Kalau Buru-Buru, Kenapa Nggak Berangkat dari Kemarin?!
(Catatan seorang pengendara sok sabar yang hampir jadi sosiolog jalanan)
Saya ini tipe pengendara yang—kalau boleh sombong sedikit—terlalu tenang untuk ukuran jalan raya Indonesia. Motor atau mobil sama saja: rambu saya patuhi, macet saya terima, klakson nyaris jadi artefak museum. Bukan karena saya orang suci atau sudah sampai maqam ikhlas tingkat dewa. Alasannya receh: saya jarang keluar rumah. Kerja di rumah. Energi emosional tidak habis di jalan. Jadi ketika keluar, mode berkendara saya bukan survival, tapi rekreasi ringan sambil mikir: injak gas, injak rem, sesekali injak rem batin ketika ada pengendara nyelip tanpa sein seolah-olah dunia ini game GTA tanpa konsekuensi.
Dulu saya tinggal di Ciputat Timur, dekat Bintaro. Ini wilayah menarik secara psikologi: daerah penyangga Jakarta yang separuh masih chaos, separuh sudah dikelola swasta. Begitu masuk Bintaro atau Graha Raya, rambu jelas, jalan lebar, dan—ajaib—manusia berubah. Pengendara yang lima menit lalu nyaris adu spion di depan UIN atau Pondok Cabe, mendadak jadi warga negara teladan. Bukan karena akhlaknya naik, tapi karena infrastrukturnya tidak memaksa mereka hidup dalam mode bertahan. Macet ada, tapi cepat terurai. Saraf tidak sempat gosong. Saya sempat berpikir, “Oh, ternyata kesabaran bisa di-engineer.”
Lalu suatu hari saya main ke Ciledug. Dan di sinilah prasangka kelas bawah otak desa saya muncul tanpa diundang. Pengendaranya grasak-grusuk. Klakson panjang seperti festival musik India. Ada celah satu sentimeter, langsung disikat. Saya mulai mencatat plat: B, area Ciledug–Cipondoh. Dalam kepala saya muncul stereotip murahan: wah, daerah ini keras. Saya hampir jadi netizen offline—menghakimi tanpa konteks.
Tapi kemudian saya benar-benar melewati jalur Cipondoh ke arah Kebayoran Lama. Macetnya bukan main. Macet yang tidak hanya menguji kesabaran, tapi juga iman dan hubungan seseorang dengan Tuhan. Di situ saya melihat wajah-wajah pengendara. Bukan wajah brutal. Wajah lelah. Wajah orang yang tiap hari berangkat pagi dengan niat pulang sore, tapi realitanya pulang malam sambil menahan umpatan. Di titik itu, stigma saya turun drastis. Yang terlihat brutal itu bukan karakternya, tapi residu kelelahan struktural. Seperti kata penelitian Evans & Carrère (1991), kepadatan lalu lintas berkepanjangan meningkatkan stres, agresi, dan penurunan kontrol emosi. Bukan karena orangnya jahat, tapi karena sistemnya bikin marah.
Pindah ke Tangerang, dekat Citra Raya dan BSD, pengalaman saya berbalik lagi. Pengendara santai. Mau belok dikasih jalan. Jarang klakson. Saya sempat curiga: ini orang-orangnya lebih baik, atau hidupnya lebih ringan? Jawabannya—menyakitkan buat ego moral saya—yang kedua. Infrastruktur tertata, jarak tempuh lebih manusiawi, macet masih dalam batas bisa diterima. Menurut teori environmental stress (Glass & Singer, 1972), lingkungan yang memberi rasa kontrol menurunkan agresi. Jadi bukan warganya yang lebih waras, tapi hidupnya tidak dipaksa jadi gladiator setiap pagi.
Di sini saya menertawakan diri sendiri. Betapa mudahnya saya mengira sabar itu sifat personal, padahal sering kali ia adalah privilege struktural. Saya sabar karena jarang keluar rumah. Mereka brutal karena setiap hari diuji. Dalam psikologi sosial, ini klasik: fundamental attribution error—kecenderungan menilai perilaku orang lain sebagai sifat bawaan, bukan akibat situasi (Ross, 1977). Saya melakukan itu dengan penuh percaya diri, lalu merasa tercerahkan setelah sadar.
Islam sendiri—kalau mau jujur—lebih dulu menampar saya. Nabi pernah bersabda bahwa orang kuat bukan yang menang bergulat, tapi yang mampu menahan marah (HR. Bukhari dan Muslim). Tapi menahan marah itu tidak berdiri di ruang hampa. Dalam maqashid syariah, menjaga jiwa (hifzh an-nafs) dan akal (hifzh al-‘aql) juga berarti menciptakan kondisi hidup yang tidak terus-menerus menggerus keduanya. Umar bin Khattab pernah menunda hukuman potong tangan saat paceklik. Konteks, bukan sekadar teks. Kalau lapar saja dipahami, masa macet bertahun-tahun tidak?
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang agak menertawakan diri sendiri: pengendara bukan soal moral, tapi soal ekosistem. Klakson panjang itu sering bukan tanda kurang iman, tapi tanda kurang ruang. Dan kalimat “kalau buru-buru, kenapa nggak berangkat dari kemarin?” ternyata arogan kalau diucapkan dari posisi hidup yang relatif longgar.
Saya tetap akan berkendara pelan, jarang klakson, dan sok waras. Tapi sekarang dengan catatan kaki di kepala: ini bukan keutamaan, ini kondisi. Dan setiap kali ada yang nyelip tanpa sein, saya masih menghela napas—bukan lagi untuk mengutuk, tapi untuk mengingat: mungkin dia bukan kurang ajar, cuma sudah terlalu lama diajarin sabar oleh jalan yang kejam.
Dan ya, kadang saya tetap ngomel dalam hati. Saya manusia, bukan rambu lalu lintas.
0 komentar