Tidak Pernah Bertanya Dulu Kamu Gimana
Saya tidak pernah bertanya ke istri saya: dulu kamu pacaran gimana?
Bukan karena saya suci. Juga bukan karena saya sok dewasa. Alasannya jauh lebih banal: ia akan tidur ribuan malam dengan saya. Masa lalu, kalau pun ada, sudah selesai bekerja. Yang aktif sekarang adalah tubuh, pikiran, dan komitmen hari ini. Saya memilih hidup fungsional: fokus ke yang hadir, bukan menginterogasi arsip.
Saya memang lurus dalam satu hal yang sering dibanggakan orang—tidak menyentuh pacaran selain dengan istri saya, dan hubungan pasutri baru terjadi setelah sah. Tapi justru karena itu, saya makin waspada pada jebakan moral: merasa lurus lalu mengira berhak mengaudit hidup orang lain.
Ada cerita—dan cerita seperti ini tidak langka—tentang seseorang yang merasa lurus menikahi perempuan dengan masa lalu yang, menurut standarnya, “kurang etis”. Tidak sampai satu minggu, cerai. Alasannya sederhana sekaligus brutal: ada tato di area intim.
Di titik ini, naifnya bukan di tato. Naifnya ada pada ekspektasi yang tak pernah dibicarakan, lalu disulap menjadi palu penghakiman.
Tato itu dikerjakan oleh artis tato—bukan mahram. Maka sang suami merasa “keduluan”. Kata itu lucu sekaligus menyedihkan. Seolah-olah tubuh perempuan adalah parkiran eksklusif yang harus kosong dari jejak siapa pun, termasuk jarum seni, sebelum ia tiba membawa akad.
Ah.
Dalam psikologi relasi, John Gottman (1999) sudah lama menunjukkan bahwa kegagalan pernikahan sering bukan karena masa lalu pasangan, melainkan karena expectation gap—jarak antara harapan yang tak diucapkan dan realitas yang ditemui. Ketika jarak itu ditemui tanpa bahasa empati, yang lahir bukan dialog, melainkan hukuman.
Dalam sosiologi moral, Erving Goffman (1963) menyebut ini sebagai stigma: satu ciri pada tubuh atau sejarah hidup direduksi menjadi identitas total. Tato bukan lagi seni, bukan lagi keputusan personal, tapi cap moral. Satu tanda kecil, seluruh manusia runtuh.
Islam, kalau dibaca tanpa ego, justru sangat hati-hati pada wilayah ini. Konsep satr—menutup aib—bukan sekadar etika sosial, tapi proteksi psikologis. Al-Ghazali menulis bahwa membuka aib orang lain sering kali lebih merusak jiwa pembukanya daripada yang dibuka. Karena di situ ego merasa naik pangkat: dari hamba menjadi hakim.
Yang sering dilupakan: perempuan itu sudah menurunkan ego. Ia bersiap membuka lembar baru. Ia datang membawa diri utuh—masa lalu, tubuh, dan harapan. Lalu yang ia terima bukan dialog, melainkan vonis.
Saya membayangkan lukanya. Bukan luka karena ditolak—itu mungkin masih bisa disembuhkan. Tapi luka karena penghakiman yang dibungkus kesucian. Luka karena merasa masa lalu diperlakukan sebagai dosa permanen, bukan sejarah yang telah dilalui.
Di sini saya menertawakan diri sendiri juga.
Karena mudah sekali bagi saya berkata: “Kenapa naif begitu?” Padahal, saya bisa berkata begitu karena memilih tidak bertanya sejak awal. Saya menghindari jebakan ekspektasi dengan cara paling sederhana: tidak mengidealkan kesempurnaan. Saya tidak menuntut pasangan steril dari kehidupan.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah pernah menulis bahwa taubat bukan menghapus sejarah, melainkan mengubah arah. Tapi arah hanya relevan kalau ada waktu. Kalau satu minggu saja tak diberi ruang, itu bukan moralitas—itu ketergesaan yang disucikan.
Kalau ekspektasi terlalu tinggi, orang sering berkata: “Harusnya diuji dulu.” Test drive, kata orang-orang.
Lucu ya. Tubuh manusia diperlakukan seperti kendaraan. Padahal yang gagal di situ bukan mesinnya, melainkan sopirnya yang tak tahu ke mana mau pergi.
Saya kembali ke keputusan kecil saya: tidak bertanya masa lalu, tapi bertanggung jawab pada masa kini. Bukan karena saya lebih benar. Tapi karena saya tahu betapa mudahnya kesucian berubah menjadi kekerasan, kalau tidak disertai kerendahan hati.
Dan mungkin, di situlah iman yang waras bekerja: bukan sibuk memastikan siapa yang datang paling bersih, tapi siapa yang bersedia berjalan paling lama tanpa menjadi algojo bagi luka orang lain.
0 komentar