Saya Alergi Da’i Viral (Mungkin Karena Saya Sok Dalam)

by - 12:00 AM

Saya mulai curiga pada diri sendiri ketika sadar: saya tidak pernah benar-benar takjub pada da’i viral. Bukan marah, bukan benci. Lebih ke… datar. Seperti melihat live commerce yang penjualnya teriak “CUAN! CUAN! CUAN!” tapi produknya ya gitu-gitu saja. Laku? Laku. Meyakinkan? Belum tentu.

Padahal saya hidup di dunia yang tahu betul bahwa kompetensi itu mahal. Dokter belajar belasan tahun sebelum berani memegang tubuh manusia. Sarjana hukum diasah lama sebelum boleh menyentuh nasib orang lain lewat putusan. Bahkan saya—yang cuma jago ngoceh di live commerce—baru bisa tenang bicara setelah jatuh bangun, dimaki pembeli, salah sebut ukuran, salah baca mood audiens, dan belajar mengatur napas sambil senyum palsu.

Lalu saya bengong sendiri: kenapa urusan kemanusiaan justru sering dianggap paling murah?
Cukup niat baik.
Cukup satu ayat.
Cukup berani naik mimbar.

Psikologi sosial sebenarnya sudah lama cerewet soal ini. Sejak Hannah Arendt (1963) menulis tentang banality of evil, kita diingatkan bahwa kerusakan besar sering lahir bukan dari niat jahat, tapi dari orang-orang biasa yang merasa sedang melakukan hal benar tanpa kapasitas refleksi. Dalam bahasa yang lebih santai: niat baik + tidak paham konteks = potensi bencana.

Ironisnya, hampir semua lulusan pesantren yang saya kenal justru tidak ingin jadi da’i. Mereka hidup biasa. Bertani. Berdagang. Ngajar anak. Membetulkan niat pelan-pelan. Mereka membawa kompas batin, bukan mikrofon. Dalam tradisi Islam klasik, ini bukan anomali. Imam Malik (w. 795 M) terkenal sangat selektif berbicara di ruang publik. Al-Ghazali (w. 1111 M) bahkan menulis panjang lebar tentang bahaya riya’ ilmiah: ilmu yang dipamerkan sebelum matang menjadi hikmah.

Sebaliknya, yang sering muncul ke permukaan justru figur yang pintar tampil. Pelawak yang hijrah. Mualaf yang kisahnya dramatis. Orang yang retorikanya rapi, tapi kedalamannya… ya, secukupnya. Tidak salah. Bahkan kadang bagus. Tapi problem muncul ketika popularitas disalahpahami sebagai otoritas.

Sosiolog Max Weber (1922) sudah menjelaskan soal otoritas karismatik: kekuasaan yang lahir dari pesona personal, bukan dari kompetensi atau struktur. Karisma ini efektif menggerakkan massa, tapi rapuh secara epistemik. Ia mudah salah arah, dan lebih mudah lagi dipertahankan dengan emosi daripada koreksi.

Di titik ini, saya harus jujur: saya juga bias. Sangat bias. Saya lebih percaya da’i yang tidak dibayar. Yang ceramahnya sepi. Yang lebih sering mendengar daripada bicara. Yang kalau salah, mukanya tidak defensif. Mungkin ini bias romantik. Mungkin saya terlalu curiga pada panggung dan kamera. Mungkin saya sok intelektual, sok “kedalaman batin”.

Dan saya tahu, bias ini juga bermasalah.

Karena kenyataannya, kami—yang merasa “waras”—sering hanya mencatat. Kadang menulis. Kadang nyinyir halus. Lalu mundur sambil bilang, “ya sudahlah, pasar mereka besar.” Dalam teori komunikasi, ini disebut spiral of silence (Noelle-Neumann, 1974): ketika orang yang ragu pada narasi dominan memilih diam karena merasa suaranya minoritas. Diam itu terasa elegan. Padahal, diam juga membiarkan bias tumbuh tanpa lawan.

Di sinilah kesedihan itu datang. Bukan pada para da’i viral. Tapi ke diri saya sendiri. Karena saya memilih da’i sunyi, tapi tidak cukup berani membela standar kedalaman di ruang ramai. Saya menikmati kajian petani yang tidak terkenal, tapi membiarkan mimbar publik dikuasai retorika dangkal. Lalu mengeluh pelan: kok umat begini?

Padahal, dalam Islam sendiri, kompetensi adalah syarat moral. Ibn Khaldun (1377) menegaskan bahwa ilmu tanpa malakah—kedalaman yang terbentuk dari latihan panjang—akan melahirkan kesimpulan mentah. Dalam psikologi modern, ini sejalan dengan riset Dunning & Kruger (1999): mereka yang paling kurang kompeten justru paling percaya diri berbicara.

Jadi mungkin masalahnya bukan siapa yang berdakwah. Tapi siapa yang kita beri panggung. Dan siapa—termasuk saya—yang memilih diam karena merasa “ah, capek debat.”

Saya masih akan mendatangi da’i sunyi. Masih akan belajar dari orang yang tidak viral. Tapi setelah menulis ini, saya tidak bisa lagi pura-pura netral. Karena netralitas tanpa keberanian hanya memperpanjang kekacauan dengan wajah sopan.

Dan ya, bisa jadi tulisan ini hanyalah cara saya membenarkan bias sendiri. Sarkasnya di situ. Tapi setidaknya sekarang saya tahu: kalau kemanusiaan memang perkara serius, maka ia layak diperlakukan seketat ilmu kedokteran dan hukum—bukan diserahkan pada siapa pun yang paling lantang menyebut niat baik.

Kalau itu terdengar elitis, mungkin memang begitu.
Tapi lebih elitis lagi menganggap hidup orang lain bisa ditata hanya dengan satu ayat dan suara paling keras.

You May Also Like

0 komentar