Taksonomi Homo Sapiens Berdasarkan Nomor Provider (Sebuah Studi Lapangan dari Grup WhatsApp Galon & Gas)
Saya baru sadar: manusia itu makhluk simbolik yang tidak pernah kehabisan cara memberi makna pada hal yang sebetulnya netral.
Bukan cuma zodiak, shio, weton, atau numerologi.
Nomor provider pun—ternyata—punya taksonomi sosial.
Dan seperti biasa, saya tidak berdiri sebagai pengamat netral.
Saya pelaku.
Ambil contoh: Halo 0811, 10 digit.
Di kepala kolektif masyarakat urban, ini nomor eksmud. Atau minimal, “orang penting”.
CEO. Direktur. Komisaris bayangan.
Nomor yang kalau muncul di layar HP, orang mikir: “wah ini serius.”
Padahal, di HP istri saya, nomor ini lebih sering dipakai buat:
- beli daster,
- nanya admin toko,
- dan debat ringan di grup WhatsApp wali murid soal giliran piket.
Aura CEO-nya langsung rontok oleh stiker “makasih yaa kak 🙏”.
Lalu ada Indosat 0816, 10 digit.
Ini kasta menengah ke atas.
Masih dianggap eksmud. Atau kepala divisi.
Minimal orang yang kalau nelpon, nadanya tenang dan tidak panik.
Padahal isi chat saya:
“Yang, gas abis.”
“Galon udah kosong.”
“Jangan lupa ambil paket.”
Jabatan saya jelas: Kepala Divisi Logistik Rumah Tangga.
Naik sedikit ada 0817, 10 digit.
Ini sudah masuk zona mistis:
orang penting tapi rendah hati.
Bisa pejabat, bisa pengusaha, bisa orang yang “punya jaringan”.
Padahal bisa saja itu mamang angkat galon,
yang nomor cantiknya hasil beli zaman dulu saat masih murah
dan sekarang dipertahankan dengan penuh kebanggaan,
sambil tiap hari mengangkat beban yang jauh lebih nyata daripada rapat direksi.
Lalu kita turun ke wilayah yang sering diremehkan:
0812, 0815, 0821, 0823.
Apalagi kalau provider 3 atau Axis.
Langsung muncul label tak tertulis:
“oh ini rakyat.”
“ini kelas bawah.”
“ini paket malam.”
Padahal kenyataannya sering jauh lebih logis dan membumi:
“Di desa saya, cuma ini yang ada sinyal.”
Selesai.
Tidak ada filosofi.
Tidak ada ambisi simbolik.
Yang penting: telepon masuk, WA terkirim, hidup lanjut.
Tapi manusia tidak puas sampai di situ.
Kita harus menyusun hierarki.
Maka billboard marketing perumahan pun paham betul psikologi ini.
Nomor marketing jarang pakai angka biasa.
Muncullah nomor-nomor sakral:
0811 300 300
0811 888 999
Nomor yang secara tidak sadar berbisik ke calon pembeli: “Tenang Pak, ini properti serius. Bahkan nomornya pun mapan.”
Padahal mungkin harga nomor itu saja
sudah setara DP rumah tipe 36 di pinggiran kota.
Tapi secara pragmatis, itu masuk akal.
Marketing butuh nomor:
- gampang diingat,
- cepat dicatat saat mobil melaju,
- dan cukup ‘wah’ untuk memicu kepercayaan.
Masalahnya, kita—sebagai manusia—sering lupa berhenti di pragmatis.
Kita lanjut ke mistifikasi.
Nomor jadi identitas.
Provider jadi kelas sosial.
Digit jadi nasib.
Kita lupa satu hal sederhana: nomor itu dipilih, bukan diturunkan dari langit bersama takdir dan jabatan.
Saya dan istri bangga dengan nomor 10 digit kami.
Bukan karena maknanya.
Tapi karena gampang dihafal.
Anak-anak saya?
Saya kasih ujung nomor 5757.
Bukan karena “maju-maju”,
tapi karena murah saat itu dan lucu di mata saya.
Kalau suatu hari mereka sukses,
orang bisa saja bilang:
“wah, dari kecil nomornya udah hoki.”
Padahal saya tahu persis: itu cuma hasil browsing lama sambil mikir saldo.
Di titik ini, saya tidak sedang menertawakan orang lain.
Saya sedang menertawakan kecenderungan manusia,
termasuk diri saya sendiri.
Kita memberi makna pada angka,
lalu hidup seolah makna itu nyata.
Padahal yang nyata tetap sama:
mau nomor cantik atau tidak,
kalau kena macet ya macet,
kalau galon habis ya tetap harus diangkat,
dan kalau hidup berat,
tidak ada provider premium yang otomatis meringankan.
Mungkin itu sebabnya tulisan-tulisan receh seperti ini muncul saat saya idle.
Saat saya tidak sedang berusaha terlihat pintar.
Saat saya cuma duduk, bengong,
dan membiarkan pikiran bermain-main dengan hal sepele.
Karena kadang,
kebenaran paling jujur
datang bukan dari angka besar dan simbol megah,
tapi dari chat sederhana:
“Yang, gas abis.”
Dan nomor apapun yang mengirim pesan itu,
tetaplah nomor manusia.
0 komentar