambil jualan! 😅
Jadi, kakak beli daster ini bukan cuma karena motifnya cantik atau nyaman dipakai, tapi karena… kalian sedang membeli rasa pantas. Rasa pantas merasa berharga di rumah, selaras dengan sejarah, dan… tersambung dengan budaya. Persis seperti Bahlul yang menyembunyikan kebijaksanaannya di balik kegilaan.
Makanya kalau ada yang bilang, ‘Waduh, hostnya panjang banget ngomongnya!’… tenang, ini cuma daster yang belajar antropologi 😇. Yang penting nyaman dipakai, nyaman dipandang, dan sedikit tersenyum karena sejarahnya keren.
Jadi, mau dicoba sekarang? Mau kakak masukin keranjang dulu, atau tunggu sebentar… yang penting tahu, di sini banyak pilihan, selamat memilih, dan… selamat tersenyum dengan kebijaksanaan terselip di balik kain!”
0 komentar