Wahyu dari Bawah Lantai: Catatan Orang Waras yang Hampir Percaya Mimpi

by - 12:00 AM

Saya selalu curiga pada mimpi. Bukan karena mimpi itu mistis, tapi justru karena mimpi itu terlalu jujur. Ia bocor. Ia ceroboh. Ia tidak punya editor. Ia teriak pelan dari ruang batin yang siangnya kita suruh diam karena harus bayar cicilan, antar anak, dan pura-pura bijak di grup WhatsApp.

Suatu hari saya membaca berita: satu keluarga membongkar lantai rumahnya karena bermimpi ada batangan emas di bawahnya. Tidak ada emas. Yang ada: lantai rusak, tenaga habis, dan mungkin sedikit rasa malu yang tidak sempat diliput media. Saya nyengir sendiri. Bukan menertawakan kemiskinan atau harapan—itu manusiawi—tapi karena satu hal sederhana: kenapa tidak pakai metal detector dulu, Pak? 🤣
Mimpi boleh liar, tapi realitas masa kini sudah menyediakan alat bantu berpikir.

Lalu saya reflektif (dan sedikit menampar diri sendiri): saya juga sering bermimpi aneh. Pernah suatu malam saya bermimpi menikahi tokoh perempuan dari drama Cina. Tinggi, semampai, galak tapi imut, tipe yang kalau marah bikin kita merasa bersalah sekaligus jatuh cinta. Wajar. Saya laki-laki straight, punya selera, dan mata saya masih berfungsi. Itu bukan wahyu. Itu katarsis.

Apakah setelah mimpi itu saya bangun pagi lalu berkata: “Inilah tanda! Saya harus mencari istri oriental!”
Tidak. Saya bangun, ngopi, dan kembali ke realitas: istri saya ya istri saya. Tidur ribuan malam bareng saya. Selesai.

Di sinilah letak masalah manusia modern sekaligus purba: kita sering salah alamat membaca simbol batin. Dalam psikologi klasik, Freud (1900) menyebut mimpi sebagai wish fulfillment—pemenuhan hasrat yang tidak selesai di siang hari. Jung (1964) lebih lembut: mimpi adalah bahasa simbolik alam bawah sadar, bukan perintah literal. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyarankan: “kalau bermimpi emas, segera beli linggis.”

Dalam khazanah Islam, mimpi pun tidak pernah diposisikan sembarangan. Ibn Sirin (abad 8) dengan tegas membedakan mimpi:
ru’ya shadiqah (mimpi baik),
hulm (bisikan nafsu),
dan takhwif minasy syaithan (mimpi kacau).
Bahkan mimpi baik pun tidak otomatis jadi dasar tindakan hukum atau keputusan besar. Imam An-Nawawi menegaskan: mimpi tidak bisa menjadi hujjah syariat. Ia hanya isyarat batin, bukan memo resmi dari langit.

Masalahnya, kita sering terlalu percaya diri pada batin sendiri. Begitu mimpi muncul, logika disuruh minggir. Padahal Al-Qur’an sendiri berkali-kali memerintahkan afala ta‘qilun—kenapa kalian tidak berpikir? Bukan: afala tahfirun—kenapa kalian tidak langsung menggali.

Keluarga yang membongkar lantai itu, bagi saya, bukan contoh kebodohan, tapi contoh katarsis yang kehilangan rem. Ada rasa ingin keluar dari himpitan hidup. Batin membentuk visual: emas. Itu sah. Yang mulai absurd adalah ketika mimpi diperlakukan seperti proposal proyek tanpa feasibility study. Minimal—sekali lagi—metal detector dulu, Pak. Kalau bunyi, baru kita bicara iman dan takdir. Kalau tidak bunyi, ya itu cuma mimpi gila.

Dalam ilmu kognitif modern, ini dikenal sebagai magical thinking—kecenderungan menghubungkan pengalaman internal (mimpi, firasat) dengan tindakan eksternal tanpa proses verifikasi (Vyse, 2013). Ia sering muncul saat manusia lelah, tertekan, atau berharap jalan pintas. Bukan karena bodoh, tapi karena ingin cepat selesai.

Dan jujur saja: saya juga manusia seperti itu. Bedanya, saya berhenti di tahap tertawa sendiri. Saya tidak menggali lantai. Saya tidak mencari istri baru. Saya mencatat, lalu menertawakan diri sendiri. Itu mungkin satu-satunya bentuk kewarasan yang tersisa di zaman ini: menyadari batin bisa bocor, tapi tidak harus ditaati.

Mimpi itu sah. Katarsis itu sehat. Imajinasi itu perlu. Tapi keputusan hidup—apalagi yang merusak lantai rumah—butuh lebih dari sekadar bunga tidur. Butuh akal, jarak, dan kadang… alat deteksi logam.

Karena kalau setiap mimpi diikuti tindakan, dunia ini bukan lagi tempat hidup, tapi lokasi penggalian massal. Dan kita semua sibuk menggali, sambil lupa: emas paling mahal seringkali bukan di bawah lantai, tapi di kepala—selama masih mau dipakai berpikir. 😅

You May Also Like

0 komentar