Indo-Kage dan Desa Konoha Raya: Ketika Hokage Turun ke TPS
Ada satu fase hidup manusia Indonesia modern:
fase ketika nonton Naruto, lalu tiba-tiba mikir,
“Lah… ini kok kaya sejarah Indonesia?”
Bukan karena kita halu.
Tapi karena otak manusia memang suka pola, apalagi kalau polanya lucu dan sedikit nyentil.
Maka lahirlah satu genre baru:
Indo-Kage — sejarah nasional versi ninja, tanpa APBN tapi penuh chakra.
Soekarno sebagai Hashirama itu masuk akal secara batin.
Bapak pendiri, karismatik, pidato berapi-api, optimisnya kebangetan.
Hashirama percaya semua klan bisa rukun.
Soekarno percaya semua ideologi bisa duduk bareng.
Keduanya sama-sama:
percaya manusia itu baik,
dan sama-sama agak kaget ketika realitas bilang:
“Mas, nggak sesederhana itu.”
Lalu masuklah Tobirama.
Atau dalam versi Indo-Kage: Soeharto.
Yang satu ninja, yang satu jenderal.
Tapi keduanya sepakat soal satu hal:
stabilitas dulu, perasaan belakangan.
Kalau Tobirama melihat Uchiha dan bilang,
“Ini klan bahaya, harus diawasi,”
versi lokalnya bilang,
“Ini ideologi bahaya, harus dibereskan.”
Apakah benar?
Apakah salah?
Itu nanti dibahas sejarawan.
Yang jelas, keduanya membangun sistem dari rasa takut yang belum sembuh.
Dan sistem itu rapi. Terlalu rapi.
Lalu datang Hiruzen Sarutobi, si kakek baik hati.
Di Indo-Kage, ia berubah jadi BJ Habibie.
Sama-sama jenius.
Sama-sama lembut.
Sama-sama naik di masa transisi ketika negara lagi batuk darah.
Hiruzen kebanyakan mikir.
Habibie kebanyakan mikir.
Negara kadang butuh itu, kadang juga butuh yang lebih galak.
Dan sejarah berkata:
“Terima kasih, tapi waktumu singkat.”
Minato sebagai Gus Dur itu cocoklogi yang bikin nyengir lama.
Cepat, ringan, suka muncul di tempat tak terduga.
Hiraishin no jutsu versi lokal:
datang ke kelompok yang saling curiga, lalu bilang,
“Tenang, kita ngobrol dulu.”
Keduanya pemersatu.
Keduanya keburu pergi.
Dan setelah itu, orang-orang baru sadar:
“Eh, kok dia penting ya?”
Megawati sebagai Tsunade?
Ya jelas.
Ada garis darah, ada warisan sejarah, ada beban nama besar.
Tsunade dan Megawati sama-sama:
tidak minta jadi simbol,
tapi terlanjur jadi simbol.
Dua-duanya kuat.
Dua-duanya sering diremehkan.
Dua-duanya memimpin sambil terus dibandingkan dengan masa lalu.
SBY sebagai Kakashi juga bikin senyum miring.
Mantan militer.
Tenang.
Banyak mikir.
Kadang terlalu banyak mikir.
Kakashi suka baca buku sambil jaga desa.
SBY suka nulis sambil jaga negara.
Sama-sama aman.
Sama-sama stabil.
Dan sama-sama bikin sebagian orang bilang:
“Ya bagus sih… tapi kok gitu ya?”
Lalu muncullah Naruto.
Alias Jokowi, versi cocoklogi.
Bukan bangsawan.
Bukan elite lama.
Datang dari bawah, dari gang, dari pinggir desa.
Naruto dan Jokowi punya satu kesamaan penting:
diremehkan di awal.
Terlalu polos, katanya.
Terlalu sederhana, katanya.
Terlalu tidak elit, katanya.
Tapi justru itu yang bikin orang percaya.
Apakah Masashi Kishimoto sedang menulis tentang Jokowi?
Tentu tidak.
Itu terlalu lebay.
Paling banter, MK nyengir sambil bilang:
“Ya nikmati saja ceritanya.”
Karena Naruto bukan Jokowi.
Konoha bukan Indonesia.
Dan Indo-Kage ini bukan tesis doktoral.
Ini cuma cara otak kita main-main dengan sejarah,
supaya politik tidak selalu bikin dahi berkerut.
Pada akhirnya, Indo-Kage mengajarkan satu hal sederhana:
sejarah, anime, dan politik itu sama-sama penuh cocoklogi.
Yang bahaya bukan cocokloginya,
tapi kalau kita mulai percaya sepenuhnya.
Jadi silakan tertawa.
Silakan nyengir.
Silakan bilang,
“Wah, mirip juga ya.”
Tapi habis itu, tutup layar, minum kopi,
dan ingat:
ini cuma cerita ninja. Negara aslinya jauh lebih ribet. 😅
0 komentar