Saya Catlover yang Tidak Memelihara Kucing (dan Karena Itu Merasa Berhak Sok Bijak Soal Manusia)
Saya suka kucing.
Saya sering ngasih makan kucing.
Saya senang melihat kucing tidur di teras, di bawah motor, atau di tembok tetangga sambil pasang muka “hidup ini keras tapi gue santai.”
Tapi saya tidak memelihara kucing.
Dan lebih dari itu: saya punya pendapat yang sering bikin catlover tersinggung—jangan jadikan kucing domestik sebagai kucing rumahan.
Ini bukan kebencian. Ini soal hidung.
Rumah saya minimalis, sirkulasi udara standar, dan penciuman saya tidak punya toleransi spiritual terhadap bau khas kucing. Mau dikasih litter box tercanggih, pasir impor, pakan grain-free, tetap ada residu aroma yang buat batin saya nggak damai. Dan saya tidak mau pura-pura suci soal itu.
Tetangga saya pelihara anak kucing kampung. Abu-abu, bulunya bagus, fotogenik. Dirawat sepenuh hati. Dipanggil namanya. Dikasih makan teratur. Disayang seperti kucing ras.
Saya cuma mencatat—dalam diam, ala antropolog receh—nanti kalau gede, ini kucing bakal repot.
Dan benar.
Begitu dewasa, gen kucing garongnya muncul seperti update sistem yang tak bisa dibatalkan. Jadi preman kompleks. Berantem. Hilang sore-sore. Pulang dengan luka.
Sang ibu catlover keliling sambil manggil nama kucingnya dengan nada penuh cinta dan frustrasi. Seperti orang tua yang baru sadar: oh, ternyata kasih sayang tidak menghapus seluruh riwayat hidup.
Di situ saya tertawa kecil—bukan pada kucingnya, tapi pada diri saya sendiri yang langsung geser… ke manusia.
Karena otak manusia memang licik: sedikit observasi, langsung generalisasi.
Saya punya teman yang jajan olah syahwat. Ia kemudian kepikiran menikahi wanita langganannya.
Saya tidak menghakimi si wanitanya. Sungguh. Hidup keras itu melelahkan, dan hampir semua manusia ingin berhenti dari fase yang menggerus martabatnya sendiri. Itu bukan asumsi moral, itu temuan sosiologis.
Dalam studi tentang exit from sex work, misalnya, Oselin (2014) dan Sanders (2007) mencatat bahwa keinginan “hidup normal” adalah motif paling umum, tapi transisinya jarang bersih. Ada residu psikologis, sosial, bahkan relasional, yang tidak otomatis hilang hanya karena status berubah.
Dalam psikologi perkembangan, konsep behavioral residue (Lally et al., 2010) menjelaskan bahwa kebiasaan lama bisa bertahan lama bahkan ketika konteks hidup berubah total.
Dalam tradisi Islam pun, gagasan ini tidak asing. Al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin, abad ke-11) membedakan antara taubat lisan, taubat perilaku, dan taubat karakter—yang terakhir ini paling lama dan paling sulit, karena menyangkut pembiasaan jiwa. Nabi sendiri berbicara tentang istiqamah sebagai proses, bukan deklarasi instan.
Tapi di titik ini, saya sadar: analogi saya mulai berbahaya.
Karena tanpa sadar, saya hampir menyamakan manusia dengan kucing kampung.
Dan di situlah saya berhenti, lalu menertawakan diri sendiri.
Saya bilang ke teman saya bukan sebagai hakim moral, tapi sebagai catlover sok filosof:
“Anggap saja kamu ini catlover ekstrem. Kalau kamu mau bawa kucing jalanan ke rumah, kamu harus siap bukan cuma kasih makan, tapi membentuk ulang lingkungannya. Dan itu kerja panjang, capek, dan nggak selalu berhasil.”
Kalimat itu terdengar bijak… dan sekaligus sombong.
Karena siapa saya berani menilai kesiapan orang lain, hanya dari pengamatan tetangga dan kucing preman kompleks?
Antropologi modern sudah lama mengingatkan bahaya over-extension of metaphor. Clifford Geertz (1973) menegaskan bahwa budaya dan manusia tidak bisa diperas jadi simbol tunggal tanpa kehilangan kompleksitasnya.
Sementara Pierre Bourdieu (1990) bicara tentang habitus—jejak kehidupan lama yang membentuk refleks, selera, dan cara bereaksi—yang tidak hilang hanya karena niat baik.
Dan justru di sini satire balik ke saya:
saya yang tidak memelihara kucing, tiba-tiba merasa paling paham soal kucing.
Saya yang hidup relatif stabil, tiba-tiba merasa berhak membaca hidup orang lain yang lebih berantakan.
Padahal bisa jadi, kucing itu memang cuma kucing.
Dan manusia… jauh lebih dari analogi apa pun yang saya buat.
Maka catatan ini saya tutup dengan pengakuan kecil:
ini bukan tulisan tentang kucing, apalagi tentang wanita.
Ini tulisan tentang kecenderungan manusia—termasuk saya—untuk merasa cerdas hanya karena mampu menghubungkan dua hal secara metaforis.
Kadang, kita bukan sedang bijak.
Kita hanya sedang menikmati ilusi bahwa hidup orang lain bisa diringkas seperti catatan lapangan antropologi.
Dan mungkin, seperti kucing kampung yang tetap pulang meski dipanggil dengan penuh cinta,
kebenaran pun tidak selalu mau jinak hanya karena kita merasa niat kita baik.
Saya catlover.
Saya tidak pelihara kucing.
Dan saya masih belajar—pelan-pelan—untuk tidak menjadikan manusia sebagai metafora yang terlalu mudah.
0 komentar