Cepot, Yesus, dan Kepala Saya yang Terlalu Cepat Menyimpulkan
Catatan tentang budaya, iman, dan kebiasaan salah sangka
Saya tumbuh dengan keyakinan yang kelihatannya sah, rapi, dan “sudah disepakati bersama”:
wayang golek = Islam versi budaya Sunda.
Masuk akal.
Sejarah bilang begitu.
Buku pelajaran bilang begitu.
Ceramah budaya juga bilang begitu.
Maka ketika saya duduk santai nonton wayang golek, otak saya otomatis masuk mode aman:
“Oh ini dakwah. Santai. Tinggal nikmati.”
Sampai tiba-tiba…
Cepot nyeletuk:
“Tuhan Yesus mah bageur kacida.”
Saya bengong.
Bukan tersinggung. Bukan marah.
Tapi bengong tulen, seperti laptop jadul kena update Windows.
Belum sempat otak saya reboot, Dawala menimpali:
“Nya heueuh atuh Pot, Tuhan Yesus mah juru selamat urang kabeh.”
Dan di situ saya tertawa.
Bukan karena leluconnya—
tapi karena kepala saya ketahuan lagi sok tahu.
Ketika Budaya Tidak Setia pada Asumsi Saya
Ternyata dalangnya Kristen.
Ternyata wayang golek bukan milik iman tertentu.
Ia milik budaya.
Dan budaya, seperti air, selalu mencari celah.
Selama ini saya nyaman dengan narasi:
- wayang = Islamisasi Jawa/Sunda
- seni = kendaraan dakwah satu arah
Padahal realitasnya lebih cair: siapa pun bisa naik kendaraan budaya, ke mana pun tujuannya.
Dan itu bukan penodaan.
Itu justru bukti bahwa budaya hidup, bukan monumen mati.
Saya Menertawakan Diri Sendiri (Lagi)
Di titik itu saya sadar, pola saya berulang:
- Arab = Islam
- Sunda = Islam
- Wayang = Islam
- Nada religius = iman yang sama dengan saya
Masalahnya bukan pada Islam.
Masalahnya ada pada otak saya yang terlalu hemat energi.
Dalam antropologi kognitif, ini disebut cognitive shortcut atau heuristik:
manusia menyederhanakan dunia supaya tidak capek mikir.
Efisien? Iya.
Akurat? Belum tentu.
Budaya saya masukkan ke folder “Islam”.
Begitu ada file “Kristen” muncul di folder itu, otak saya panik sebentar—
lalu untungnya: tertawa.
Wayang: Media, Bukan Sertifikat Akidah
Kalau ditarik sedikit ke akademik (tapi jangan tegang, santai aja):
- Clifford Geertz bilang budaya itu sistem makna, bukan milik satu doktrin.
- Talal Asad mengingatkan: agama selalu bernegosiasi dengan konteks, bukan hidup di ruang steril.
- Dalam studi komunikasi budaya, seni tradisi itu medium, bukan pesan final.
Artinya:
wayang golek itu panggung,
bukan mushola berjalan.
Hari ini bisa bicara tentang tauhid,
besok bisa bicara tentang Yesus,
lusa bisa ngomel soal pajak dan mertua.
Dan semuanya sah secara budaya.
Yang Sebenarnya Lucu Itu Siapa?
Bukan Cepot.
Bukan Dawala.
Bukan dalang Kristen.
Yang lucu itu saya: orang yang mengira dunia harus konsisten dengan peta di kepalanya.
Padahal:
- iman manusia beragam
- ekspresi budaya lentur
- dan Tuhan (siapa pun nama yang dipakai manusia) tampaknya tidak terlalu risih ditampilkan lewat kayu, kain, dan suara sengau Cepot.
Penutup: Budaya Tidak Pernah Janji Setia
Sejak itu, kalau nonton wayang, saya tidak lagi bertanya:
“Ini dakwah siapa?”
Saya lebih tertarik bertanya:
“Ini manusia sedang bicara dengan cara apa?”
Dan mungkin, di situ letak kedewasaan kecil saya:
berhenti mengira budaya harus tunduk pada iman saya,
dan mulai menerima bahwa iman—apa pun namanya—
sering justru menumpang hidup lewat budaya orang lain.
Cepot boleh bilang Tuhan Yesus.
Besok mungkin dia bilang Buddha.
Lusa bisa bilang Tuhan juga capek ngurus manusia.
Dan saya?
Saya duduk, tertawa, dan mencatat satu hal penting:
yang perlu dikoreksi bukan wayangnya,
tapi kepala saya yang terlalu cepat merasa paham. 😅
0 komentar