Catatan Mantan Pencerah: Ketika Epifani Bertabrakan dengan Feodalisme Berjubah Adab
Ada fase dalam hidup saya—fase yang sangat berbahaya—yaitu fase ingin mencerahkan orang lain.
Biasanya muncul setelah tiga hal bertemu secara simultan: Baru kenal ChatGPT, Ingatan lama tentang pondok tiba-tiba naik ke permukaan, Merasa, “kok sekarang aku waras ya?”
Ini fase di mana seseorang merasa ingin berkata ke dunia: “Teman-teman… kayaknya kita salah paham soal adab.”
Untungnya fase ini cepat lewat.
Kalau tidak, mungkin sekarang saya sudah jadi headline:
“Alumni Pesantren Dikeroyok Karena Terlalu Waras.”
Feodalisme: Bukan Hilang, Cuma Ganti Sarung
Di pondok, ada banyak hal yang dulu dianggap biasa.
Sekarang, ketika dilihat pakai kacamata dewasa, kok rasanya… aneh tapi sakral.
Misalnya: Santri disuruh mijitin ustadz → katanya berkah, Santri disuruh ngecor bangunan → katanya jihad fisik, Santri disuruh jadi fund raising → katanya latihan kepemimpinan
Padahal kalau dipikir pelan-pelan: itu tenaga kerja gratis dengan dalih surga cicilan.
Tapi dulu kita manut.
Kenapa?
Karena semua dibungkus satu kata sakti: adab.
Adab di sini bukan lagi soal sopan santun.
Adab sudah naik level jadi tameng anti-kritik.
Kalau ada yang nyeletuk: “Ini kok agak aneh ya?”
Jawabannya singkat: “Kurang adab.”
Selesai.
Argumen mati.
Otak dikubur hidup-hidup.
Ulama Itu Mulia, Tapi Bukan NPC Tanpa Salah
Ada satu kalimat legendaris: “Daging ulama beracun.”
Saya paham ini metafora.
Masalahnya, metafora ini sering dipakai seperti pasal karet.
Ulama salah → “jangan dibahas”
Ulama khilaf → “itu ujian umat”
Ulama melenceng → “fitnah”
Padahal Nabi Muhammad sendiri ditegur langsung oleh Allah.
Surat ‘Abasa itu bukan hoaks.
Kalau Nabi saja ditegur, masa ustadz yang minta santri ngecor kebal evaluasi?
Di sini saya sadar: yang dimuliakan bukan ilmunya, tapi posisinya.
Dan begitu posisi lebih penting dari nilai, feodalisme resmi dimulai.
Epifani Receh Seorang Alumni Baru Kenal AI
Puncaknya adalah kisah legendaris:
seorang alumni curhat ke ChatGPT tentang pengalaman dipondok.
Biasa saja.
Katarsis.
Simulasi.
Receh.
Lalu…
di-screenshot.
Dan boom 💥
Grup alumni mendadak seperti sidang darurat PBB.
Ada yang marah, ada yang tersinggung, ada yang siap datang ke rumah orang.
Saya membayangkan: ChatGPT: 🤖 “Loh, saya cuma jawab”, Santri: 😅 “Oh, ini bisa dipidanakan?”, Senior: 😡 “KURANG AJAR!”
Untung pondok cepat tanggap. Kalau tidak, bisa jadi: bukan cuma santri yang trauma, tapi branding pesantren ikut roboh.
Kenapa Saya Tidak Jadi Sang Pencerah
Saya sempat tergoda. Pengen nulis panjang di grup: tentang feodalisme, tentang adab yang disalahgunakan, tentang bedanya hormat dan takut.
Tapi saya ingat satu hal: orang yang belum siap tercerahkan akan mengira kamu menghina.
Dan saya tidak mau: energi habis buat debat, kepala bocah jadi sasaran, saya berubah dari alumni waras jadi provokator
Akhirnya saya memilih jalan ninja: merenung, menulis, dan merawat diri.
Kalau ada kekerasan beneran?
Saya turun.
Bukan buat debat.
Tapi buat mendamaikan.
Karena iman yang sehat itu bukan yang paling nyaring, tapi yang paling melindungi manusia.
Epilog: Adab Itu Bukan Borgol
Adab itu harusnya: membuat manusia lembut, bukan membuat manusia bisu, menjaga martabat, bukan mengabadikan ketimpangan
Kalau suatu sistem: bikin orang takut bertanya, membela kekuasaan atas nama kesucian, dan menyebut kritik sebagai durhaka
Maka itu bukan adab. Itu feodalisme pakai peci.
Dan lucunya, semua ini baru kelihatan jelas setelah saya berhenti ingin jadi pencerah.
Ternyata, yang paling mencerahkan itu bukan teriak, tapi waras. 😄
0 komentar