0816, Angka Keramat, dan Harapan Hidup yang Disematkan ke Kartu SIM

by - 12:00 PM

Saya mau jujur di awal:

saya bukan cuma pengamat fenomena “manusia memberi makna”.
Saya pelaku aktif, dengan bangga, sadar, dan kadang norak.

Contohnya nomor HP.

Saya punya kartu Indosat 10 digit.
Diawali 0816.
Buat saya: keren.
Bukan karena mistik. Bukan karena numerologi.
Tapi karena kalau ditanya petugas:

“Nomornya berapa, Pak?”
“0816 xxx xxx.”
Petugasnya nunggu.
Saya diam.
Petugasnya nunggu lagi.
Saya senyum.
“Udah, Pak.”

Di momen itu, tidak ada pahala.
Tidak ada hikmah.
Tidak ada makna kosmik.
Yang ada cuma ego kecil dielus:
wah, nomor gue pendek.

Padahal maknanya nol.
Cuma pragmatis: gampang dihafal.
Tapi otak saya tetap bilang: ini beda.


Istri saya lebih parah.
Kartu Halo.
0811.
Sepuluh digit juga.

Kalau saya bangga dalam diam, istri saya bangga sambil lalu.
Bukan dengan status bijak.
Tapi dengan WA yang isinya:
slapstick, ngedumel, kirim stiker, dan kadang misuh tipis.

Nomornya “keren”,
isinya chaos.

Dan itu sah-sah saja.
Karena ternyata: makna itu tidak pernah konsisten dengan realitas.


Yang bikin saya ngakak sekaligus heran:
nomor-nomor itu dulu murah.
Beli kartu kayak beli gorengan.
Sekarang?

Saya nyari nomor 10 digit buat anak.
Iseng.
Cuma mikir: “biar gampang dihafal.”

Eh…
jutaan.

Saya bengong.
Ini nomor atau kavling?

Ternyata dunia sudah naik level.
Bukan cuma pendek, tapi harus bermakna.

Akhiran 5757.
Dibilang: maju-maju.

Saya ketawa.
Tapi tetep beli buat tiga anak saya.
Karena meskipun saya ngetawain,
otak saya tetap bilang:
“ya siapa tau.”

Lalu ada level dewa:
5758 — maju mapan.

Harganya?
Puluhan juta.

Di titik itu, logika saya menyerah.
Ini kartu SIM, bukan jimat Sunan Kalijaga.

Yang lebih absurd:
nomor itu mau dipakai buat apa?

Nyari orderan.
Biar BEP beli kartunya.

Artinya:
kita beli harapan mahal,
supaya bisa balik modal,
dari alat komunikasi yang fungsinya:
halo-halo doang.


Tapi setelah ketawa, saya sadar sesuatu.

Manusia memang makhluk pemberi makna.
Dan sering kali makna itu tidak rasional,
tapi emosional.

Angka tidak membawa rezeki.
Nomor tidak menentukan nasib.
Tapi rasa “ini milik gue dan gue suka”
ternyata cukup untuk bikin hidup terasa lebih ringan.

Dan mungkin, itu fungsi sebenarnya.

Bukan agar angka bekerja.
Tapi agar kepala kita tenang.


Yang jadi masalah bukan memberi makna.
Saya kasih makna.
Istri saya kasih makna.
Orang lain juga.

Yang bahaya adalah saat kita lupa:
ini cuma makna buatan,
lalu marah ke orang lain yang tidak ikut percaya.

Kalau ada orang bilang:
“nomor bagus itu 5758, selain itu rezekinya seret.”
Nah, di situ baru perlu kita duduk di kursi Indomaret,
minum Le Minerale yang nggak dingin,
dan tarik napas.

Karena angka itu cuma angka.
Rezeki itu urusan lain.
Dan kartu SIM…
tetap saja akan hangus kalau lupa isi pulsa.


Jadi kalau hari ini saya bangga dengan 0816,
istri saya bangga dengan 0811,
dan anak-anak saya pakai 5757,
itu bukan soal takdir.

Itu cuma cara kecil manusia
menghibur diri di dunia yang ribet.

Dan jujur saja,
selama tidak memukul orang lain dengan makna kita,
receh seperti ini halal untuk ditertawakan 😁


You May Also Like

0 komentar