Satu Ayat, Seribu Keributan: Catatan Orang yang Belajar Diam Agar Tidak Ikut Bodoh

by - 6:00 AM

Ada fase dalam hidup saya ketika saya sadar: kepala ini bukan tong sampah kosmik. Tidak semua isu perlu diangkut, diurai, lalu ditumpahkan kembali ke publik dalam bentuk status, artikel, atau utas sok tercerahkan. Sebagian cukup lewat telinga, dicatat, lalu dibiarkan menguap. Di titik itulah saya menemukan kembali satu kaidah lama yang sering kalah pamor oleh slogan yang lebih viral: yakfiika min syarrihi simaa’uhu—cukup bagimu dari keburukan itu hanya dengan mendengarnya.

Kalimat ini terasa membumi. Tidak heroik. Tidak mengajak perang wacana. Tidak menjanjikan pahala instan. Tapi justru di situlah keindahannya: ia mengajarkan disiplin batin. Bahwa tidak semua keburukan perlu dikomentari, dan tidak semua informasi perlu dijadikan panggung dakwah pribadi. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulum al-Din (sekitar 1100 M), sudah lama mengingatkan bahwa menjaga lisan dan batin dari hal sia-sia adalah fondasi akhlak, bukan tanda apatis. Diam, dalam konteks tertentu, adalah bentuk kecerdasan moral.

Masalahnya, kaidah ini sering kalah oleh reduksi lain yang lebih “macho”: ballighuu ‘annii walau aayah—sampaikan dariku walau satu ayat. Kalimat yang mulia, tentu saja. Tapi ketika diperas habis-habisan tanpa konteks, ia berubah menjadi palu godam moral. Satu ayat, satu potongan hadis, satu potong realitas, lalu bam!—dipukul ke kepala orang lain dengan dalih dakwah. Seolah-olah setiap orang yang tahu sedikit otomatis wajib bicara banyak.

Di sinilah reduksi cupu itu bekerja. Ballighuu ‘annii dipahami sebagai lisensi bicara tanpa syarat epistemik. Tidak perlu paham ushul, tidak perlu tahu maqashid, tidak perlu memahami dampak psikologis sosial. Yang penting: niat baik, ayat di tangan, dan mikrofon di depan. Padahal ulama klasik seperti Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat (abad ke-14) sudah menegaskan bahwa penyampaian hukum dan nilai harus mempertimbangkan konteks, kemampuan audiens, dan potensi mudarat. Tanpa itu, kebenaran bisa berubah menjadi kekerasan simbolik.

Ilmu sosial modern mengamini hal yang sama. Hannah Arendt, dalam Eichmann in Jerusalem (1963), memperkenalkan konsep “banalitas kejahatan”: kerusakan besar sering lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari ketidakmampuan berpikir kritis saat menjalankan sesuatu yang dianggap benar. Niat baik tanpa refleksi bukan netral—ia berbahaya. Psikologi sosial, lewat riset Paul Slovic (1987) tentang psychic numbing, juga menunjukkan bahwa paparan isu moral berulang tanpa kapasitas refleksi justru menumpulkan empati dan kejernihan.

Saya belajar pelan-pelan. Tidak semua isu besar perlu saya tanggapi. Panama Papers, Epstein Files, skandal ini-itu—cukup saya dengar. Saya bukan hakim. Bukan jaksa. Bukan penyelamat umat. Menulis tanpa otoritas hanya akan menambah noise. Dalam bahasa saya yang lebih jujur: yakfiika min syarrihi simaa’uhu adalah rem tangan agar saya tidak sok suci di jalan licin.

Ini bukan anti-dakwah. Justru ini upaya menyelamatkan dakwah dari kegaduhan. Nabi sendiri, menurut riwayat-riwayat sahih, sering memilih diam ketika bicara justru akan memperkeruh keadaan. Diam beliau bukan kosong; diam beliau penuh pertimbangan. Bahkan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin (abad ke-14) menulis bahwa kebijaksanaan adalah menempatkan sesuatu pada waktunya—termasuk kapan harus bicara dan kapan harus menahan diri.

Maka saya memilih jalur yang mungkin dianggap pengecut oleh sebagian orang: membaca, mencatat, lalu kembali ke hidup sehari-hari. Mengurus anak, menertawakan diri sendiri, mengelola emosi receh, menulis hal kecil yang tidak mengubah dunia tapi menyelamatkan kewarasan saya. Jika semua orang harus bicara, siapa yang berpikir? Jika semua merasa wajib menyampaikan, siapa yang bertanggung jawab atas dampaknya?

Saya tidak anti satu ayat. Saya hanya anti menjadikan satu ayat sebagai senjata tanpa akal sehat. Saya memilih percaya bahwa iman yang matang tidak panik, tidak reaktif, dan tidak merasa harus ikut semua keributan. Karena terkadang, menjaga kejernihan batin jauh lebih religius daripada ikut lomba siapa paling lantang membawa kebenaran.

Dan kalau itu membuat saya dianggap kurang berani—tidak apa-apa. Saya sedang belajar satu hal yang sulit di zaman ini: diam yang cerdas 😄

You May Also Like

0 komentar