Malaikat di Plafon, Murid AI, dan Orang yang Terlalu Serius Menjaga Pintu Surga

by - 12:00 AM

Saya tidak pernah berniat jadi pintar. Apalagi jadi otoritas.

Saya cuma orang yang kepalanya agak longgar, jadi masih ada ruang buat duduk di pinggir sambil mencatat. Kadang catatannya receh. Kadang slapstick. Kadang malah muncul saat lagi nemenin anak minum susu, sambil nonton Larva, dan tertawa di bagian yang bahkan anak saya sendiri bilang, “Ayah kok ketawa sih?”

Di situ biasanya epifani datang. Bukan wahyu. Bukan pencerahan. Lebih mirip: “oh… ternyata begini toh bentuk kegelisahan yang bisa ditertawakan.”

Manusia punya banyak cara berdamai dengan batinnya. Ada yang menyanyi. Ada yang menulis puisi. Ada yang mengaji. Ada yang ziarah. Ada yang bikin meme. Ada yang nulis slapstick bareng AI.
Dan selama itu tidak dipakai untuk memukul orang lain, seharusnya aman-aman saja.

Masalahnya muncul bukan di ritualnya, tapi di kepala manusia yang ingin menjadikan ritualnya sebagai ideologi, lalu merasa perlu mengawasi cara orang lain bernapas.

Di titik itu, malaikat pun mungkin capek. Duduk di plafon, nyeruput kopi, mikir:
“Ini manusia kenapa semua mau diurusin, ya?”


Saya sering dengar kalimat ini, biasanya dengan nada sedikit naik di akhir:
“Belajarnya dari mana?”
“Lulusannya mana?”
“Ini murid YouTube ya?”
“Murid Google?”
“Murid AI?”

Padahal yang sedang dibicarakan bukan fatwa. Bukan hukum. Bukan tindakan medis. Bukan vonis halal-haram orang lain.
Yang dibicarakan cuma cara menata makna, supaya kepala tidak penuh sesak dan batin tidak meledak ke mana-mana.

Aneh rasanya. Seakan semua refleksi hidup harus punya ijazah.
Seakan makna hanya sah kalau keluar dari ruang kelas, bukan dari ruang tamu sambil nggendong anak.

Padahal nenek saya dulu tidak pernah kuliah tafsir. Tapi tahu kapan harus diam, kapan harus mendoakan, dan kapan harus membiarkan orang lain berjalan dengan cara yang berbeda. Itu ilmu juga. Tidak ada sertifikatnya, tapi efeknya panjang.


Saya tidak anti kajian. Saya masih ikut.
Saya tidak anti ulama. Saya hormat.
Saya tidak anti sekolah formal. Untuk hukum, kedokteran, dan ilmu yang menyentuh nyawa orang—otorisasi itu wajib. Jangan sok jadi dokter gara-gara nonton tutorial, nanti pasiennya bukan sembuh, malah jadi konten.

Tapi untuk ilmu umum, refleksi hidup, cara memahami fenomena agama dan budaya tanpa niat melumat, pertanyaan “lulusan mana?” sering kali lebih mirip penjagaan wilayah kekuasaan daripada pencarian kebenaran.

Lucunya, yang paling getol menanyakan asal-usul sering kali tidak sedang menguji isi, tapi hak bicara.
Bukan: “Apakah ini masuk akal?”
Melainkan: “Kamu berhak ngomong atau tidak?”

Dan di situlah interpretasi mulai berubah jadi senjata.


Saya belajar satu hal: interpretive overreach itu tidak selalu kelihatan galak. Kadang ia pakai baju saleh. Kadang membawa ayat. Kadang mengutip hadis. Tapi cara pakainya seperti palu.
Semua jadi paku.

Ayat perang dipakai buat marah.
Ayat poligami direduksi jadi akumulasi matematika.
Sunnah Rasul disempitkan jadi urusan biologis.
Hadis tentang relasi suami-istri dibaca literal, lalu dibayangkan malaikat nongkrong di plafon, mencatat siapa yang “tidak memberi jatah”.

Di titik itu, saya tidak marah. Saya justru terdiam.
Bukan karena saya lebih suci. Tapi karena saya membayangkan:
masa iya seluruh alam gaib direduksi jadi satpam ranjang manusia?

Agama yang luas, dalam, dan penuh hikmah, kalau direduksi, jadinya kecil.
Bukan salah teksnya. Salah cara membawanya.


Makanya saya paham kenapa ada orang berdamai dengan batinnya lewat cara yang aneh-aneh.
Ada yang minta diceritakan chapter One Piece di kuburannya.
Ada yang mengenang sahabat sambil nyanyi lagu yang isinya minum anggur.
Ada yang bikin meme.
Ada yang menulis receh.

Kalau dilihat dari luar, bisa saja kita nyengir dan bilang, “kok gitu sih?”
Tapi kalau dilihat dari dalam, itu sering kali cuma satu hal: usaha bertahan sebagai manusia yang berduka dan berpikir.

Islam sendiri tidak lahir untuk membunuh kejujuran batin. Ia datang untuk menertibkan, bukan membungkam. Mengarahkan, bukan memukul.
Dan menertibkan itu beda dengan menyeragamkan.


Saya tidak pernah usil ke ritual orang lain. Saya cuma mencatat.
Saya tidak merasa tercerahkan. Saya hanya merasa bisa lebih adil ke semuanya.

Kalau ada orang terlalu serius menjaga pintu surga, saya biasanya memilih duduk di pinggir.
Nulis.
Ketawa dikit.
Lalu minta maaf di dalam hati kalau sempat nyeletuk, “penangguran debat anime.”

Karena pada akhirnya, kita semua sedang belajar bernapas dengan caranya masing-masing.
Ada yang lewat kitab tebal.
Ada yang lewat kajian.
Ada yang lewat humor.
Ada yang lewat AI.

Dan mungkin, selama kita tidak menjadikan cara kita sebagai senjata, malaikat di plafon bisa istirahat sebentar.
Tidak perlu mencatat.
Tidak perlu melaknat.
Cukup senyum, lalu bilang pelan:

“Silakan. Rapikan kepalamu dulu. Tuhan tidak terburu-buru.”


You May Also Like

0 komentar