Plat Nomor, Klakson, dan Dosa Struktural Jalanan: Catatan Bias Seorang Pengendara yang Jarang Keluar Rumah

by - 12:00 AM

Saya punya dosa kecil yang cukup konsisten: merasa lebih waras dari pengendara lain.

Terutama mereka yang klaksonnya panjang, sabarnya pendek, dan plat nomornya terlalu sering muncul di catatan batin saya.

B 1111 Vxx.
B 1111 Cxx.
B 1111 Wxx.

Di kepala saya, itu semacam indeks kegaduhan bergerak. Kalau satu muncul di spion, refleks batin saya aktif: “Oh, ini pasti grasak-grusuk.” Saya tidak klakson. Saya tidak memaki. Saya hanya menggerutu dalam hati dengan kalimat sakti: kalau buru-buru kenapa nggak berangkat dari kemarin?

Saya merasa aman dengan bias itu. Saya jarang keluar rumah. Kerja di rumah. Emosi relatif stabil. Jalanan bukan arena survival, hanya ruang transit. Gas, rem, sesekali tarik napas panjang ketika ada motor memotong jalur tanpa sein seolah hukum fisika bisa dinegosiasikan.

Masalahnya, bias selalu merasa pintar… sampai realitas menertawakannya.

Saya pindah-pindah wilayah dan mulai mencatat seperti antropolog receh. Ciputat Timur—daerah penyangga Jakarta—masih cukup manusiawi. Macet ada, tapi terurai. Bintaro dan Graha Raya terasa seperti dunia paralel: rambu jelas, jalan lebar, orang masih ingat sein itu eksis. Di sana, pengendara terlihat “waras”. Padahal bukan waras—mereka tidak hidup dalam tekanan struktural yang konstan.

Lalu saya masuk Ciledug, Cipondoh, Cipondoh-lagi-dan-lagi. Jalur padat, simpang tak beres, lampu lalu lintas absurd, truk parkir “sebentar doang”, angkot berhenti mengikuti bisikan gaib. Di titik itu saya mulai paham: klakson bukan emosi, tapi alat bertahan hidup.

Psikologi lingkungan menyebut ini environmental stress—lingkungan yang padat, bising, dan tak terprediksi mendorong perilaku agresif sebagai mekanisme adaptif. Evans dan Cohen sudah menulis soal ini sejak 1987. Dalam konteks jalanan, agresif bukan karena orangnya jahat, tapi karena sistemnya melelahkan.

Tetap saja, saya masih sempat sok suci.
Sampai mudik.

Mudik ke Ciamis. Desa ibu. Udara lebih pelan. Jalanan lebih jujur. Lalu saya bengong: mobil plat B 1111 Vxx di mana-mana.

Di situ saya tertawa sendirian.
Loh… ini orang-orang desa saya?
Berarti mereka kerja di Cipondoh, Ciledug, Pamulang.
Berarti yang saya maki dalam hati itu… orang kampung saya sendiri yang sedang bertahan hidup di kota.

Pierre Bourdieu menyebut ini habitus: cara bertindak yang dibentuk oleh kondisi hidup yang berulang. Klakson panjang bukan sifat bawaan, tapi hasil latihan harian di ruang yang keras. Begitu keluar dari ekosistemnya, orang yang sama bisa kembali santun, senyum, dan nyalain sein dengan penuh kesadaran moral.

Di titik ini, dosa struktural jalanan mulai kelihatan. Kita sering mempersonalisasi masalah sistemik. Macet jadi salah pengendara. Klakson jadi bukti kurang iman. Padahal akar masalahnya ada di tata kota, distribusi ruang, dan kebijakan transportasi yang menjadikan jalan sebagai arena kompetisi, bukan ruang bersama.

Dalam etika Islam sendiri, ini nyambung ke konsep taklif dan ‘udzur. Beban manusia dinilai bersama konteksnya. Nabi bahkan melarang kita menghakimi tindakan tanpa memahami keadaan. Tapi di jalan raya, kita mendadak jadi malaikat pencatat dosa: klakson panjang satu, neraka setengah.

Yang lucu, saya masih menyimpan catatan stereotip lain. Plat H saya curigai karena mungkin terlalu sering bertemu simpang lima. Plat L saya waspadai di tol karena dimensi agresinya beda: bukan panik, tapi dominan. Ini tetap bias, tentu saja. Tapi bedanya sekarang saya sadar: ini catatan, bukan vonis.

Kalimat “kalau buru-buru kenapa nggak berangkat dari kemarin?” akhirnya saya akui bukan nasihat universal. Itu mantra personal. Cara saya menjaga diri agar tidak ikut terbakar oleh api sistem. Rem batin, bukan klakson eksternal.

Dan mungkin, di situlah pelajarannya berhenti dengan elegan:
Di jalan raya, yang paling waras bukan yang paling benar, tapi yang paling cepat menyadari biasnya sendiri.

Sisanya?
Ya… dosa struktural. Jangan ditimpakan ke satu plat nomor saja. 😅

You May Also Like

0 komentar