Monolog Live: Tangan, Simbol, dan Rahasia Lama
“Oke kak, kita santai dulu ya, sambil lihat daster ini. Tapi saya mau cerita dikit, agak nyeleneh, tapi tetap ada ilmunya 😅
Dulu orang tua kita, nenek moyang kita, ngomong itu… beda banget. Kata-katanya panjang, berlapis, penuh simbol. Misal ada kalimat lawas ini:
‘Urang teundeun di handeuleum hieum geusan sampeureun, cag urang tunda di hanjuang siang geusan alaeun…’
Kalau didengerin sekarang, kedengeran ribet, panjang, dan aneh banget. Kayak mantra gitu. Tapi sebenarnya, itu peta hidup, panduan batin, dan aturan sosial yang tersimpan rapi.
Mereka bilang, kita menaruh sesuatu di tangan—bukan cuma barang, tapi makna, rahasia, pengetahuan. Terus ditaruh di wadah siang, yang terang, tapi tetap aman. Kenapa? Karena hanya yang peka, yang ngerti bahasa, yang selaras hati, yang boleh ‘membuka’.
Bayangin kayak password hidup. Kalau kamu asal buka, nggak paham, ya tetap terkunci. Tapi kalau kamu paham… wah, tiap lapisan kata itu kayak membuka jendela, dan kamu baru ngerti kenapa dulu orang tua bilang begitu.
Sekarang kita generasi cepat, semuanya ingin instan. Tapi orang dulu sabar. Mereka nggak ngomong langsung, karena mereka tahu makna itu harus dirasakan, bukan cuma didengar. Kata-kata itu pengingat batin, etika tersembunyi, aturan sosial yang nggak kelihatan.
Jadi, pas kakak beli daster ini, inget ya… ini nggak cuma kain. Motif, warna, postur, semuanya punya cerita. Seperti kata nenek moyang: yang peka akan ngerti, yang nggak ya… ya tetep cantik, tapi nggak ngerasain dunia di balik kainnya 😏
Eh tapi jangan khawatir, nggak harus ngerti semua. Cukup kita sadar, bahwa setiap benda, setiap kata, setiap simbol itu punya dunia kecilnya sendiri. Dan kita… boleh senyum sambil menikmati dunia itu.”
0 komentar