Klakson, Lampu Merah, dan Saya yang Ternyata Tidak Konsisten
Saya pikir kemarahan saya di jalan raya itu konsisten. Ternyata tidak. Ia oportunis, kontekstual, dan sangat bergantung pada kepadatan lalu lintas.
Saya sebal saat macet, lalu ada klakson panjang dari belakang. Dalam kepala saya langsung muncul doa setengah makian: kalau buru-buru, kenapa nggak berangkat dari kemarin? Ini katarsis internal—tidak keluar lewat klakson, tapi mengendap di batin sambil tangan tetap di setir, kaki di rem, dan wajah sok sabar.
Anehnya, beberapa waktu kemudian, saya berada di Wonogiri. Jalan utama lengang. Siang hari. Matahari terang. Tidak ada polisi. Tidak ada motor lain. Tidak ada kambing nyebrang. Tidak ada alasan objektif untuk berhenti—kecuali satu hal: lampu merah.
Dua motor berhenti. Diam. Patuh. Seperti sedang menjalankan ibadah lalu lintas sunnah muakkad.
Dan saya, yang tadi begitu bermoral di kemacetan kota, mendadak ingin berkata kasar di dalam mobil: woi… kanan kiri kosong, ini lampu merah apa jimat? Terabas aja napa.
Di titik itu saya sadar:
yang membuat saya marah bukan klakson,
bukan lampu merah,
tapi ketidakselarasan antara ekspektasi saya dan realitas orang lain.
Di kota, saya menuntut empati: jangan klakson, kita sama-sama capek.
Di desa, saya menuntut efisiensi: ngapain patuh kalau aman?
Saya ingin orang lain menyesuaikan diri dengan logika saya—yang ironisnya, berubah-ubah tergantung situasi.
Di Jakarta, rambu itu negosiasi.
Di Ciledug, rambu itu tantangan hidup.
Di BSD, rambu itu dekorasi kota.
Di Wonogiri, rambu itu… ya rambu. Titik.
Dan saya?
Saya ini cuma pengendara yang jarang keluar rumah, sok reflektif, tapi tetap manusia biasa yang bisa kesal karena hal yang saling bertentangan.
Saya sebal pada klakson karena macet.
Saya sebal pada kepatuhan karena sepi.
Artinya sederhana:
bukan jalanannya yang bermasalah,
tapi saya yang masih belajar menerima bahwa orang lain tidak hidup di sistem emosi dan logika yang sama dengan saya.
Akhirnya saya tidak klakson.
Tidak turun kaca.
Tidak memaki.
Saya menunggu lampu hijau bersama dua motor itu.
Dan di situ saya kalah—bukan oleh aturan, tapi oleh kesadaran kecil bahwa hidup memang tidak harus selalu efisien menurut versi saya.
Kadang, berhenti di lampu merah yang sepi bukan soal takut ditilang,
tapi soal merasa tenang karena melakukan hal yang dianggap benar, walau tidak perlu.
Dan mungkin, di situlah saya belajar berdamai:
bahwa dunia tidak perlu selalu dipercepat,
dan saya tidak wajib selalu benar—
cukup tidak menabrak siapa pun, termasuk ego sendiri.
0 komentar