Jenggot, Dahi Hitam, dan Ayat yang Tersandung Ego, Catatan tentang Kesalehan, Kesalahpahaman, dan Cara Kita Saling Mengeras
Ada satu momen dalam hidup beragama ketika niat baik bertemu reduksi, lalu berubah jadi ego yang berdiri tegak sambil menunjuk ke mana-mana. Momen itu biasanya sederhana: seseorang merasa telah “mewujudkan” gambaran umat nabi. Jenggot ada. Celana cingkrang ada. Dahi hitam, alhamdulillah, tampak nyata. Lalu ada rasa: inilah bentuknya.
Silakan. Sampai titik itu, tidak ada masalah.
Masalah muncul ketika bentuk berubah menjadi standar, dan standar berubah menjadi palu. Dari sini, agresi menemukan dalil, dan ego menemukan justifikasi.
Padahal, jika kita buka sedikit saja kitab tafsir—bukan meme tafsir—kita akan bertemu para ulama yang sejak awal sudah ribet soal konteks. Al-Ghazali bicara tentang batin sebelum zahir. Ibn ‘Ashur mengingatkan bahwa ayat selalu lahir dalam situasi sosial tertentu. Bahkan Ibn Taymiyyah, yang sering diklaim sebagai rujukan “keras”, berulang kali menekankan bahwa penerapan ayat tanpa memahami maqashid adalah sumber kezaliman baru. Tapi semua itu kalah cepat dibanding satu foto close-up dahi dan caption penuh iman.
Reduksi ini pelan-pelan melahirkan benturan ego. Ego satu berkata: kami umat nabi. Ego lain—yang juga merasa waras—berkata: diam atas kekeliruan adalah normalisasi. Maka bantahan pun lahir. Bukan bantahan sunyi, tapi bantahan sambil menegakkan dada. Sama-sama merasa benar, sama-sama merasa sedang membela kebenaran.
Di titik ini, manusia waras pun tidak sepenuhnya bersih. Kita mulai menyimpan stigma. Setiap jenggot panjang terasa mencurigakan. Setiap cingkrang seolah membawa potensi ceramah tanpa undangan. Padahal, belum tentu. Banyak dari mereka juga manusia biasa: ngopi, bercanda, sayang anak, dan tidak pernah memukul siapa pun pakai ayat. Tapi stigma terlanjur lahir, karena pengalaman sosial sering lebih keras daripada klarifikasi akademik.
Sebaliknya, dari sisi mereka, stigma juga bekerja. Sekular. Liberal. Abu-abu. Dekat dengan kekafiran. Lalu satu ayat dikeluarkan dari konteks sejarahnya: asyidda’u ‘alal kuffar. Yang tadinya bicara tentang komunitas Madinah dalam situasi konflik eksistensial, berubah menjadi kalimat praktis: anda kuffar, maka wajar kami kerasin.
Di sini, ayat bukan lagi cahaya, tapi stempel. Dan stempel selalu butuh objek.
Padahal, para sarjana Muslim kontemporer—dari Fazlur Rahman sampai Abdullah Saeed—sudah lama mengingatkan: teks suci tidak pernah turun ke ruang hampa. Ia turun ke manusia dengan emosi, trauma, relasi kuasa, dan dinamika sosial. Menghapus konteks berarti memaksa teks bekerja di luar niat etiknya. Dalam ilmu sosial, ini disebut decontextualized moral reasoning. Dalam bahasa sehari-hari: ayatnya jalan, akalnya ketinggalan.
Ilmu psikologi sosial juga punya catatan menarik. Ketika identitas keagamaan direduksi menjadi simbol visual, otak manusia cenderung masuk ke mode in-group vs out-group. Begitu itu aktif, empati menurun, agresi naik, dan segala sesuatu terasa sah asal “demi kelompok”. Ini bukan soal iman kuat atau lemah. Ini soal cara kerja otak mamalia yang dibungkus jubah teologis.
Yang lucu—atau tragis—kita semua sebenarnya korban pola yang sama. Sama-sama ingin aman secara eksistensial. Sama-sama ingin diakui sebagai “benar”. Bedanya hanya: sebagian memilih dahi, sebagian memilih ironi. Sebagian memilih dalil keras, sebagian memilih satire sambil ngopi. Tapi akarnya serupa: ketakutan menjadi salah sendirian.
Maka ketika aku tertawa melihat semua ini, sebenarnya aku sedang menertawakan diriku sendiri. Aku juga pernah tergoda merasa “lebih jernih”. Merasa “lebih paham konteks”. Dan itu pun ego, hanya bentuknya lebih rapi. Untungnya, humor masih jadi rem darurat. Humor membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: jangan-jangan aku juga sedang membangun menara kebenaran sendiri?
Agama, pada akhirnya, bukan soal siapa paling mirip poster. Tapi siapa yang paling mampu menahan diri saat merasa paling benar. Nabi tidak dikenal karena dahi hitamnya, tapi karena orang merasa aman di sekitarnya—bahkan yang tidak sepakat dengannya. Itu bukan slogan. Itu fakta historis yang ditulis oleh kawan dan lawan.
Kalau hari ini ayat dipakai untuk mengeras, mungkin bukan ayatnya yang salah. Mungkin kita terlalu terburu-buru ingin selesai, padahal iman itu kerja seumur hidup. Dan kerja panjang memang melelahkan. Makanya, sesekali kita memilih jalan pintas: simbol, stigma, dan sedikit teriakan.
Silakan saja. Manusia memang begitu.
Tapi kalau boleh memilih, aku ingin tetap berada di barisan yang bisa tertawa sambil mengoreksi diri. Yang berani bilang: mungkin aku belum sepenuhnya benar. Karena di dunia yang penuh orang merasa paling umat nabi, sikap paling langka justru ini: tidak tergesa menghakimi, dan tidak terlalu percaya pada pantulan diri sendiri di cermin iman.
0 komentar