Ketupat Masuk Surga, Bambu Kena Stereotip, dan Unta yang Tiba-tiba Punya Agama
Saya pernah sampai pada satu titik kelelahan kognitif yang aneh: duduk di kursi Indomaret, minum Le Minerale yang tidak dingin, sambil mikir…
kenapa ya, di kepala manusia, benda mati bisa punya agama?
Bukan kiasan. Bukan simbol.
Beneran seakan-akan hewan, tumbuhan, dan barang-barang sudah dibagi KTP spiritualnya sejak lahir.
Ketupat: Islam.
Kurma: Islam.
Unta: Islam.
Siwak: Islam.
Tasbih: Islam.
Begitu cepat. Begitu yakin. Seolah ketupat itu turun bersama wahyu, bukan hasil kreativitas nenek-nenek Nusantara yang lagi mikir, “beras ini kalau dibungkus anyaman kelapa lucu juga ya.”
Padahal, kalau ditanya pelan-pelan:
Ketupat itu adanya di Indonesia.
Anyaman janur itu hasil budaya agraris.
Asimilasi Hindu–Budha–Islam–lokal campur jadi satu, kayak sayur asem.
Tapi di kepala kita, ketupat sudah pakai peci.
Kurma juga begitu.
Begitu lihat kurma, langsung ada bisikan batin: ini islami banget.
Padahal kurma itu tumbuh di Timur Tengah karena… ya iklimnya cocok.
Kalau Nabi lahir di Papua, mungkin yang jadi “buah sunnah” itu sagu.
Dan kita sekarang debat: “cara makan sagu yang benar sesuai sunnah.”
Unta pun apes.
Dia cuma hewan padang pasir yang kebetulan jadi kendaraan logistik zaman dulu.
Sekarang nasibnya: dianggap simbol agama.
Padahal unta itu kalau diajak ngobrol, mungkin jawabnya:
“Gue cuma ngangkut orang, bro. Jangan libatin gue.”
Lalu kita geser dikit.
Tasbih: Islam.
Rosario: Kristen/Katolik.
Padahal secara fungsi, sama-sama alat bantu zikir/doa.
Bedanya, satu dipakai sambil duduk di masjid, satu sambil jalan muter halaman gereja.
Tapi di kepala manusia, tasbih suci, rosario asing.
Kalau kebalik, bisa ribut.
Jilbab: Islam.
Veil biarawati? Oh, itu beda.
Padahal sama-sama kain penutup kepala, dengan niat kesederhanaan dan penghambaan.
Tapi karena label, kain bisa berubah makna.
Bukan karena seratnya, tapi karena tafsirnya.
Kainnya mungkin bingung.
“Lah, kemarin gue mulia, hari ini gue dicurigai.”
Yang lebih seru lagi saat masuk ke dunia flora dan fauna lintas iman.
Pohon palem? Kristen.
Cemara? Kristen.
Merpati? Kristen.
Pohon bodhi? Buddha.
Gajah? Hindu.
Bambu? Nah ini… “itu Cina ya?”
Padahal bambu itu cuma tumbuh di iklim tropis dan kuat hidup rame-rame.
Dia tidak pernah ikut rapat ideologi.
Tidak pernah bilang, “saya mewakili etnis tertentu.”
Tapi di kepala manusia, bambu sudah sipit.
Gajah juga kasihan.
Dia cuma besar, kuat, dan kebetulan muncul di kisah-kisah India.
Sekarang tiap lihat gajah, langsung ada kesan religius.
Padahal gajah di kebun binatang itu paling mikirnya:
“jam makan gue kapan?”
Di titik ini saya sadar:
yang sakral itu bukan bendanya, tapi makna yang kita tempelkan.
Masalahnya, makna sering kali ditempel sambil marah.
Sambil ingin memiliki.
Sambil ingin berkata: “ini punya kami.”
Dan begitu sesuatu “punya kami”, yang lain jadi “bukan kami”.
Padahal Tuhan tidak pernah titip pesan:
“tolong amankan kurma, unta, dan ketupat, jangan sampai dipakai orang lain.”
Reduksi seperti ini kelihatannya receh. Lucu. Bisa jadi bahan becandaan.
Tapi kalau dibiarkan, ia melatih otak untuk berpikir sempit tanpa sadar.
Pelan-pelan, dunia yang luas jadi rak etalase:
ini halal, ini syubhat, ini asing.
Yang bikin saya tetap nyengir adalah satu hal:
alam semesta tidak pernah ribut soal identitas.
Pohon tetap tumbuh.
Hewan tetap kawin.
Air tetap mengalir.
Bambu tetap berisik kena angin.
Yang ribut cuma manusia—makhluk yang dikasih akal, tapi kadang kepo berlebihan.
Mungkin karena kita sering lupa:
agama itu jalan makna manusia menuju Tuhan,
bukan stempel kepemilikan atas dunia.
Dan kalau suatu hari nanti ada yang bilang:
“itu minum Le Minerale islami nggak?”
saya mungkin cuma senyum, duduk lagi di kursi Indomaret, dan jawab pelan:
“Ini air, Mas. Dia cuma mau diminum, bukan diadili.”
0 komentar