Urang Teundeun di Handeuleum Hieum, Simbol yang Tersimpan di Tangan
Dulu, orang tua saya—dan nenek moyang mereka—berbicara dengan simbol. Tidak pernah langsung, tidak pernah gamblang. Kata-kata mereka berlapis-lapis, seperti kain batik yang setiap garisnya punya makna, setiap lipatan menyimpan cerita.
Kalimat yang mereka ucapkan kadang terdengar seperti mantra:
“Urang teundeun di handeuleum hieum geusan sampeureun, cag urang tunda di hanjuang siang geusan alaeun, paranti cokot bawaeun, dituruban ku mandepun diwadahan cupu manik astagina dibuka ku nu ngaliwat anu weruh ka semu na anu apal ka basa na anu rancingas rasa na anu rancage hate na.”
Bagi generasi sekarang, ini terdengar seperti Sunda “acak”, panjang, dan sulit dimengerti. Kita sering keliru: menganggapnya cuma basa-basi, doa lama, atau sekadar kata-kata kuno. Padahal, setiap kata mengandung peta kehidupan dan aturan batin.
Mereka menyimpan sesuatu di tangan—bukan benda, tapi makna, rahasia, pengetahuan yang penting. “Tangan” itu simbol perlindungan: apa yang tersimpan di sini, dijaga dari kesembronoan dunia. Kemudian, ditaruh di “wadah siang”—tempat yang terang, tapi tetap aman. Barang itu bisa diambil, tapi hanya oleh yang paham, peka, dan selaras. Tidak sembarang orang boleh membuka.
Simbolisme ini mirip dengan password hidup:
- Kalau kamu tidak peka, tidak tahu bahasa yang benar, tidak selaras rasa dan hati, rahasia itu tetap tertutup.
- Kalau kamu memahami, setiap lapisan kata akan membuka pintu, dan kamu akan merasakan apa yang dulu disembunyikan.
Generasi sekarang sering keliru membaca simbol. Kita ingin semuanya cepat: info instan, tutorial singkat, “klik di sini dan langsung dapat jawaban”. Kita jarang punya kesabaran untuk merasakan lapisan-lapisan di balik kata.
Orang dulu tidak mengucapkan sesuatu secara langsung karena mereka tahu: makna itu harus dirasa, bukan hanya didengar. Kata-kata itu bukan sekadar pesan, tapi pengingat batin, aturan sosial, dan etika tersembunyi.
Kalau kita menonton atau membaca kata-kata itu hari ini, jangan buru-buru menertawakan atau mengabaikannya. Bayangkan saja: ada dunia di balik telapak tangan tua itu, dunia yang dilengkapi simbol, rasa, dan hati, yang menunggu orang yang sabar dan peka untuk menemuinya.
0 komentar