Klakson sebagai Salam: India, Serotonin, dan Pengendara yang Akhirnya Berdamai dengan Dunia

by - 6:00 AM

Saya tidak pernah benar-benar menginjakkan kaki di India.

India saya adalah India YouTube: resolusi 720p, backsound India Utara dipasang di video India Selatan, klakson bersahutan seperti gamelan besi, dan komentar orang Indonesia yang selalu lebih lucu dari videonya sendiri.

Kadang gambarnya macet, audionya jalan.
Kadang audionya duluan, videonya nyusul.
Slapstick teknis—tapi justru di situ letak kenikmatannya.

Saya menontonnya bukan untuk belajar India, tapi untuk menurunkan suhu batin.
Semacam katarsis eksternal bagi pengendara yang di dunia nyata jarang klakson, tapi sering mengumpat dalam hati.

Klakson yang Bukan Makian

Di banyak kota di India—terutama wilayah padat di India Selatan—klakson bukan makian.
Ia bukan “woi!”, bukan “goblok!”, bukan “buru-buru amat sih?”.
Ia lebih mirip sapaan eksistensial:

“Saya ada.”
“Saya lewat.”
“Saya hidup.”

Antropolog transportasi menyebut ini sebagai acoustic negotiation—negosiasi berbasis suara. Dalam sistem jalan yang padat, marka ambigu, dan ruang sempit, suara menggantikan rambu. Klakson menjadi bahasa tambahan selain mata dan insting tubuh (Gershenson, 2013).

Di truk bahkan sering tertulis: Please horn.
Bukan sarkas.
Bukan satire.
Instruksi budaya.

Ketika Kekacauan Lebih Jujur daripada Ketertiban

Sebagai orang Indonesia—yang hidup di negara dengan aturan lalu lintas setengah sakral setengah opsional—saya mendadak merasa tenang melihat India.
Bukan karena mereka lebih kacau, tapi karena kekacauan mereka jujur.

Tidak disembunyikan di balik slogan “tertib lalu lintas”.
Tidak dikemas dengan etika palsu.
Semua emosi keluar ke permukaan: bunyi, panas, debu, masak di pinggir jalan, tawa, dan klakson yang saling sahut.

Psikologi sosial sudah lama mencatat bahwa ekspresi emosi kolektif—meskipun bising—bisa berfungsi sebagai regulasi stres sosial. Emosi yang dikeluarkan bersama lebih mudah dikelola daripada emosi yang ditekan sendirian (Durkheim, 1912; Collins, 2004).

Di sini saya mulai sadar:
👉 Masalahnya bukan klakson. Tapi sistem yang membuat manusia perlu klakson untuk bertahan.

Serotonin yang Lompat-lompat

Ada sensasi aneh saat menonton daily life in India.
Bukan empati penuh, bukan jijik penuh, tapi campuran yang bikin ketawa.

Neurosains menyebut humor sebagai cognitive reappraisal—cara otak mengubah makna stres menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan (Gross, 2002). Saat saya menertawakan klakson India, sebenarnya saya sedang menertawakan kelelahan kolektif manusia urban, termasuk diri saya sendiri.

Serotonin naik bukan karena India lucu, tapi karena saya akhirnya berkata dalam hati:
“Oh… ternyata dunia memang ribut. Bukan saya saja yang capek.”

Indonesia: Klakson yang Masih Setengah Jadi Bahasa

Di Indonesia, klakson itu ambigu.
Kadang sapaan, kadang ancaman.
Kadang “permisi”, kadang “mati aja lu”.

Makanya sering salah tafsir.
Yang depan merasa diserang.
Yang belakang merasa dizalimi.

Sosiolog Erving Goffman menyebut ini interactional ambiguity—ketika sinyal sosial tidak punya makna yang disepakati bersama (Goffman, 1959). Akibatnya? Konflik kecil yang seharusnya selesai dengan bunyi pendek, berubah jadi drama batin panjang.

India, dengan segala kebisingannya, justru lebih konsisten:
bunyi = komunikasi.
Tidak perlu tafsir moral.

Orang Indonesia dan Seni Mengolok Dunia

Dan tentu saja, orang Indonesia tidak menonton India dengan polos.
Kita tambahkan teks.
Kita tambahkan dubbing.
Kita pasang backsound dangdut koplo di video ritual suci.

Bukan karena kita jahat, tapi karena humor adalah mekanisme bertahan hidup.
James Scott menyebut ini everyday resistance—cara orang biasa melawan tekanan struktural lewat guyonan (Scott, 1985).

Kita tidak bisa mengubah macet.
Tidak bisa mengubah sistem.
Maka kita mengubah maknanya.

Berdamai dengan Dunia Lewat Klakson Orang Lain

Akhirnya saya sadar, saya tidak sedang belajar tentang India.
Saya sedang belajar memaafkan dunia.

Memaafkan pengendara yang klakson panjang.
Memaafkan diri sendiri yang kadang ingin marah.
Memaafkan sistem yang sering tidak adil.

India, lewat layar kecil dan video tidak sinkron, mengajari saya satu hal penting:
Kadang, berdamai bukan soal menertibkan dunia—
tapi menerima bahwa dunia memang ribut, dan kita tetap bisa tertawa.

Kalau suatu hari orang India membaca artikel ini, saya yakin mereka tidak tersinggung.
Mungkin mereka hanya akan klakson sekali.

Artinya sederhana:
“Kami lihat kamu.”

Dan entah kenapa, itu terasa cukup. 

You May Also Like

0 komentar