Mahal Itu Bukan Gengsi, Tapi Sunyi di Kepala
Harga sebuah rasa aman itu mahal.
Bukan mahal karena nominalnya bikin dompet meringis, tapi karena ia membeli sesuatu yang tidak kelihatan: sunyi di kepala.
Aman, dalam pengertian saya yang antropologi receh ini, adalah ketika otak tidak sibuk bikin skenario katarsis internal pahit.
Tidak sibuk mikir:“Kalau anak saya kenapa-kenapa di sekolah gimana?”, “Kalau dokter ini ngawur gimana?”, “Kalau maling masuk jam 3 pagi gimana?”
Karena begitu pikiran mulai berisik, biaya hidup mendadak jadi murah—tapi biaya batin meledak.
Makanya saya bayar mahal SPP sekolah anak.
Bukan karena gedungnya kinclong atau brosurnya wangi.
Tapi karena saya percaya:
lingkungannya waras.
Guru tidak histeris.
Manajemen tidak random.
Orang tuanya relatif punya nalar.
Itu saja sudah cukup.
Ilmu bisa nyusul, trauma jangan.
Rumah sakit juga begitu.
Saya pilih RS yang bikin dompet saya pengen minta cerai.
Masuk rasanya kayak hotel: AC dingin, perawat senyum, sistemnya rapi.
Saya bayar mahal bukan buat marble lantai,
tapi buat keyakinan kecil di dada: “harusnya ini aman.”
Karena kalau saya masuk RS murah tapi sepanjang malam otak saya mikir:
“Ini obat beneran ga sih?”
“Ini perawat capek apa jutek?”
“Ini dokter lulus beneran apa titipan?”
Ya percuma.
Penyakit sembuh, batin cacat.
Cluster tempat saya tinggal juga sama.
IPL setara setengah bulan kontrakan petak tiga.
Kalau ditulis di grup WA keluarga besar:
“Ngapain sih bayar mahal-mahal?”
Jawaban jujurnya sederhana:
supaya malam saya bisa tidur tanpa dialog imajiner maling.
One gate.
CCTV.
Satpam kenal muka.
Warga relatif waras.
Saya tidak sedang membeli beton,
saya sedang membeli ketiadaan kewaspadaan berlebih.
Selebihnya hidup saya justru sangat fungsional, bahkan membosankan.
Mobil? Toyota. Mesin bandel, terbukti.
Motor? Honda. Irit, terjangkau, terbukti.
Tidak ada drama.
Dan soal pasangan hidup—ini bagian favorit saya.
Istri saya orang Jawa.
Etos kerjanya tinggi. Saya akui. 🤣
Ini bukan stereotip sok ilmiah.
Ini observasi lapangan bertahun-tahun.
Kalau ada kerjaan, dikerjakan.
Kalau capek, istirahat sebentar, lanjut lagi.
Tidak banyak retorika. Tidak banyak wacana.
Saya, orang Sunda, banyak mikir.
Dia, orang Jawa, banyak jalan.
Kombinasi ini mahal, tapi stabil.
Jadi kalau dirangkum:
saya bukan anti murah,
saya hanya anti batin ribut.
Mahal bukan soal gengsi.
Mahal itu soal membeli kepastian agar kepala tidak terus berjaga.
Dan setelah kepastian dibeli,
hidup justru kembali sederhana:
makan fungsional, pakai barang awet,
nulis receh di balkon,
dan menertawakan diri sendiri yang dulu mengira
“hemat” selalu berarti “cerdas”. 😅
0 komentar