Berdiri di Depan Pepaya, Golok, dan Ibu Mertua yang Hampir Trauma Budaya

by - 6:00 PM

Saya akui, ini murni kesalahan saya.

Saya benar-benar memeragakan berdiri di depan pohon pepaya.

Diam.
Tegak.
Kontemplatif.

Seperti sedang berdialog dengan semesta, atau minimal dengan vitamin C.

Ibu mertua melihat dari kejauhan.
Ekspresinya berubah pelan tapi pasti, dari penasaran menjadi panik eksistensial.

Liat bojomu… opo waras opo ora. Ngadeg depan kates.

Di kepala beliau, kemungkinan besar ini bukan lagi soal bahasa.
Ini sudah masuk wilayah diagnosa kejiwaan menantu.

Istri saya—yang sudah kenyang benturan linguistik Sunda–Jawa—bukannya membantu menenangkan keadaan, malah tertawa, lalu dengan santai mengambil golok dan menyerahkannya ke saya.

Di titik ini, katarsis ibu mertua meledak.

Dalam imajinasi beliau:
Anaknya → menikah
Menantu → berdiri di depan pepaya
Golok → berpindah tangan

Kesimpulan batin:
“Anakku arep dipateni.”

Wajah beliau menegang.
Ada ketakutan, ada kebingungan, ada doa-doa kecil yang mungkin spontan terucap.

Istri saya akhirnya menjelaskan, masih sambil tertawa:
“Mah… itu salah paham. Negor gedang maksudnya nebang pisang. Bukan ngobrol sama pepaya.”

Hening.

Lalu tawa kami pecah bersama.
Saya.
Istri.
Pepaya yang akhirnya dibiarkan hidup.

Hanya ibu mertua yang tetap berdiri dengan satu pertanyaan besar menggantung di udara:

“Iki anak mantuku opo wis edan?” 😱

Di titik ini saya sadar, benturan linguistik bukan sekadar soal kata.
Ia bisa memproduksi adegan kriminal imajiner lengkap dengan alat bukti.

Dalam kajian antropologi, ini disebut context collapse—makna tercerai dari konteksnya (Goffman, 1974). Dalam kehidupan nyata, ini disebut: kejadian memalukan yang akan diingat seumur hidup keluarga besar.

Tapi justru di situlah keindahannya.

Bahasa membuat kita nyemplung.
Budaya membuat kita ketawa setelahnya.

Dan pernikahan lintas kultur mengajarkan satu kebijaksanaan praktis yang tidak pernah ditulis di buku filsafat mana pun:

👉 Kalau disuruh “negor gedang”, jangan langsung berdiri mikir.
👉 Kalau sudah pegang golok, pastikan semua orang paham konteksnya.

Karena di mata ibu mertua, satu kesalahan terjemahan bisa berubah menjadi thriller rumah tangga.

Dan sejak hari itu, saya belajar:
kadang yang perlu ditebang bukan pisangnya,
tapi kepercayaan berlebih pada kamus batin sendiri. 😅

You May Also Like

0 komentar