Dua Puluh Juta Rupiah untuk Tidak Ribut: Catatan Ayah yang Membeli Mainan Demi Kesehatan Mental

by - 12:00 AM

Saya sering membelikan mainan atas keinginan anak.

Bukan karena saya orang tua visioner.
Bukan juga karena saya anti-disiplin.

Narasi besarnya memang indah:
“Ini mengikuti fase perkembangan anak.”

Narasi kecil di dapur batin jauh lebih jujur:
“Biar nggak ribet.”

Dan dua-duanya benar.

Kalau dihitung kasar, mainan dua anak saya—dari yang edukatif sampai yang “edukatif katanya”—kalau dinominalkan, rasanya sudah lebih dari 20 juta rupiah.
Angka yang cukup untuk membuat alis kiri naik, dan alis kanan ikut mikir.

Tapi lalu saya sadar, ini bukan sekadar mainan.
Ini biaya SPP fase perkembangan.

Jean Piaget (1952) sudah lama bilang, anak belajar lewat interaksi konkret dengan benda. Mainan itu bukan objek mati, tapi alat negosiasi realitas. Anak belajar sebab–akibat, frustrasi, keberhasilan, dan—ini penting—menunggu giliran.

Lev Vygotsky (1978) menambahkan satu lapisan lagi: anak berkembang optimal di zone of proximal development, wilayah di mana ia dibantu, bukan ditinggal, dan juga tidak ditarik paksa.
Di sinilah peran orang tua: rem tipis-tipis.

Bukan rem mendadak.
Bukan gas pol.

Rem tipis-tipis itu bentuk kebijaksanaan yang tidak seksi tapi tahan lama.

Kalau semua keinginan ditolak, anak belajar dunia itu pelit.
Kalau semua keinginan dipenuhi, anak belajar dunia itu ATM.

Maka saya memilih jalur abu-abu yang melelahkan tapi relatif waras:
dibeli, tapi tidak selalu;
dituruti, tapi disertai jeda;
dipenuhi, sambil diingatkan bahwa tidak semua ingin harus jadi milik.

Dalam psikologi modern, ini dekat dengan konsep delay of gratification yang terkenal lewat eksperimen marshmallow Walter Mischel (1972). Anak yang dilatih menunda keinginan cenderung lebih adaptif secara emosi di masa depan. Tapi—ini sering dilupakan—latihan itu bukan dengan kekerasan, melainkan kehadiran orang dewasa yang konsisten.

Islam jauh sebelum itu sudah memberi rambu serupa.

Al-Ghazali (w. 1111 M) dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa anak perlu dibiasakan mengelola keinginan, bukan dimatikan keinginannya. Nafsu tidak dibunuh, tapi diarahkan. Kalau dipukul terus, ia tumbuh liar di belakang.

Ibnu Khaldun (1377) bahkan lebih keras: pendidikan yang terlalu menekan akan melahirkan jiwa yang lemah, licik, atau penuh kepura-puraan. Anak patuh di depan, tapi memberontak diam-diam.

Saya tidak ingin itu.

Maka saya membayar 20 juta bukan hanya untuk mainan.
Saya membayar untuk:

  • ketenangan batin saya,
  • ruang eksplorasi anak,
  • dan pengurangan konflik harian yang tidak perlu.

Ini bukan kemewahan.
Ini strategi bertahan hidup orang tua kelas menengah yang sadar kapasitas emosi sendiri terbatas.

Dan ya, sambil terus diingatkan:
Nak, tidak semua yang kamu mau harus kamu punya.
Kadang, yang kamu butuhkan cuma tahu bahwa keinginanmu didengar.

Kalau suatu hari mereka dewasa dan bertanya,
“Ayah dulu kok sering beliin mainan?”

Saya ingin bisa menjawab jujur:
“Supaya kamu tumbuh, dan ayah tidak kehilangan akal sehat.”

Dan menurut saya, itu investasi yang masih masuk akal. 😄

You May Also Like

0 komentar