Plat Nomor Cantik, Pajak Bengkak, dan Keyakinan bahwa Hoki Tidak Anti Banjir
Ada satu momen dalam hidup orang Indonesia ketika filsafat hidupnya diuji.
Bukan oleh kematian.
Bukan oleh cinta.
Tapi oleh STNK dan angka di plat nomor.
Abang saya mengalaminya.
Ia beli mobil bekas.
Bukan mobil sultan.
Bukan supercar.
Mobil normal, fungsional, bisa buat ke pasar, antar anak, dan nyengir di lampu merah.
Tapi satu hal istimewa:
plat nomornya bagus.
Bukan sekadar angka.
Ini plat yang kalau dibaca orang, ada desis kecil:
“Wih.”
Plat yang kalau parkir di minimarket,
ada bapak-bapak nanya:
“Ini nomor khusus ya, Pak?”
Plat yang secara tidak resmi sudah naik kasta.
Masalah datang saat bayar pajak.
Petugas bilang dengan nada datar, tanpa empati filosofis:
“Ini pajak kendaraan sekian…
dan pajak plat nomor sekian.”
Totalnya: 15 juta.
Platnya saja: 10 jutaan.
Di titik itu, alam semesta berhenti sejenak.
Abang saya tidak marah.
Tidak debat.
Tidak mengutip teori rezeki.
Dia cuma mikir pelan:
“Ini mobil atau jimat?”
Di sinilah saya kagum.
Karena banyak orang akan bertahan.
Dengan argumen metafisik:
– Ini kan hoki.
– Angkanya bagus.
– Sayang dilepas.
– Rezeki nanti balik.
Tapi abang saya pragmatis.
Dia melakukan hal paling tidak mistis di dunia:
Menjual mobilnya.
Logikanya sederhana, brutal, dan sangat membumi:
“10 juta buat modal lumayan.
Daripada buat bayar plat nomor yang kalau kena macet, ya macet juga.
Kena banjir, bengkel malah senyum lebar.”
Dan di situlah seluruh mitologi runtuh.
Karena ternyata:
angka cantik tidak membuat mobil berenang,
tidak membuat jalanan belah dua,
dan tidak membuat ban tahan paku.
Yang lucu, kita ini bangsa yang tahu itu semua…
tapi tetap tergoda.
Plat nomor bukan lagi identitas kendaraan.
Ia jadi identitas diri.
Angka jadi cara halus berkata:
“Gue beda.”
“Gue niat.”
“Gue serius sama hidup.”
Padahal secara fungsional,
mobil dengan plat hoki dan plat random
sama-sama berhenti di lampu merah.
Sama-sama bayar parkir.
Sama-sama ditilang kalau nerobos.
Semesta tidak membaca angka.
Dishub juga tidak peduli.
Yang menarik:
kita tidak membeli plat nomor.
Kita membeli rasa aman semu.
Perasaan bahwa hidup bisa dikontrol
dengan kombinasi angka yang pas.
Padahal hidup sering berkata:
“Angkanya bagus, tapi ban bocor ya ban bocor.”
Dan mungkin itu tidak salah.
Selama kita sadar:
ini cuma rasa, bukan realitas.
Masalah muncul saat kita memaksakan rasa itu ke orang lain.
Menganggap yang platnya biasa kurang niat hidup.
Yang nomornya acak belum mapan.
Di situlah angka berubah dari hiburan
menjadi alat pembanding martabat.
Abang saya memilih jalan sunyi:
menjual mobil,
mengambil uangnya,
dan melanjutkan hidup tanpa plat cantik.
Apakah hidupnya langsung sial?
Tidak.
Apakah rezekinya mampet?
Juga tidak.
Yang berubah cuma satu:
dia tidak perlu bayar pajak plat nomor
yang fungsinya hanya membuat orang lain bilang “wih”.
Dan jujur saja,
itu keputusan yang sangat dewasa.
Jadi kalau hari ini kita masih senyum
lihat plat cantik lewat,
tidak apa-apa.
Tapi kalau suatu hari angka itu menagih pajak,
dan dompet kita berkata:
“Bro, kita kan cuma mau jalan, bukan pamer.”
Mungkin saatnya kita ingat:
hoki tidak kebal macet,
dan angka tidak tahan banjir.
Sisanya…
ya hidup saja.
Dengan atau tanpa “wih” dari orang lain 😁
0 komentar