Satu Ayat, Satu Palu, dan Niat Baik yang Kebablasan

by - 6:00 PM

Saya akhirnya paham—pelan-pelan, sambil ketawa kecut—kenapa satu ayat bisa berubah jadi palu moral. Rupanya, ia tidak jatuh dari langit sendirian. Ia punya pasangan logika yang setia: sebuah hadis yang sering dikutip dengan penuh semangat, “sampaikan kebenaran walau satu ayat.”

Di kepala banyak orang, dua kalimat ini bertemu, kawin, lalu melahirkan anak bernama kepastian moral.

Ini satu ayat.
Ini benar.
Maka harus seperti saya.
Dan harus saya sampaikan.
Kalau kamu tidak terima, itu risiko dakwah.

Selesai.

Masalahnya, kehidupan—dan agama—tidak pernah sesingkat caption.

Dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, hadis ballighu ‘anni walau ayah tidak pernah dipahami sebagai karpet merah bagi siapa pun untuk menjadi hakim instan. Imam An-Nawawi, misalnya, menekankan bahwa penyampaian kebenaran mensyaratkan ilmu, hikmah, dan kemampuan membaca situasi. Ibn Qayyim bahkan mengingatkan bahwa menyampaikan kebenaran dengan cara yang salah bisa mengantarkan pada mafsadat yang lebih besar daripada diam sementara. Tapi peringatan seperti ini jarang viral. Terlalu panjang, terlalu ribet, dan kurang heroik.

Akibatnya, satu ayat direduksi. Lalu reduksi itu direduksi lagi. Dari pesan etik menjadi slogan, dari slogan menjadi senjata, dari senjata menjadi pembenaran agresi. Dalam kajian komunikasi, ini dikenal sebagai oversimplification bias: kecenderungan manusia menyukai pesan yang singkat, tegas, dan memberi rasa kendali, meski realitasnya jauh lebih kompleks.

Saya jadi teringat diskusi lama soal sertifikasi da’i. Dulu saya sangat setuju, bukan karena ingin memonopoli mimbar, tapi karena alasan yang sangat manusiawi: agar orang yang berbicara atas nama Tuhan setidaknya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Punya literasi dasar. Paham batas. Mengerti bahwa tidak semua kebenaran perlu diucapkan saat itu juga, kepada semua orang, dengan nada yang sama.

Dalam dunia medis, orang tidak boleh asal praktik tanpa lisensi. Dalam hukum, hakim tidak boleh mengadili tanpa pendidikan dan sumpah. Tapi dalam urusan tafsir moral—yang dampaknya bisa membelah keluarga, masyarakat, bahkan negara—kita sering berkata: yang penting niatnya baik. Padahal psikologi sosial sudah lama mencatat bahwa niat baik tanpa kompetensi adalah salah satu sumber kerusakan paling konsisten dalam sejarah manusia.

Usulan sertifikasi itu tentu saja menguap. Tenggelam pelan-pelan. Kalah oleh suara mayoritas yang merasa: siapa pun berhak bicara, karena ini agama, bukan ilmu eksakta. Di balik argumen itu, sering tersembunyi satu hal yang jarang diakui: ego. Ego yang tidak ingin diukur. Ego yang merasa otoritasnya datang langsung dari langit, tanpa perlu diverifikasi di bumi.

Di titik ini, saya tidak sedang menyalahkan siapa pun secara tunggal. Saya justru melihat pola yang sangat manusiawi. Ketika hidup terasa tidak pasti, orang mencari pegangan yang paling keras. Ayat yang kontekstual terasa terlalu cair. Tafsir yang berlapis terasa melelahkan. Maka dipilihlah satu kalimat yang tegas. Dipahat jadi palu. Dipakai memukul dunia yang terasa berisik.

Sayangnya, palu tidak dirancang untuk membedah. Ia hanya tahu memukul.

Padahal, para pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman dan Nasr Hamid Abu Zayd sudah lama mengingatkan bahwa wahyu bukan hanya teks, tapi juga proses pemaknaan yang hidup. Tanpa kesiapan intelektual dan emosional, ayat bisa kehilangan ruh etiknya dan tinggal menyisakan bunyi. Dalam istilah sosiologi agama, ini disebut ritualization without moral internalization: agama tetap bergerak, tapi maknanya berhenti tumbuh.

Di sinilah saya mulai berdamai dengan kegelisahan sendiri. Bahwa mungkin masalahnya bukan pada ayat, bukan pula pada hadis, tapi pada cara kita memperlakukan keduanya sebagai alat penyederhanaan diri. Satu ayat dijadikan jalan pintas agar tidak perlu repot memahami manusia. Agar tidak perlu mendengar cerita orang lain. Agar tidak perlu meragukan diri sendiri.

Dan jujur saja, godaan itu besar. Sangat besar. Saya pun pernah ingin selesai cepat. Pernah ingin berkata: pokoknya begini. Tapi hidup—dan pengalaman sosial—selalu menarik saya kembali ke satu kesimpulan yang tidak nyaman: kebenaran tanpa kesiapan batin hanya akan melahirkan perlawanan, bukan pencerahan.

Mungkin karena itu, dakwah yang paling sulit justru dakwah ke diri sendiri. Bukan menyampaikan satu ayat ke orang lain, tapi menahan diri untuk tidak menjadikannya palu. Menunggu momen. Membaca situasi. Dan menerima bahwa tidak semua orang harus sampai pada kesimpulan yang sama dengan kita, di waktu yang sama, dengan cara yang sama.

Itu tidak heroik. Tidak terasa gagah. Tidak viral.

Tapi mungkin—hanya mungkin—di situlah letak kesalehan yang paling sepi.

You May Also Like

0 komentar