Daging Ulama Beracun, Tapi Akal Sehat Tetap Wajib Dipakai
Ada satu kalimat yang bikin saya berhenti scrolling dan mikir lama: “Daging ulama beracun, jangan macam-macam.”
Saya paham, ini metafora.
Niat awalnya mulia: mencegah umat sembarangan mencaci, memfitnah, dan merendahkan ulama.
Masalahnya, di tangan pendukung fanatik, metafora ini bermutasi:
bukan lagi pagar adab, tapi tameng hukum.
Seolah-olah: ulama = kebal kritik, ulama = kebal salah, ulama = kebal pidana
Padahal…
Nabi Muhammad saja ditegur Allah.
Surat ‘Abasa turun bukan buat siapa-siapa, tapi buat Rasulullah sendiri.
Kalau Nabi saja tidak ma’sum dalam urusan sosial, apalagi manusia biasa yang gelarnya “Ustadz” hasil fotokopi banner pengajian.
Ulama Bukan Ma’sum, Itu Konsensus
Dalam akidah Islam, ma’sum itu: para nabi dan rasul, dalam penyampaian wahyu
Ulama? bisa salah, bisa khilaf, bisa menyalahgunakan kuasa, dan… ya… bisa nyuruh santri mijitin
Ini bukan pendapat liberal, ini ijma’ ulama.
Imam Malik pernah bilang (parafrase): “Semua orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini.”
Sambil menunjuk makam Nabi.
Kasus Receh yang Mendadak Jadi Teologi Darurat
Ceritanya sederhana. Bahkan terlalu sederhana.
Seorang alumni pondok, baru keluar, lagi fase epifani receh.
Curhat ke ChatGPT: “Dulu saya disuruh mijitin dua ustadz, katanya biar berkah. Kadang dikasih uang 5 ribu.”
ChatGPT jawab datar: “Ini bisa masuk tindak pidana ringan.”
Bukan vonis.
Bukan laporan.
Bukan ajakan revolusi.
Cuma simulasi akal sehat.
Tapi…
di grup alumni, kiamat kecil terjadi.
Daging Ulama vs Daging Grup WA
Mayoritas alumni marah: “Ini tidak etis!”, “Masalah internal jangan diumbar!”, “Kamu mencoreng nama pondok!”
Bahkan ada yang naik level: “Datangi rumahnya. Hajar ala senior.”
Nah, ini menarik.
Yang: menyuruh kekerasan, mengancam fisik
merasa lebih suci
dibanding yang: curhat, pakai AI, tidak menyebut nama
🤣
Ironi Akademik: Yang Ditakuti Bukan Kezaliman, Tapi Terbongkarnya
Untungnya, pihak pondok waras.
Responsnya justru dewasa: mengakui ada praktik yang keliru, berjanji mendisiplinkan ustadz, minta postingan dihapus demi kondusivitas
Ini penting.
Karena ini menunjukkan: institusi bisa reflektif, ulama bisa dikoreksi, agama tidak runtuh hanya karena satu santri jujur
Yang runtuh justru: mitos “ulama selalu benar”, mental feodal berkedok adab
Adab Itu Menjaga Kebenaran, Bukan Menguburnya
Dalam ushul fiqh, ada prinsip:
Dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih
(Mencegah kerusakan didahulukan daripada meraih kemaslahatan)
Kalau praktik salah didiamkan: itu mafsadah
Kalau dikritik dengan adab: itu islah
Masalahnya, sebagian orang lebih cinta ketenangan palsu
daripada kebenaran yang sedikit berisik.
ChatGPT Jadi Kambing Hitam Modern
Lucunya, yang disalahkan malah: “kok curhat ke AI?”, “kok tanya hukum?”, “kok bawa-bawa pidana?”
Padahal AI cuma: menjawab logis, tanpa emosi, tanpa senioritas, tanpa “kamu anak siapa?”
Mungkin itu yang bikin takut: akal sehat yang netral.
Penutup: Ulama Dimuliakan, Tapi Tidak Disakralkan
Ulama itu: dimuliakan karena ilmunya, dihormati karena akhlaknya
Bukan karena: kebal kritik, kebal hukum, kebal refleksi
Kalau “daging ulama beracun” dipakai untuk: menutup kesalahan, membungkam korban, mengancam yang bertanya
Maka itu bukan adab.
Itu feodalisme beraroma agama.
Dan Islam…
terlalu besar
untuk diperkecil jadi grup alumni yang mudah tersinggung.
😅
0 komentar