Plothole, Fase Hidup, dan Kenapa Luffy Tidak Langsung Gear 5 Sejak Episode 1
Saya penggemar anime populer. Populer, garis bawah dua kali. One Piece, Dragon Ball, Naruto—saya nonton. Tapi berhenti di situ. Tidak pakai foto profil karakter anime, tidak debat panjang soal power scaling, tidak merasa tercerahkan secara spiritual karena jurus baru. Hiburan ya hiburan. Titik.
Dan justru karena saya menonton dengan santai, saya bisa tertawa melihat satu hal yang bagi sebagian orang terasa sakral: plothole.
Mari jujur. Dragon Ball itu absurd. Kakarot—awalnya bocah berekor yang kerjaannya cuma “bak-buk-buk”—pelan-pelan naik level: Super Saiya, Super Saiya 2, 3, God, Blue, sampai Ultra Insting. Saya sering nyeletuk dalam hati: “Kenapa nggak dari awal aja, Toriyama? Hemat episode.”
Jawabannya sederhana: karena hidup tidak ditulis seperti proposal skripsi.
Begitu juga One Piece. Luffy awalnya cuma manusia karet yang dipukul sana-sini. Lalu muncul Gear 2, 3, 4, 5, lalu Haki. Dan Shanks—tokoh misterius, aura dewa—kehilangan tangan dimakan belut laut. Enthusiast lalu berdiskusi serius: “Itu sebelum konsep Haki matang.”
Ya memang. Itu namanya fase, bukan dosa teologis.
Naruto lebih lucu lagi. Kalau dari awal Naruto langsung mode Kyubi penuh, tamatlah cerita di episode belasan. Tidak ada Chunin Exam, tidak ada Gaara, tidak ada Sasuke galau. Tapi justru karena Naruto bodoh dulu, kita betah nonton. Carol Dweck dalam Mindset (2006) menjelaskan bahwa manusia lebih terikat pada narasi pertumbuhan, bukan kesempurnaan instan. Karakter tanpa fase itu membosankan—seperti orang yang baru kenal langsung sok bijak.
Para begawan anime—yang hafal tanggal rilis manga dan jumlah chakra—akhirnya mengakui juga: iya, para author ini inkonsisten. Dan inkonsistensi itu kemudian dinamai lebih elegan: plot twist. Saya tertawa. Ini mirip manusia yang tidak konsisten lalu menyebutnya proses pendewasaan.
Lucunya, pola yang sama saya temukan di tulisan saya sendiri.
Awalnya saya cuma menulis: “Mengapa manusia selalu ingin ada makna di balik kejadian?”
Lalu pelan-pelan artikel saya melebar: bahas kuku panjang, plat kendaraan nyolot, pemotor yang sabar nunggu lampu merah padahal kanan-kiri kosong. Kalau ada pembaca fanatik, mungkin mereka akan bilang: “Ini penulis inkonsisten.”
Padahal ya tidak. Ini fase hidup orang yang pikirannya kebanyakan ruang kosong.
Dalam psikologi naratif, Dan McAdams (1993) menjelaskan bahwa manusia membangun identitas lewat cerita yang tidak rapi, penuh revisi, dan sering kontradiktif. Konsistensi total itu ilusi. Yang ada hanya sense-making sementara. Hari ini kita reflektif, besok kita julid, lusa kita tertawa sendiri di balkon.
Islam sendiri sangat tenang menghadapi fase. Al-Qur’an tidak turun sekaligus. Wahyu turun bertahap selama 23 tahun. Imam Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa tadarruj (bertahap) adalah metode ilahi agar manusia sanggup menerima perubahan. Kalau Tuhan saja tidak menurunkan semuanya sekaligus, kenapa Luffy harus langsung Gear 5 dari episode 1?
Bahkan Umar bin Khattab pernah menangguhkan hukum potong tangan saat paceklik. Apakah itu inkonsisten? Tidak. Itu kontekstual. Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 1350) menulis dalam I’lam al-Muwaqqi’in bahwa hukum tanpa memahami konteks justru melahirkan kezaliman. Inkonsistensi tanpa konteks itu ceroboh; inkonsistensi dengan kesadaran itu hikmah.
Masalahnya, manusia modern sering alergi pada fase. Kita ingin semuanya rapi, konsisten, dan bisa dijadikan konten. Begitu melihat plothole, langsung teriak: “Author goblok!” Padahal mungkin kita sedang menyaksikan cerita yang masih bernapas.
Dan mungkin, itu sebabnya saya tidak marah pada artikel saya sendiri yang “makin edan”. Dari bahas makna hidup, nyemplung ke plat nomor, nyasar ke lampu merah Wonogiri. Kalau hidup saya anime, ini bukan filler—ini character development versi receh.
Karena hidup bukan anime pendek 12 episode.
Lebih mirip One Piece: kepanjangan, inkonsisten, kadang ngeselin, tapi anehnya… tetap ditonton.
0 komentar