Saya Tidak Waras dari Lahir: Saya Dilatih oleh Bangle, Cabe, dan Jigong Emak

by - 6:00 AM

Epifani waras saya tidak turun dari langit.

Ia tidak datang lewat kitab tebal, seminar ber-AC, atau podcast berdurasi tiga jam dengan thumbnail muka mikir.

Ia datang dari salah paham yang disentuh pakai tangan sendiri.

Dulu saya percaya:
bangle itu magis.
Juríg takut.
Bayi tenang karena makhluk halus minggat.

Sampai suatu hari, saya usapkan ke tangan.

“Loh… hangat njir.”

Tidak ada jurig lari sambil jungkir balik.
Tidak ada asap hitam.
Yang ada: sensasi hangat, mirip balsem, mirip minyak kayu putih, mirip thermal comfort.

Sejak saat itu, iman saya tidak runtuh.
Yang runtuh cuma narasi berlebihan.


Ilmu Kampung Itu Kadang Benar, Tapi Penjelasannya Salah

Waktu kecil, kalau luka: bukan antiseptik, bukan betadine, bukan perban steril

Yang datang: jahe, cabe merah, getah pisang, dan jigong emak (ini senjata biologis tingkat dewa)

Sembuh?
Iya.

Nyiksa?
Lebih iya.

Panasnya bukan main.
Baunya bikin luka pengen resign.

Sekarang saya paham:
jahe dan cabe itu iritan → meningkatkan aliran darah.
Getah pisang punya efek protektif.
Ludah manusia mengandung enzim antibakteri.

Ilmu ada,
cuma metodenya… barbar 😅

Kampung tidak bodoh.
Dia hanya belum kenal farmasi.


Dari Jahiliyah ke “Oh, Masuk Akal”

Saya pernah hidup ala jahiliyah versi lokal: takut jurig, percaya apa kata orang tua tanpa nanya, mikir alam ini penuh makhluk halus yang sensitif bau bangle

Lalu tubuh saya ikut bicara.

Bangle hangat.
Jahe panas.
Cabe pedih.

Tubuh ternyata lebih jujur daripada mitos.

Dan sejak itu saya belajar: iman yang sehat tidak anti-eksperimen, akal yang waras tidak harus menertawakan tradisi


Kalau Indonesia Perang, Saya Siap (Secara Teoretis)

Kadang saya bercanda ke diri sendiri:

Kalau Indonesia pecah perang,
saya lari ke hutan, tenang.

Saya tidak gampang mati.

Kenapa? saya kenal umbi-umbian, saya bisa makan daun mentah, saya punya arsip manusia goa di tubuh

Ilmu survival versi kampung.

Bukan karena saya jago,
tapi karena tradisi menyimpan memori biologis.

Yang bahaya itu bukan tradisi.
Yang bahaya itu ketika tradisi dilarang disentuh akal sehat.


Waras Itu Bukan Anti-Iman, Tapi Anti-Takut

Saya tidak jadi ateis karena bangle.
Saya tidak meninggalkan doa karena jahe.

Saya hanya berhenti: menakut-nakuti diri sendiri, memaksa makna ke benda, memusuhi akal dengan dalih iman

Justru iman jadi lebih tenang: karena Tuhan tidak perlu dibela pakai ketakutan.

Bayi tenang bukan karena jurig kabur.
Bayi tenang karena hangat, kenyang, ditemani.

Dan itu tidak merendahkan Tuhan.
Itu justru memuliakan ciptaan-Nya: tubuh manusia.


Penutup (yang Tidak Menggurui)

Saya waras bukan karena pintar.
Saya waras karena pernah salah, lalu nekat megang sendiri.

Dan kadang,
jalan menuju iman yang dewasa itu bukan lewat kitab dulu…

tapi lewat kalimat sederhana: “Oh… ternyata gini doang.”

😅

You May Also Like

0 komentar