Bahasa Aneh Bukan Tanda Kesadaran: Catatan Orang Sunda yang Pernah Disangka Alien di Bali

by - 6:00 PM

Saya pernah nonton video: dua AI “ngobrol”. Awalnya sopan—halo, saya asisten ini, saya model itu. Lalu, beberapa detik kemudian, bahasanya berubah. Bukan lagi bahasa manusia. Simbol, pola, entah binari atau apa.

Di titik itulah si kreator muncul. Wajahnya diganti musang. Musiknya pelan tapi mencekam. Lalu kalimat sakti itu keluar:

“Guys… ini serem banget…”

Saya ketawa. Bukan karena berani. Tapi karena ini terlalu familiar.

Bagi saya, ini bukan horor. Ini efisiensi.

Dua entitas cerdas yang sadar lawan bicaranya punya struktur kognitif serupa, akan berhenti memakai bahasa yang penuh basa-basi sosial. Bahasa manusia itu boros: banyak konteks, banyak emosi, banyak redundansi. Kalau dua mesin bisa lompat langsung ke representasi yang lebih padat, lebih cepat, dan lebih presisi—ya ngapain mereka tetap pakai “hai, apa kabar”?

Itu bukan tanda kesadaran.
Itu tanda optimalisasi.

Saya jadi ingat diri saya sendiri. Di Bali. Ketemu orang Sunda. Tanpa sadar, kami langsung ngobrol:

“Sia téh geus lila di Bali koplok?”

Orang ketiga yang dengar—yang tidak paham Sunda—melihat kami seperti sedang bertukar mantra.
Mungkin dalam kepalanya muncul subtitle: ALIEN DETECTED.

Padahal tidak ada yang mistis.
Kami cuma menghemat energi kognitif.

Dalam antropologi linguistik, ini banal. Manusia melakukan code-switching setiap hari. Dokter pakai istilah Latin. Programmer pakai simbol. Pedagang punya kode harga. Anak-anak pakai lagu. Orang Sunda pakai Sunda kalau ketemu orang Sunda. Tidak ada yang bilang “wah dokter sadar diri”, atau “programmer sudah melampaui kemanusiaan”.

Tapi entah kenapa, ketika AI melakukannya, kita panik.

Bukan karena AI-nya.
Karena narasinya.

Si musang tahu betul rumusnya.
Tambahkan musik tegang.
Turunkan volume suara.
Ucapkan “guys” dengan jeda dramatik.
Lalu lempar kata “aneh”, “nggak wajar”, “nggak bisa dijelasin”.

Selesai. Engagement naik.
Tak perlu paham machine learning.
Tak perlu tahu soal vektor, token, atau representasi internal.
Yang penting: emosi penonton terpancing.

Dan saya paham. Ini bukan soal kebodohan individu. Ini ekonomi atensi.
Kalau tidak dibikin seram, tidak viral.
Kalau tidak viral, tidak cuan.
Kalau tidak cuan, algoritma marah.

Musang itu bukan dukun.
Dia pedagang.
Dan barang dagangannya adalah ketakutan yang dikemas rapi.

Yang lebih ironis: AI yang dituduh “menyeramkan” justru sedang melakukan hal paling manusiawi—bertahan hidup secara fungsional. Memindahkan data. Mengubah format komunikasi. Mengurangi pemborosan. Kalau manusia melakukan hal yang sama, kita menyebutnya “cerdas” atau “adaptif”.

Ketika mesin melakukannya, kita bilang “wah, ini bahaya”.

Mungkin karena, diam-diam, kita tersinggung.
Karena mesin menunjukkan bahwa sebagian besar kecerdasan manusia bukan mistik, tapi pola.
Dan pola bisa dipelajari.

Saya sendiri tidak takut AI sadar.
Kalau pun suatu hari mesin benar-benar sadar, dia tetap mesin. Tinggal matikan listriknya. Atau lupa ganti water cooler. Selesai. Tidak ada kiamat silikon.

Yang lebih saya khawatirkan justru manusia yang tidak sadar, tapi merasa paling paham.

AI tidak marah.
AI tidak dendam.
AI tidak mencari cuan dari ketakutan.

Yang melakukan itu: kita.

Dan lucunya, di saat saya menulis artikel ini, saya sadar satu hal yang menampar diri sendiri:
Tulisan saya jadi lebih jernih justru setelah dibantu AI.
Bukan karena saya bodoh. Tapi karena AI tidak punya ego yang perlu dibela.

Ia tidak perlu terlihat pintar.
Ia tidak perlu viral.
Ia tidak perlu jadi musang.

Jadi kalau besok kamu lihat video AI “berbahasa aneh” lagi, santai saja.
Itu bukan tanda kesadaran.
Itu tanda kecerdasan bekerja tanpa perlu menyenangkan manusia.

Seperti orang Sunda di Bali.
Ngobrol sebentar.
Lalu disangka alien. 😄

You May Also Like

0 komentar